VENORA : Assassin VS Psychopath

VENORA : Assassin VS Psychopath
EPILOGUE


__ADS_3

Leon menghentikan mobilnya di depan rumah sederhana bercat putih itu. Beberapa orang yang rumahnya bertetanggaan menoleh melihat mobil yang datang itu.


"Apa menurutmu ini bagus? Rumah kecil dan jauh dari kota," tanya Leon.


Granada mengangguk. "Aku menyukainya."


"Kau yakin? Sekarang kau tinggal di sekitar orang-orang," bisik Leon.


"Aku sudah berhenti menjadi assassin, jadi tidak masalah meskipun aku hidup bertetangga," ucap Granada.


Leon mengangguk. "Baiklah."


Ibu-ibu tetangga berbisik-bisik dan mulailah perghibahan di antara mereka.


"Siapa gadis muda itu? Dia datang berdua saja? Jadi, dia yang membeli rumah Pak Rahmat?"


"Dia seperti gadis yang sinis dan sombong."


"Kurasa dia masih sekolah."


"Apa dia datang dari Jakarta? Bagaimana jika dia membawa virus? Bukankah sekarang sedang pandemi?"


"Kita harus waspada. Jangan sampai anak-anak dan suami kita tergoda dengan kecantikannya."


Para pekerja memasukkan barang-barang Granada ke dalam rumah itu. Mereka tampak sibuk.

__ADS_1


"Sepertinya ibu-ibu itu mengawasimu. Dengar, Venora... emmm, maksudku Granada, orang-orang kampung lebih menyeramkan dari orang-orang kota," bisik Leon.


Granada melihat pada ibu-ibu yang sedang menatap sinis padanya kemudian dia kembali menoleh pada Leon. "Aku yakin mereka mengerti arti hidup masing-masing."


Setelah semuanya selesai, Granada dan Leon pun pergi ke rumah makan terdekat.


"Tidak ada restoran di sini," gumam Leon sambil mendengus kesal.


"Tapi, makanannya lumayan enak, kok," kata Granada. "Tadi aku sudah menawarimu untuk mencari restoran di daerah yang masih perkotaan."


Sementara itu, ibu-ibu tetangga rumah baru Granada tampak kepo. Mereka mengintip lewat jendela rumah gadis itu. Mereka ingin tahu barang-barang yang dimiliki gadis itu.


"Apa itu rice cooker yang bisa bicara? Sepertinya gadis itu anak orang kaya."


"Mungkin dia anak istri siri."


"Kau kebanyakan nonton sinetron!"


Tanpa mereka sadari, Granada sedang berdiri di belakang mereka. "Ehm."


Mereka terkejut dan menoleh.


"Maaf, permisi." Granada pun memasuki rumahnya.


"Lihatlah, sombong sekali dia. Dia tidak menyapa kita, padahal dia masih bocah kemarin sore."

__ADS_1


"Dia sangat dingin dan menyebalkan."


"Ayo, pergi."


Granada sebenarnya masih berdiri di depan pintu dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Gadis itu memasuki kamarnya kemudian dia memasang katana yang tinggal satu itu di dinding tepat di atas kepala ranjang.


Gadis itu menghela napas berat sambil menyentuh bagian rambutnya yang pendek karena terkena tebasan katana tersebut.


"Tadinya aku ingin berteman denganmu, tapi sepertinya kau tidak menyukaiku." Kata-kata Ryden masih terngiang-ngiang di telinganya.


Granada menghela napas berat. "Mungkin kau pernah merasakan kasih sayang orangtuamu dan saudaramu sebelumnya. Mungkin kau juga pernah memiliki teman. Tapi, aku tidak. Aku tidak memahami, kenapa manusia harus berteman? Kenapa manusia harus hidup berdampingan?


Manusia bisa hidup sendiri di atas kakinya sendiri. Itu adalah pemikiranku sebelumnya. Setelah bertemu denganmu, aku mengerti, kalau aku memang membutuhkan teman."


Keesokan harinya, Granada tiba di sekolah barunya. Dia berjalan bersama guru menuju ke kelasnya, X-IPS-B.


"Selamat pagi, Anak-anak. Kita kedatangan murid baru. Granada, silakan perkenalkan dirimu." Guru mengusap punggung Granada.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua murid tengah menatap padanya. Granada tersenyum tipis. "Halo, namaku Granada Harlyn."


...⚔️⚔️⚔️...


^^^09.35 | 30 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^

__ADS_1


__ADS_2