VENORA : Assassin VS Psychopath

VENORA : Assassin VS Psychopath
AVSP - 18


__ADS_3

Granada menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Dia pun menutup matanya.


"Siapa dia?"


"Seseorang membuangnya di depan panti asuhan kami. Kami belum memberikannya nama."


"Aku akan membawanya ke tempatku. Dia akan dilatih."


"Baiklah."


Suara-suara itu terngiang di telinga Granada.


Beberapa saat kemudian, dia kembali membuka matanya. Granada beranjak dari tempat tidur kemudian pergi ke dapur. Dia menuangkan susu kental manis kalengan ke gelas lalu memasukkan air hangat ke gelas berisi susu kental manis itu. Setelah diaduk, Granada meminumnya. Dia kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Rasa kantuk mulai datang. Perlahan matanya mulai tertutup.


Keesokan harinya, Granada pergi ke sekolah seperti biasa dengan sepedanya. Gadis itu tampak mendengarkan gurunya yang sedang menjelaskan materi. Begitu juga dengan murid lainnya. Sesekali mereka menuliskan inti materinya yang penting.


Bel istirahat berbunyi. Granada pergi ke kantin dan memesan makanan. Setelah mendapatkan makanannya, dia duduk sendirian di meja kantin sambil memakan makanannya.

__ADS_1


Sepasang murid menghampirinya. "Boleh kami duduk bersamamu? Meja lain sudah penuh."


Granada menoleh kemudian mengangguk. Kedua murid itu duduk bersamanya. Tak lama kemudian, seorang siswa juga datang dan bergabung.


"Kalian di sini? Maafkan aku menggangu aktivitas pacaran kalian, tapi aku tidak kebagian meja," kata laki-laki itu.


Pasangan itu menoleh pada Granada. Karena mereka sudah duduk, Granada hanya mengangguk membiarkan mereka semua makan bersamanya.


Ketiga orang itu berbicara sambil bercanda. Tampaknya mereka sangat akrab.


Granada tidak peduli dia fokus pada makanannya. Sesekali dia tersenyum mendengar lelucon garing mereka bertiga. Sebelumnya dia tidak pernah makan bersama orang lain. Dia selalu sendirian.


Merasa pertanyaan itu ditujukan kepadanya, Granada mendongkak menatap laki-laki itu. "Kelas X-IPS-D."


"Oh, kelas IPS. Aku kelas X-IPA-C," kata laki-laki itu.


Granada tersenyum kemudian mengangguk. "Oh, begitu."

__ADS_1


Pasangan di sampingnya juga kelas 10 IPA. Mereka kembali melanjutkan makan.


Setelah jam pembelajaran selesai, Granada pulang dengan sepedanya. Dia melihat orang-orang berkerumun di tepi jalan. Sepertinya telah terjadi kecelakaan. Granada menghentikan sepedanya, karena terjadi kemacetan. Dia terpaksa harus berjalan sambil menjalankan sepedanya.


Saat melewati kerumunan itu, Granada melihat genangan darah di jalanan. Langkahnya terhenti dan mendengar pembicaraan orang-orang yang berkerumun itu. Tidak biasanya dia peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, tapi kali ini tampaknya dia juga penasaran.


"Apa yang terjadi?" Seseorang bergabung ke kerumunan itu. Granada menoleh.


"Ada seseorang yang berlari sambil membawa pedang lalu membelah tubuh korban," jawab orang yang sudah dulu berkerumun itu.


Mendengar hal tersebut, Granada sangat terkejut. Dia segera berlari ke apartemen meninggalkan sepedanya begitu saja. Gadis itu menekan tombol lift. Tapi, tampaknya lift sedang naik. Granada memilih berlari menaiki tangga menuju ke lantai 26.


Seseorang mungkin akan berhenti dan kelelahan saat tiba di lantai 7, tapi berbeda dengan Granada yang secara fisik sudah terlatih sejak kecil. Dia mampu mencapai lantai 26 dan tiba di rumahnya. Gadis itu memindai sidik jarinya kemudian masuk setelah pintunya terbuka. Granada melihat kedua pedang itu masih tertempel di dinding, tapi salah satunya meneteskan darah.


Granada mengepalkan tangannya.


...⚔️⚔️⚔️...

__ADS_1


^^^12.36 | 30 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2