
Keesokan harinya, Granada bangun lebih awal. Dia memasak nasi dan sarden. Setelah semuanya matang, Granada meletakkannya ke meja. Dia mengambil roti dan selai coklat kemudian memakannya. Ternyata masakan yang dia buat adalah untuk pulang nanti agar dia tidak kerepotan memasak.
Granada melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi. Sambil menunggu pukul 6, dia duduk dan kemudian menyalakan TV.
Tampak siaran langsung berita pagi. Seorang reporter wanita melaporkan kejadian di lokasi. "Selamat pagi, Pemirsa. Telah ditemukan mayat dalam tong sampah di gang dalam keadaan tubuhnya sudah dimutilasi. Setelah melewati pemeriksaan, diketahui jika korban adalah polisi setempat yang tewas dibunuh."
Granada melihat foto polisi itu ditunjukkan. Ada nama Ridwan di seragamnya. Granada mengernyit. Dia ingat polisi bernama Ridwan itu semalam menggeledah rumahnya, tapi wajah Ridwan yang tewas itu berbeda dengan Ridwan yang semalam menggeledah rumahnya.
"Diketahui bahwa semalam ada pria mencurigakan yang memakai jaket hitam dan bertopi yang keluar dari gang dan memasuki apartemen. Pria itu berhenti di lantai 27 kemudian menuruni tangga menuju ke lantai 26. Ternyata dia menyamar menjadi polisi dengan seragam korban dan mengetuk setiap rumah di lantai 26 dan masuk untuk berpura-pura melakukan penggeledahan...."
Diperlihatkan CCTV apartemen yang menunjukkan keberadaan pria itu. Granada tidak terkejut sama sekali saat mengetahui bahwa polisi semalam adalah pembunuh yang menyamar.
".... Beruntung tidak ada yang terluka di apartemen itu. Saat ini polisi sedang melakukan pencarian besar-besaran untuk menangkap pembunuh itu. Diduga dia adalah pembunuh berantai yang sudah membunuh banyak orang. Berdasarkan kesaksian orang-orang yang rumahnya didatangi pria ini, kira-kira sketsa wajahnya seperti ini."
__ADS_1
Berita di TV menampilkan sketsa wajah pria muda yang usianya kira-kira 25 tahunan. Ya, pria itu adalah pria yang semalam menyamar menjadi polisi dan menggeledah rumah Granada.
Granada tampak tidak tertarik sama sekali dengan berita pagi itu. Dia beranjak dari sofa kemudian menyambar tasnya dan pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda seperti biasa.
Di sekolah, Granada mengikuti pembelajaran seperti semestinya. Pulang sekolah, dia pergi ke bank untuk menabung. Setelah itu, dia pulang.
Setelah menyantap nasi dan ikan sarden, Granada berganti pakaian. Dia memakai kaos putih berbalut jaket jeans hitam, bawahannya memakai rok kotak-kotak selutut.
Granada pergi ke toko kue.
"Nona, apa anda tertarik dengan kue ini?" Pelayan membawa kue itu kemudian menyodorkannya pada Granada.
Granada menegakkan tubuhnya. "Aku ingin membeli kue ulang tahun tanpa riasan."
__ADS_1
Pelayan kue membeku sesaat. Dia segera pergi mengambil apa yang diinginkan Granada.
Pelayan kue kembali setelah beberapa menit. Dia meletakkan kue pesanannya di depan Granada.
Granada pergi setelah membayar kue pesanannya. Sesampainya di rumah, dia membuka isinya. Sebuah kue berbentuk persegi dengan ukuran sedang tanpa riasan. Gadis itu mengacak kuenya dan menemukan dua buah pistol di dalamnya lengkap dengan peluru.
Ponselnya bergetar. Ada notifikasi masuk dari web gelap. Dia membukanya ternyata ada pesan dari pelanggan. Yaitu foto seorang pria berseragam PNS. Pelanggan ingin Venora membunuh pria itu.
Granada mengerutkan dahinya. Tampaknya dia mengenali pria itu yang ternyata adalah gurunya.
...⚔️⚔️⚔️...
^^^05.19 | 30 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^