
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya. Seorang pria dengan kemeja putih turun dari mobil tersebut sambil mengedarkan payung dan segera menghampiri Ayu.
"Ayo naik ke mobil saya," tawar pria tersebut.
Ayu sejenak memperhatikan pria tersebut. dengan perasaan was-was, Ayu pun menolak.
"Tidak usah, Tuan. Saya terlanjur basah," tolak Ayu.
"Tidak apa-apa, ayo naik," ujar Pria tersebut sambil membuka pintu belakang mobilnya.
Mulutnya mungkin bisa terus menolak, tapi badannya tak bisa menolak lagi karena kedinginan, akhirnya Ayu pun ikut bersama pria asing itu.
Pria itu sepertinya pria yang baik. Ia memberikan sehelai handuk untuk Ayu lalu menyalakan dan menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Nama kamu siapa?" tanya Pria itu.
"Nama saya Ayu, Tuan."
"Jangan panggil saya Tuan, saya masih muda, kok. Saya Dirgantara, panggil saja Mas Dirga."
"Maaf Mas Dirga."
Dirga hanya tersenyum melirik ke arah pantulan cermin di wajahnya.
"Kamu mau ke mana? Kok hujan-hujanan?" tanya Dirga.
Ayu hanya Diam. Ia tak tahu ke mana harus pergi, untuk pulang ke kampung halamannya ia tak punya uang, dan lagi ia tak tahu ke mana arah jalan kampung halamannya.
"Ayu!" sergah Dirga.
"Sa-saya mau pulang kampung."
__ADS_1
Dirga mengerutkan keningnya. "Emangnya kampung kamu di mana?"
"Di desa Sukarama."
"Itu jauh sekali, besok saja kamu lanjutkan perjalanannya," saran Dirga.
"Kamu ke sini ngapain? Harusnya kalau mau pulkam jangan malam-malam begini, mana hujan lebat lagi."
"Turunkan saja saya di sini mas Dirga, saya nggak mau ngerepotin Mas Dirga," pinta Ayu.
"Lho, yang bilang ngerepotin siapa? Nggak ngerepotin kok. Besok saja kamu lanjutkan perjalanannya. Lagipula tidak ada kendaraan menuju desa malam-malam begini."
"Lalu mas Dirga mau bawa saya ke mana?" tanya Ayu khawatir, apalagi di kota seperti ini, Ayu takut pria ini berlaku macam-macam padanya. Meskipun terlihat baik, tapi Ayu tetap harus waspada.
"Tenang saja, saya tidak akan berbuat jahat pada kamu, saya sudah bertunangan," ujar Dirga sembari menunjukan jarinya yang berhias cincin tunangan.
"Nanti saya antar kamu ke penginapan di dekat sini, besok baru kamu lanjutkan perjalanannya."
"Tapi Saya tak punya uang untuk membayar penginapan," tolak Ayu.
Ayu kelimpungan menjawabnya. Haruskah ia berterus terang tentang semuanya? Apalagi Dirga orang asing baginya, meskipun terkesan baik, ia tak boleh percaya begitu saja pada orang yang baru dikenalinya.
"Saya sebenarnya mau mencari pekerjaan di sini, karena tidak ada makanya saya memilih pulang kampung lagi," jelas Ayu berbohong.
"Wah, kebetulan sekali saya memerlukan karyawan untuk membantu melayani pelanggan di caffe saya, apa kamu mau?"
"Maaf mas, saya perempuan baik-baik, saya mencari pekerjaan yang halal, bukan pekerjaan maksiat seperti itu," tolak Ayu dengan keras, meskipun dari desa ia tak mau bekerja rendahan seperti itu.
Dirga menahan tawanya, akhirnya tawa itu terlepas juga.
"Hahahaha..."
__ADS_1
Ayu kebingungan Lantaran Dirga malah tertawa mendengar penjelasannya.
"Yu yu, saya punya usaha 'caffe' bukan 'Kape' jadi caffe itu tempat santai yang memiliki makna tempat yang baik, bukan tempat remang-remang yang berisi wanita penghibur," jelas Dirga sambil tersenyum menahan tawanya.
Ayu awalnya malu-malu karena ia salah persepsi.
"Yang benar, Mas? Kalau gitu saya mau kok," ujar Ayu, meskipun kedatangannya kemari bukan untuk bekerja, tapi ia rasa ini bisa menjadi awal yang baik baginya, daripada harus kembali menjadi budak keluarga Pak Harun di desa sana.
"Yaudah besok kamu boleh langsung bekerja. Malam ini saya antar kamu ke penginapan, saya yang akan bayarkan, besok pagi siap-siap lah, jam 7 pagi saya jemput lagi ke mari."
Dirga dan Ayu lantas turun dari mobil menuju penginapan, hujan pun mulai reda, meskipun masih terasa butiran air turun dari atas sana.
Setelah mengurus administrasi penginapan untuk Ayu, Dirga pun kembali menuju apartemennya.
Dalam kamar penginapan. Ayu berganti pakaiannya yang basah karena habis diguyur hujan. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu.
"Mas Dirga baik sekali, seandainya Brian bisa bersikap seperti itu mungkin rasa cinta ku padanya semakin besar."
"Ah, betapa gilanya aku jatuh cinta pada pria seperti Brian. Pria itu jahat! Aku benci padanya!" gumam Ayu dengan raut wajah kesal.
Ayu teringat pada saat pertama kali ia melihat Brian datang ke desanya.
Perawakan Brian yang tampan membuat banyak gadis desa yang luluh pada parasnya yang rupawan.
Brian juga sangat ramah pada penduduk desa, termasuk pada dirinya. Ayu terkagum-kagum akan pesona Brian yang nampak cerdas.
Brian pria pertama yang berhasil memikat hatinya. Meskipun Ayu mengaguminya, Ayu tak mau blak-blakkan mengakuinya. Biarlah rasa itu ia simpan, ia takut rasa itu hanya sementara bukan rasa cinta yang menetap selamanya.
"Halo semua. Saya Brian Harvigo, biasanya dipanggil Brian atau Bri."
Kata-kata itu tak pernah Ayu lupa saat Brian pertama kali memperkenalkan dirinya kepada penduduk desa. Suara elegan Brian saat itu masih menggema di telinga Ayu.
__ADS_1
Sembari saling menatap, untuk pertama kalinya Ayu merasa ada getaran di hatinya saat bertatapan dengan seorang pria bernama Brian Harvigo.
Itulah awalnya, awal dari seorang gadis bernama Ayunda merangkai untaian cinta untuk pria bernama Brian Harvigo.