
Udara terasa sangat dingin pagi ini. Langit memamerkan hitam pekat pertanda akan turun hujan.
Ayu lantas beranjak dari kasur dan merasakan nyeri di ar*a kewani*aannya akibat ulah Brian kemarin.
Sedikit menahan sakit, Ayu lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan dilanjutkan dengan memasak sarapan untuk Brian.
Meskipun merasa kesal pada lelaki itu, setidaknya ia tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Setelah peristiwa kemarin, Brian tak kunjung pulang. Bahkan Ayu mendambakan sosok itu mendekapnya erat saat tidur dan mengecup keningnya saat bangun pagi. Tapi semua itu adalah hayalan belaka, sebab itu tidak mungkin terjadi.
Ayu pun mulai mengolah bahan dapur untuk membuat sarapan untuk Brian. Setiap pagi hari Brian akan datang untuk sarapan dan berganti pakaian, lalu pergi lagi sampai besok hari. Begitu seterusnya tanpa ada perubahan.
Kadang Ayu ingin marah dengan sikap Brian. Tapi bila ia marah maka Brian akan lebih marah lagi padanya dengan alasan ngerjain tugas kuliah jadi harus bareng teman-temannya.
Hujan yang sedari tadi tertahan akhirnya turun juga. Curahan air yang sangat lebat itu membuat Ayu merasa cemas karena Brian tak kunjung datang.
Udara semakin dingin. Ayu memangku kedua tangannya di dada dan memperhatikan dengan seksama air yang turun dari genteng mengalir di jendela.
"Huh, dingin sekali!" keluh Ayu lalu menggosok kedua telapak tangannya dan ditempelkan ke pipinya untuk memperoleh kehangatan.
Petir terdengar menggelegar. Meskipun bunyinya tidak keras. Hujan semakin lebat, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
"Brian mana, ya? Kok nggak datang juga," gumam Ayu sembari menantikan mobil hitam milik Brian memasuki kawasan rumah, tapi sayang sampai detik ini pun tak ada tanda-tanda kedatangan suaminya itu.
Ayu lantas masuk ke kamarnya dan membaringkan lagi tubuhnya ke atas kasur. Dengan memiringkan tubuhnya, ia memandangi foto Brian dengan tersenyum.
Lelaki itu sangat memikat hatinya. Ia jatuh cinta pada lelaki itu. Meskipun setiap hari ditinggalkan dan kala malam tanpa pelukannya Ayu tetap mencintainya.
Perihal peristiwa kemarin, sejujurnya Ayu tak menyesal, hanya saja Brian melakukannya tanpa cinta. Itu yang Ayu khawatirkan. Ia tak mau hanya menjadi pemuas nafsu, meskipun untuk suaminya sendiri. Yang ia inginkan Brian melakukan itu penuh dengan cinta tanpa harus menyudutkan dirinya lagi. Ia ingin dianggap istri seutuhnya, bukan pembantu dan budak se*s saja.
"Kamu kenapa senyum?"
Tiba-tiba suara anak kecil dari arah belakangnya menanyakan hal itu padanya.
Ayu tentu terlonjak kaget. Ia pun membalikkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya.
"Ka-kamu siapa?" tanya Ayu dari balik selimut dengan perasaan takut.
Tak ada jawaban dari gadis kecil itu.
Ayu memberanikan dirinya mengintip dari selimut. Ternyata masih ada di situ.
Ayu pun keluar dari selimut dan bangkit duduk. Ayu tak lagi berfikir itu adalah hantu, sebab hantu tak mungkin masih stand by dan berdiri di lantai.
Ditatapnya lamat-lamat wajah imut gadis itu, yang sedari tadi menatap dirinya dengan tatapan datar.
"Hei... Maafkan kakak. Kakak kira kamu siapa," ujar Ayu membuka pembicaraan di antara mereka. Tak ada rasa takut lagi karena yang ia lihat di hadapannya kini sungguh-sungguh manusia.
"Kamu dari mana? Rumah kamu di mana?" tanya Ayu penasaran. Setau dirinya di sekitar sini tak ada tetangganya yang punya anak kecil perempuan.
Tak ada jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan.
Ayu lantas mengangkat tubuh mungil itu ke atas kasurnya. Gadis kecil itu masih menatapnya intens. Ayu jadi salah tingkah dibuatnya.
__ADS_1
"Ada yang salah dari kakak? Kok kamu liat kakak kayak gitu?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Katakan pada kakak, rumah kamu di mana?" Berulang kali Ayu bertanya tetapi tak kunjung dijawab.
"Ya sudah, kalau kamu nggak jawab pertanyaan dari kakak, kakak tidak lagi bicara denganmu, adik kecil."
"Jangan panggil aku adik kecil!" gusar gadis kecil itu sambil tak henti menatap Ayu.
"Hei... Kamu adik kecil yang sangat cantik, kakak panggil adik kecil karena kamu memang masih kecil," ucap Ayu sembari mencubit halus hidung gadis itu.
"Panggil aku Kakak!" serunya.
"Tapi kamu lebih pantas kupanggil adik." Ayu merasa gemas pada gads kecil itu.
"Panggil aku Kakak!" ulangnya lagi.
Ayu menghela napasnya. Ia menyerah karena gadis kecil ini bersikeras tak mau dipanggil adik padahal jelas sekali ia masih anak-anak.
"Ya sudah, sekarang kakak rumahnya di mana? Kok main ke sini hujan-hujanan?"
Gadis kecil yang tak mau dipanggil adik itu menunjuk ke arah belakang rumah, padahal yang Ayu tau tak ada rumah di belakang sana.
Di belakang rumah ini hanya ada beberapa pohon besar dan sebuah sumur tua peninggalan kolonial Belanda.
Ayu menatap bingung gadis itu.
Gadis kecil dengan rambut panjang terurai itu hanya menggeleng.
Bagi Ayu tak mungkin seseorang dilahirkan tanpa nama. Bahkan seorang yatim piatu pun memiliki nama.
"Kamu keliatan pucat, kamu sakit?" tanya Ayu semakin peduli padanya.
Wajahnya terlihat pucat, tatapan matanya datar, bahkan dress yang digunakannya nampak kotor. Namun, yang ditanya malah menggeleng lagi.
Ayu semakin bingung. Anak siapa dia sebenarnya? Apa dia tak punya orang tua? Kalau demikian ayu berinisiatif menjadikannya anak angkat untuk menemani dirinya di rumah.
"Sepertinya kamu sakit, saya ambilkan obat dulu di lemari kamar suami saya, kakak tunggu di sini, ya!" pinta Ayu lalu segera meninggalkan kamarnya untuk mengambil kotak P3K di kamar Brian.
Setelah mengambil kotak obat, ayyu kembali ke kamarnya. berapa terkejutnya ia saat melihat kamar tempatnya tidur sudah berantakan. Bantal sudah berserakan di lantai begitu juga dengan sprei, lampu tidurnya jatuh ke lantai dan pecah, bahkan Ayu tak mendengar sama sekali suara kekacauan dari kamarnya.
Hanya sebentar saja ia meninggalkan gadis kecil itu di kamarnya.
Meskipun terlihat berbeda dari anak seusianya, tapi Ayu yakin sosok yang tadi bersamanya pasti manusia, bukan makhluk halus.
Sayangnya Gadis kecil itu kini hilang! Ia pergi meninggalkan kamar Ayu yang berantakan. Diyakini dialah penyebabnya.
Ayu segera keluar dari rumahnya dan tak melihat siapa-siapa di luar. Tanda-tanda gadis kecil itu keluar pun tidak ada. Dilihatnya sekeliling rumah yang masih basah, juga tak ada tanda-tanda gadis itu keluar. Seluruh ruangan rumah juga tak ada. Jadi ke mana perginya?
Ayu jadi penasaran dengan gadis kecil itu. Jika hantu tak mungkin bisa dipegang, bahkan dirinya tadi sudah mengangkat tubuh mungilnya ke kasur dan mencubit hidungnya.
Ingin bertanya pada tetangga, tetapi hujan tak kunjung reda.
__ADS_1
Ayu pun mulai berkemas dalam kamarnya. Ia pikir setelah hujan ia akan bertanya pada tetangga di sekitaran sini.
Karena sedikit kelelahan, Ayu membaringkan tubuhnya dan tertidur pulas siang ini. Melupakan gadis kecil yang hilang secara tiba-tiba itu.
...*****...
Suara anak kecil bermain ayunan di bawah pohon nampak riang dan gembira.
Berulangkali rambut panjangnya terangkat akibat hembusan angin.
Ayu mendekat dan tersenyum melihat seorang gadis yang nampak riang melambung-lambung di atas ayunan.
Melihat Ayu menontonnya bermain ayunan, ia pun berhenti dan turun dari ayunan lalu menghampiri Ayu yang tengah menyadar di bawah pohon lainnya.
Ia mendekat sambil tersenyum. Wajahnya nampak pucat dan bajunya kotor.
"Jangan panggil aku adik kecil lagi. Panggil aku Kakak. Aku akan marah saat kamu panggil aku adik!"
Ayu hanya mengangguk.
"Namaku Risma Halruna Harvigo. Panggil saja Risma," ujarnya dan Ayu masih mengangguk.
"Mau tau rumahku?" tanyanya dan Ayu mengangguk.
Ditariknya tangan Ayu dan dituntunnya menuju sebuah sumur, lalu ditunjukkannya pada Ayu rumah tempat tinggalnya.
"Ayo masuk," ajak Risma.
"Nggak mau, Kak. Sumurnya dalam banget!" tolak Ayu.
"Ayo ikut!!" paksanya sembari menarik tangan Ayu untuk masuk ke dalam sumur.
Berulang kali Risma menarik lengannya, berulang kali juga ayu menolak dan memberontak. "Nggak mau!"
Sampai akhirnya Ayu tak mampu menahan kuatnya tarikan Risma dan ia merasa terjun bebas ke dalam sumur tersebut dengan perasaan takut dan cemas.
Gleppp!
Ayu tersadar dari tidurnya bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka.
"Hebat ya Lo! Udah siang gini masih tidur!" gusar Brian.
Ayu segera beranjak dan melihat jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Hujan juga sudah reda, bahkan matahari kini panas terik menyinari bumi.
Ayu barusan bermimpi. Mimpi itu tak lain adalah tentang gadis kecil itu.
"Maaf, tadi aku kecapekan habis kemasin kamar. Kamu mau makan apa? Biar aku masakin."
Brian tak menjawab sama sekali sampai akhirnya ia keluar dari kamar Ayu dengan amarah yang memuncak karena tak ada makan siang di atas meja, hanya ada sepiring nasi goreng telur mata sapi yang sudah dingin.
Ayu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tau Brian marah padanya. Ayu pun segera ke dapur dan memasak untuk suaminya itu.
__ADS_1