Untaian Cinta Ayunda

Untaian Cinta Ayunda
Bab 18 | Tumben Baik


__ADS_3

Sepulangnya dari pasar, Ayu mendapati mobil Brian sudah terparkir di garasi.


Ayu buru-buru masuk ke rumah untuk memasak sarapan untuk Brian.


"Tumben Brian datang secepat ini," gumam Ayu di sela langkahnya yang sedikit memburu.


Padahal waktu baru menunjukkan pukul enam pagi. Biasanya Brian akan datang pukul delapan atau sembilan. Itulah yang membuat Ayu sedikit bersantai dahulu di pasar tadi. Ia menikmati teh panas dan kue bolu gulung di kedai milik orang China di pasar tadi.


Brian duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Raut wajahnya mengisyaratkan kemarahan. Tapi bagi Ayu hal itu sudah biasa. Ia tak heran lagi dengan raut wajah suaminya itu yang tak pernah manis pada dirinya.


Saat melewati Brian, Ayu berjalan pelan menuju dapur tanpa menyapa sedikitpun, karena Ayu tak ingin dimarahi pagi ini. Anehnya Brian tak mengeluarkan perkataan pedasnya pagi ini.


"Sarapannya telat dibuat? Jangan salahkan saya! Siapa suruh anda tidak bilang datang lebih awal!" batin Ayu. Ia pun segera menyiapkan sarapan untuk suami yang lebih tepat dikatakan bosnya itu.


Selesai memasak, Ayu kembali ke ruang tamu untuk memberi tahu Brian kalau sarapannya sudah disiapkan.


"Bri, sarapannya udah aku siapin di meja makan. Kamu sarapan dulu sana, aku mau nyuci pakaian kamu dulu."


Brian tak menggubris perkataan Ayu barusan. Ia sedang melamun sembari menggenggam handphone-nya.


"Bri. Sarapannya udah siap," tegas Ayu sembari berjalan mendekat pada suaminya itu.


"Biarin aja! Gue nggak mood makan!"


Ayu menghembuskan nafasnya.


"Ya udah kalau kamu lapar nanti bilang aja ya, biar aku masakin," tawar Ayu lalu berjalan menuju kamar Brian yang tertutup.


Berulang kali memutar knop pintu nyatanya tidak terbuka. Brian tak memberitahu kalau kamarnya dikunci.


"Bri, kamarnya dikunci, ya?"


"Nih Lo ambil kuncinya, sekalian beresin kamar gue!" ujar Brian sembari mengangkat kunci kamarnya, sedangkan arah pandangnya pada lantai keramik putih di kakinya.


Setelah mengambil kunci, Ayu membuka pintu kamar suaminya. Ya begitulah tepatnya. Tak ada istilah kamar mereka berdua, karena sekali pun tak pernah Brian mengajaknya tidur di kamar ini.


Bagi Ayu kamar ini seperti tempat asing, yang hanya ia datangi saat mengambil pakaian kotor 3 hari sekali dan menyimpan pakaian yang sudah disetrika, serta membersihkannya seminggu sekali.


Dilihatnya kamar ini sangat berantakan. Seperti ada orang yang sengaja melakukan ini. Beberapa benda yang terbuat dari kaca juga pecah di lantai membuat Ayu harus berhati-hati saat berjalan.


"Apa Brian mengamuk tadi? Karena apa, ya?" batin Ayu heran melihat kamar itu bak kapal pecah.


Ayu pun mengambil sapu dan skop lalu mulai membersihkan pecahan kaca tersebut, lalu dibersihkan dan dirapikan seperti sediakala. Setelah itu barulah ia mencuci pakaian kotor Brian yang hampir satu keranjang.

__ADS_1


Tak ada sungut di bibir Ayu, ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya. Sedangkan Brian? Sangat jauh dari layak! Ia bahkan tak menghargai semua pelayanan yang telah Ayu berikan padanya selama ini.


Setelah selesai mengerjakan semuanya, Ayu kembali ke ruang tamu. Ia pikir Brian sudah masuk ke kamar, tetapi tidak. Ia sedang berbaring menonton di ruang tv menyaksikan tingkah laku bodoh tokoh kartun kotak berwarna kuning dan bintang laut yang bersahabat.


"Bri, kamu nggak ke kampus? Ini sudah jam sembilan pagi lho," ucap Ayu.


"Biarin aja, lagi malas!"


Ayu pun duduk dan turut menyaksikan kartun tersebut. Kini ia tak terlalu menaruh takut pada Brian. Ia mulai berani, bukan untuk melawan melainkan memulai komunikasi di antara mereka berdua.


"Kamu belum lapar?" tanya Ayu.


Brian hanya menggeleng. Ia keasyikan menyaksikan dua tokoh kartun yang bodoh dan konyol itu, sesekali terukir tawa di bibirnya.


Tak seperti biasanya Brian seperti ini. Biasanya ia tak pernah datang awal ke rumah, tak pernah malas ke kampus, tak pernah menonton tv di rumah, dan yang pasti tak biasanya ia melewatkan memarahi istrinya itu sekalipun Ayu berada di jalan yang benar.


"Bri. Aku mau minta ijin sama kamu," ucap Ayu pada suaminya itu.


Brian tak menggeleng sedikitpun seolah tak mendengar sama sekali.


"Bri ..." tegas Ayu.


"Hm... Mau minta ijin apaan? Lo mau kemana?" sahut Brian, sedangkan matanya tak berpindah dari layar televisi.


"Aku mau kerja lagi. Apa kamu ijinin?"


"Bu-bukan gitu, Bri. Aku bosan di rumah." Ayu berterus terang tentang alasannya ingin bekerja.


"Lagian apa susahnya sih duduk di rumah. Lo cuma masak, beresin rumah, cuciin baju gue, sama nyetrika baju gue doang," bantah Brian.


"Tapi aku kesepian di rumah! Kamu jarang pulang. Kalau malam aku sendiri, siang juga sendiri. Aku biasanya cuma ditemani seorang gadis kecil, itu pun jarang dia kemari."


"Apa kata Lo? Gadis kecil?!" selidik Brian sembari mendudukan posisinya dan menatap Ayu dengan serius.


"Aku bosan Bri di rumah, aku pengen juga sibuk."


"Siapa nama gadis kecil itu?"


"Namanya Risma."


"Ri-risma?"


Ayu hanya mengangguk mengiyakan. Sedangkan Brian kembali menunduk dan melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Kamu kenal dia?" tanya Ayu.


Brian hanya menggeleng. Ia sebenarnya tahu kalau Risma adalah almarhum kakaknya yang meninggal saat berumur 10 tahun karena terjatuh ke dalam sumur tua peninggalan Belanda di belakang rumah ini.


Namun, sementara waktu harus Brian rahasiakan dari Ayu agar istrinya itu tidak menaruh ketakutan berlebihan.


"Dia pernah gangguin Lo?" tanya Brian.


"Pernah sekali. Waktu itu kamu nggak ada di rumah. Risma datang mengagetkan aku. Aku lihat dia seperti orang yang sakit makanya aku berniat memberinya obat. Ketika aku kembali ia sudah tak ada lagi di kamarku, sedangkan kamarku sudah berantakan olehnya. Katanya ia tak mau dipanggil adik olehku, makanya dia marah, begitulah ceritanya padaku kemarin. Beberapa hari ini dia selalu datang saat Maghrib, katanya rumahnya nggak jauh dari sini." Ayu bercerita tentang beberapa kejadian yang terjadi padanya dan gadis kecil bernama Risma itu.


Brian awalnya nampak mendengar dengan seksama, lalu ia menunduk menatap lantai lagi.


"Ya sudah, aku ijinin kamu kerja, tapi jangan lupa kewajiban kamu di rumah ini!"


"Serius? Kamu benaran, Bri?" tanya Ayu dengan raut wajah kegirangan.


Brian mengangguk Ayu pun memasang wajah cerianya. Kini ia tak takut sepi lagi karena Brian sudah memberi ijin untuknya kembali bekerja.


Besok Ayu akan pergi ke caffe milik Dirga untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Barangkali masih ada slot untuknya. Namun, Ayu tak mengharapkan sepenuhnya lowongan pekerjaan dari Dirga, yang penting ia bisa bekerja dan membuang kesepian dan kejenuhan dalam dirinya di manapun ia bekerja tetap akan dilakukan.


"Ya udah gue masuk ke kamar dulu. Lo matiin TV, habis itu Lo masakin gue ayam rendang untuk makan siang, sekalian sop tulang! Kalau udah selesai bangunin gue!"


"Iya, Sayang!" reflek Ayu mengucapkan hal itu membuat Brian menoleh cepat ke arahnya.


"Eh... I-iya, Bri," jawab Ayu menyengir kuda dan raut wajahnya menunjukkan rasa malu terlihat pipinya memerah semu.


Di kamar, Brian tidak tidur melainkan menghubungi mamanya, Diana.


Melalui pesan tertulis Brian menceritakan kejadian yang dialami Ayu pada Mamanya.


[Ma, kayaknya rumah yang kami tinggali nggak aman deh. Ayu sering didatangi almarhum kakak. Meskipun nggak ganggu, Bri khawatir ke depannya kalau Ayu tau yang sebenarnya, Ayu jadi ketakutan di rumah sendiri. Sedangkan mamah kan tau Bri jarang di rumah karena sibuk kuliah.]~Brian.


Tak butuh waktu lama, pesan langsung dibalas.


[Iya, Bri. Mama juga ada yang mau diomongin


Besok kita ketemu di restoran xx, sekalian ajak Ayu. Jam 12 siang mamah sama papah tunggu kalian.]~Diana.


[Iya,Ma.]~Brian.


Brian mematikan ponselnya dan berbaring di atas kasur. Raganya berbaring dan beristirahat tapi tidak dengan pikirannya.


Banyak hal yang dipikirkan. Tentang kuliah, tentang masa depan, tentang asmara, tentang almarhum kakaknya, dan lain-lain. Semuanya rebutan berada di kepala.

__ADS_1


Di dapur, Ayu sangat senang hari ini. Sekian lama ia menunggu Brian ada di rumah dalam waktu yang cukup lama akhirnya kesampaian juga. Entah pertanda apa Brian berada di rumah ini lebih dari 2 jam, biasanya hanya satu jam lalu pergi lagi, seperti burung masuk ke rumah lalu pergi lagi secepatnya.


Ayu harap ini jadi awal yang baik. Semoga Brian bisa seperti ini terus. Setidaknya ayu tak harus merasakan kesepian sepanjang hari, meskipun Brian tak menyapa atau mengajaknya berbicara, hadirnya Brian di rumah ini sudah cukup menyejukkan hatinya.


__ADS_2