
...⚔️⚔️⚔️...
Keesokan harinya, para orangtua sudah datang. Granada tampak duduk tenang di belakang bersama teman-temannya, sementara para orangtua duduk di bangku menunggu nama anak mereka dipanggil. Pandangan teman sekelas Granada tertuju padanya. Granada tidak peduli. Dia mengotak-atik ponselnya yang ternyata sedang bermain game.
Teman-teman Granada tampaknya mulai ber-ghibah.
"Kira-kira orangtuanya seperti apa, ya?"
"Kelihatannya dia anak orang kaya. Lihatlah jam tangan dan tasnya bahkan ponselnya juga keluaran terbaru."
"Kemarin aku melihatnya pulang ke apartemen mewah di pusat kota. Dia pasti tinggal di salah satu rumah di apartemen itu bersama orangtuanya."
"Tapi, kenapa setiap hari dia naik sepeda? Biasanya kalau anak orang kaya diantar jemput."
"Granada Harlyn," namanya dipanggil.
Seorang pria paruh baya berjas biru gelap pun maju ke depan dan mengambil raport Granada.
"Waah." Melihat penampilan pria itu, teman-teman Granada yakin jika pria itu adalah pria kaya. Mereka menoleh pada Granada.
"Dia ayahmu, Granada?"
__ADS_1
Granada menoleh pada mereka. "Bukan, dia pamanku."
Teman-temannya ber-oh-ria.
Setelah pembagian raport selesai, pria paruh baya itu memberikan raport milik Granada di tempat parkir apartemen.
"Aku sudah mengirimkan bayarannya tadi, coba kau cek," ucap Granada.
Pria yang sama sekali bukan keluarganya itu melihat ponselnya. Dia mengangguk. "Sudah."
Granada mengangguk. "Kau boleh pergi."
"Jas ini?" Tanya pria itu sambil menunjuk pakaiannya.
Dengan telaten, dia mencuci beras lalu memasaknya di rice cooker. Gadis itu memotong sayuran dan memasukkannya ke panci yang airnya sudah mendidih lalu memasukkan bumbu. Setelah sayuran itu sudah agak layu, dia mencicipinya.
Rice cooker berbunyi, "Nasinya sudah matang."
Granada memasukkan sedikit gula lalu setelah beberapa saat, dia mengangkat sayurannya ke mangkuk. Dia juga membuka rice cooker lalu meratakan nasinya.
__ADS_1
Gadis itu membuka lemari es. Tidak ada apa-apa di dalam. Hanya ada daging ayam yang masih segar. Tampaknya persediaan bulanannya sudah habis. Dia mengambil dada ayam yang masih segar itu kemudian memotongnya menjadi 6 bagian dan mengolahnya menjadi ayam krispi.
Setelah masakannya selesai, Granada mencicipinya sendirian di dapur sambil berdiri. Saat ini dia tampak seperti chef yang sedang menilai cita rasa masakan yang dia buat sendiri.
Setelah hari mulai gelap, Granada memakai jaket parka berwarna hitam. Dia juga memakai bucket hat dan masker kemudian memasuki lift turun di lantai dasar, yaitu tempat parkir. Dia memasuki mobilnya. Mobil itu melaju meninggalkan bangunan apartemen.
Granada sampai di sebuah gedung terbengkalai. Dia keluar dari mobilnya kemudian memasuki gedung gelap itu tanpa rasa takut sedikit pun. Granada berdiri di depan dinding kemudian dia meletakkan tangannya di dinding tersebut. Suara gemuruh terdengar menggema di gedung itu. Dindingnya bergeser dan terlihat pintu berlapis besi di dalamnya.
Granada mendekatkan wajahnya ke pemindai wajah di samping pintu. Pemindai itu berfungsi. Muncul wajah Granada dengan nama akun Venora.
Pintu pun terbuka. Di dalam sana ada ruangan yang berisikan rak-rak buku. Tampak seorang pria duduk di kursi dan kini tengah menatap ke arahnya.
"Kau mau mengambil uang, Venora?" Tanya pria itu. Tampak asap mengepul keluar dari mulutnya. Dia sedang merokok.
Granada menghampirinya dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
...⚔️⚔️⚔️...
^^^14.54 | 30 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah^^^