
"Bi Arum!" panggil Diana.
"Ya, Bu!"
Seketika Bi Arum datang mendengar suara panggilan Diana untuknya.
"Tolong kemasi piring-piring kotor ini, ya!" perintah Diana.
"Baik, Bu."
Bi Arum pun mulai mengemas piring bekas majikannya makan malam, setelah itu ia berpamitan ke belakang.
"Jadi begini, berhubung Ayu sudah kembali ke rumah ini, jadi Papa sama Mama ingin mempercepat pernikahan kalian, Bri. Kami tidak mau kamu mengulangi lagi kejadian semalam, Papa dan Mama mau kamu secepatnya menikahi Ayu." Roby langsung masuk ke topik pembicaraannya.
Sejenak Brian terlihat diam.
"E... Memang terlalu cepat, Pa, Ma. Tapi kalau itu yang kalian inginkan, Bri siap kok." Seolah tak berpikir lagi, Brian mengiyakan rencana kedua orang tuanya. Padahal sejujurnya ia tak mau.
Ayu tentu terkejut dengan kata-kata dan perubahan sikap Brian, baru semalam Brian kasar padanya, sekarang malah baik.
"Mungkin dia sudah bisa menerima aku di sini," batin Ayu, ia merasa senang bila hal itu benaran terjadi. Tetapi hal itu sangat mustahil, apalagi Brian mengatakan kalau ini adalah akting, jadi ia tak boleh terbawa perasaan.
"Baguslah kalau begitu. Kalau kayak gini kan enak Papa sama Mama dengerinnya. Papa bukannya mau memaksa kamu, Bri. Tapi papa mendidik kamu supaya jadi laki-laki yang bertanggung jawab," ujar Roby sembari tersenyum.
Brian pun turut senyum, tetapi dalam hatinya, ia sudah mempunyai rencana busuk untuk menghancurkan Ayu. Biarlah sekarang ia mengalah, karena bila ia menolak, Papanya tak segan untuk mengusirnya dari rumah, tidak menutup kemungkinan juga papanya tidak akan menyerahkan aset perusahaan kepada dirinya. Oleh karena itu, Brian berusaha mengambil hati kedua orang tuanya.
"Kamu gimana, Yu? Siap kan kalau pernikahan kalian dilaksanakan lusa?" tanya Diana pada Ayu yang sedari tadi hanya diam.
"Apa Ma? Lusa?!" Brian langsung menyela dengan nada terkejutnya.
"Iya, Bri. Kamu Keberatan?" ujar Diana sembari mengangguk.
"Ng-nggak kok, Ma." Brian hanya tersenyum. Hatinya terus merutuk, makin tak suka pada orang tuanya dan yang pasti Ayu yang sekarang duduk di sampingnya.
"Aku harus bagaimana mengatakannya pada Caca? Dia pasti sangat marah kalau tau aku akan menikah, terlebih dengan cewek kampungan ini!" batin Brian kesal.
"Kamu sendiri, Yu?" tegas Diana lagi.
"Sa-saya hanya mengikuti saja, Ma."
Mendengar jawaban manut dari Ayu, Diana dan Roby tersenyum puas.
"Ma, Pa, bolehkah Bri minta dua hal untuk pernikahan kami nanti?" pinta Brian.
"Apa itu Bri?" sahut Roby.
"Yang pertama, Bri mau pestanya kecil-kecilan saja. Yang kedua, Bri mau setelah kami menikah, kami punya rumah sendiri," ujar Brian menyampaikan permintaannya.
Sejenak Roby berpikir, "sebenarnya papa mau pestanya digelar besar-besaran karena kamu kan tau sendiri reputasi Papa di kota ini. Dan lagi, kamu putra satu-satunya Papa. Tapi kalau kamu maunya begitu papa turutin," ujar Roby.
"Mama juga sebenarnya keberatan kalau kalian tinggal sendiri kalau sudah menikah nanti, karena tidak ada yang menemani mama kalau di rumah," sambung Diana.
"Biarkan kami hidup mandiri, Ma!" sahut Brian.
"Ya sudah, kalau memang seperti itu yang kalian inginkan, kami turuti, yang penting kamu harus bertanggung jawab pada Ayu dan keluarga kamu nantinya," nasihat Diana.
Setelah berbincang mengenai pernikahan dadakan itu, mereka kembali ke kamar masing-masing.
Pernikahan ini nantinya digelar hanya kecil-kecilan saja. Hal itu atas permintaan Brian sendiri, yang penting sah katanya. Orang tuanya pun menuruti kemauan Brian.
Dalam kamarnya, Brian mengepalkan kedua tangannya dan melepaskan bogem berulang kali pada guling di atas kasurnya.
Buk buk buk!
"Sialan!!"
__ADS_1
"Seandainya Lo nggak masuk ke kamar malam itu pasti gue nggak bakalan kayak gini!! Arghhhh!!!"
"Dasar cewek j*lang! Liat aja setelah menikah gue buat hidup Lo sengsara! Lo udah hancurin mimpi gue! Lo ganggu hubungan gue sama Caca! Lo memang brengsek!!"
"Gue pastiin Lo m*ti tersiksa di tangan gue!!"
"Gue benci sama Lo cewek kampungan! J*lang! Genit! B*bi Lo!"
Kata-kata cacian Brian ucapkan untuk meluapkan semua emosinya pada Ayu. Sedari tadi ia menahannya, kini ia tak tahan lagi mengeluarkan unek-unek tersebut.
Beruntunglah semua kamar di rumahnya dilengkapi peredam suara sehingga suara teriakan tak terdengar sampai ke kamar lainnya.
Sementara itu, di kamar tamu, Ayu tak henti bertanya akan sikap Brian yang berubah menjadi lebih baik.
"Dia tidak mungkin jatuh cinta padaku, kemarin aku melihatnya dengan wanita lain sedang bermesraan," gumam Ayu.
"Aku takut sandiwara ini berlangsung sampai aku menjalani biduk rumah tangga bersamanya nanti," cemas Ayu.
"Tapi kuharap, setelah menikah nanti dia bisa berubah. Memang tidak instan, tapi Aku berusaha untuk mengerti dirinya. Aku tau aku menghancurkan mimpinya, tapi aku juga berharap bisa terlibat mewujudkan apa yang seharusnya menjadi takdir dia. Dia yang kucinta, Brian Harvigo."
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali rumah sudah ramai dengan persiapan pernikahan Brian dan Ayu.
Tak banyak yang diundang, hanya keluarga dan kerabat terdekat yang hadir dalam pernikahan nanti. Itu pun hanya kerabat ayahnya saja.
Brian tak mau mengundang teman-teman kampusnya. Bahkan dua sahabat dekatnya, Roy dan Hans pun tak diundang, semua itu Brian lakukan untuk menutupi pernikahannya dengan Ayu, kalau sampai ketahuan teman-teman kampusnya, maka sudah dipastikan ia akan menjadi bahan gosip selingkungan kampus.
Sebetulnya menikah di masa kuliah memang bukanlah aib seperti saat SMA, tetapi tetap saja Brian malu kalau ketahuan menikah saat ini. Yang ia inginkan saat ini yaitu belajar dengan sungguh-sungguh, karena ia akan menjadi penerus perusahaan properti milik papanya suatu saat nanti.
Tetapi musibah malam perpisahan itu membuat semua rencananya hancur berantakan. Brian merasa kehilangan kendali karena kejadian itu di luar dugaannya.
Oleh sebab itu rasa bencinya pada Ayu sangat besar. Gadis itu menjadi penghancur semua mimpinya.
"BRI, bangun! Ayo kita ke butik beli baju untuk besok," ajak Diana.
"Nggak ah, Ma. Bri nggak mau," tolak Brian sembari meregangkan tubuhnya di atas kasur.
Brian tak bergerak sedikitpun dari tidurnya, ia kembali melanjutkan tidurnya tanpa memperdulikan sang Mama yang saat ini duduk di dekatnya.
"Ini anak bukannya bangun malah tidur lagi!" kesal Diana. Ia lantas turun ke ruang tamu, melihat persiapan ruangan untuk acara pernikahan putra mereka besok.
Melihat Ayu yang turut membuatkan dan mengantarkan minuman untuk para pekerja, Diana pun memanggil menantunya itu.
"Yu!"
Ayu menoleh mendengar namanya dipanggil.
"Iya, Ma," jawab Ayu.
"Kamu nggak usah ikut melayani para pekerja, kamu istirahat saja di kamar, nanti kita akan ke butik untuk membeli gaun pernikahan besok," ujar Diana.
"Nggak papa kok, Ma. Ayu sudah biasa kok menjadi pelayan seperti ini," jawab Ayu.
"Nggak boleh! Pokoknya kamu harus istirahat!" paksa Diana.
"Tapi Ma-"
"Nah, mending kamu bangunkan calon suamimu di kamarnya," perintah Diana.
Takut. Itulah yang Ayu rasakan mendengar nama Brian. Apalagi disuruh membangunkannya.
"Yok, nggak usah melamun, Brian di kamarnya, suruh dia bangun, kita akan pergi ke butik sebentar lagi," ujar Diana.
"Ba-baik, Ma." Tidak ada alasan lagi untuk Ayu menolak.
Dengan sedikit keberanian, dan lebih banyak ketakutan, Ayu naik ke lantai dua.
__ADS_1
Kamar Brian tidaklah sulit untuk mencarinya. Mulai dari pintu sampai ke aksesoris kamarnya berwarna gelap.
Tok tok tok!
Tidak ada jawaban, akhirnya Ayu memilih memutar knop pintu. Tak terkunci sama sekali.
Ayu pun masuk ke kamar itu dan memperhatikan seluruh isi kamar itu.
Aroma manly langsung menusuk indera penciumannya. Sangat wangi bagi ayu. Desain kamar yang elegan dan tatanan barang yang rapi membuat kamar ini sangat nyaman.
Bila dibandingkan dengan kamarnya di kampung, maka kamar Brian ini sungguh mewah. Kasurnya juga empuk, sangat bertolak belakang dengan kasurnya di kampung yang sangat keras. Bila terlempar dua meter saja dari atas maka bisa-bisa tulang belakang jadi patah saking kerasnya kasur tersebut.
Wajar saja bila Ayu tak bisa mendapatkan fasilitas yang nyaman saat tinggal di kampung karena semua yang ia dapatkan adalah bekas dari anak Pak Harun. Ayu pun mengerti akan posisinya sebagai orang yang numpang tinggal di situ, oleh karena itu ia tak pernah meminta.
"Ngapain Lo celingak celinguk di kamar gue! Mau maling!" ujar Brian dari atas kasur.
"Ng-nggak, kok," jawab Ayu gugup.
Brian bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati Ayu yang saat ini berdiri di dekat pintu.
Dalam hati Ayu merasa waspada, takut Brian marah lagi padanya. Ekspresi wajahnya terlihat ketakutan. Ia tak berani mengangkat kepalanya sama sekali.
Brian berjalan semakin mendekat padanya. Kaki Ayu kini kian gemetar.
Akhirnya Brian melewati dirinya untuk mengunci pintu. Ceklek!
Setelah itu, Brian memperhatikan Ayu dari ujung kepala hingga ujung rambut. Tatapannya tak tertebak, Ayu jadi takut.
Seketika Brian mengangkat tubuh Ayu. Ayu tentu menolak, "jangan!! Saya tidak mau!"
Brian tak peduli akan penolakan Ayu. Brian lantas menghempaskan Ayu ke atas kasurnya. Lalu menindih tubuh Ayu, dan mengunci tangannya di atas kepala, tatapannya terlihat sangat haus.
Brian menatap setiap jengkal wajah Ayu. Keduanya saling tatap dalam waktu yang cukup lama.
Sumpah, ini adalah peristiwa yang mengegarkan bagi Ayu. Detak jantungnya tak karuan, perasaan senang dan takut bergabung menjadi satu.
"Ja-jangan, Saya tidak mau!" mohon Ayu.
Brian lantas tersenyum remeh, "Haha, Lo kira gue mau sama cewek kayak Lo?! Lo bukan tipe gue, jangan geer!"
Brian lantas menyingkirkan tubuhnya dari Ayu.
Ayu pun bangkit dari posisinya, dan berdiri dengan wajah tertunduk sembari membenarkan pakainya.
"Kenapa Lo kemari? Mau minta dicolokin?" tuduh Brian.
"Dicolokin?" batin Ayu, ia tak paham dengan maksud Brian.
"Sa-saya disuruh mama membangunkan kamu, karena sebentar lagi kita akan pergi ke butik," ujar Ayu.
"Huftt Mama! Iya deh, Lo buruan keluar! Sakit mata gue lama-lama liat Lo, nanti gue habisin nyawa Lo, pergi sana!" usir Brian.
Ayu pun meninggalkan kamar Brian. Akhirnya, Ayu bisa bernafas lega setelah melewati masa menegangkan dalam hidupnya, yaitu membangunkan singa yang sedang tertidur.
Untunglah singanya kali ini tak terlalu ganas, meskipun ia tadi hampir saja diterkam oleh singa jantan tersebut, tetapi ia berhasil melepaskan diri.
Siangnya mereka pun pergi ke butik. Brian nampak tak semangat, berulang kali Diana mengajaknya berbicara, oleh Brian hanya dijawab secara singkat saja.
Ketika diminta memilih baju pun Brian tak banyak pilih seperti biasanya. Ia cenderung pasrah.
"Kamu kenapa sih, Bri? Kok nggak ceria gitu!" tanya Diana saat di dalam mobil ketika perjalanan pulang.
"Nggak kok, Ma. Bri baik-baik aja." Brian fokus menyetir mobilnya.
"Kalau mau menikah tuh harus ceria, jangan murung!" cecar Diana.
__ADS_1
"Iya, Ma," jawab Brian singkat.
"Apa mama nggak peka? Brian capek, Ma. Brian nggak mau nikah dulu, Brian masih muda, apa Mama nggak bisa liat kalau Bri terpaksa menikah?" batin Brian.