
Ryden memasang dasinya sambil bercermin. Dia tampak begitu tampan dengan rambut berwarna hitam dengan beberapa bagian biru gelap. Sepasang mata yang menatap tajam dengan alis menukik selalu waspada. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis berwarna pink pucat. Tubuhnya tinggi kekar dengan bahu lebar. Pria itu memakai jas hitam dan jam tangannya kemudian berlalu keluar dari rumahnya untuk menghirup aroma segar di pagi hari.
Ryden berbaur dengan orang-orang yang sibuk berlalu-lalang di trotoar. Dia juga berjalan tanpa arah, hanya mengikuti langkah kakinya.
Pandangan beberapa gadis tertuju padanya. Mereka tampaknya tertarik dan terpesona dengan ketampanan Ryden yang berkharisma dan terlihat rapi. Pria itu hanya tersenyum. Para gadis tampak senang melihat senyuman Ryden yang memikat.
Salah satu hal yang paling aku syukuri adalah wajah tampanku. Mereka terpesona padaku tanpa tahu siapa aku sebenarnya.
Ryden memasuki sebuah restoran. Dia memesan bubur ayam dan coklat panas di pagi yang dingin itu. Dia melihat orang-orang di restoran itu. Ada yang berpasangan, bersama teman, atau bersama keluarga mereka menikmati sarapan pagi.
Di restoran itu tampak hanya Ryden yang duduk sendirian.
Pelayan datang menyajikan bubur ayam pesana Ryden ke meja. Tidak lupa secangkir coklat panas.
Setelah sarapan, Ryden memasuki toko bunga. Dia melihat bunga anggrek darat berwarna merah muda dan ungu yang cantik.
"Selamat pagi," sapa pelayan toko bunga sambil menghampiri Ryden.
__ADS_1
Ryden menoleh kemudian tersenyum tampan. "Oh? Aku menyukai anggrek darat. Berapa harganya?"
Setelah membeli anggrek darat berwarna ungu, Ryden pun membayar dan pulang ke rumahnya. Dia meletakkan pot anggrek itu di samping pintu rumahnya. Sementara di sisi lain, ada bunga amaryllis berwarna merah di dalam pot.
Ryden memasuki rumahnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengangkat panggilannya. "Halo?"
"Ryden! Pagi ini berita menyiarkan tentang hilangnya Brenda, anaknya mendiang Hardiawan. Kau tidak membunuhnya, kan? Kudengar kau berpacaran dengannya!" Ucap pria dari seberang sana.
"Aku pikir Kakak sibuk, kenapa meneleponku dan menanyakan hal bodoh itu?" Tanya Ryden. "Kakak pikir Brenda hanya berkencan denganku? Dia juga berkencan dengan pria lain."
"Berita tentang hilangnya Brenda sudah beredar di TV dan sosial media. Kau tidak menonton TV?!"
"Jika kali ini kau ketahuan polisi, aku tidak akan menolongmu lagi." Panggilan berakhir secara sepihak.
Ryden melemparkan ponselnya ke sofa. Kemudian dia mengambil champagne dari kulkas lalu duduk dan meminumnya langsung dari botolnya.
Hari mulai gelap. Ryden tengah berbaring di ranjangnya sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Terdengar suara bel rumahnya berbunyi, menandakan ada tamu yang datang. Ryden mengambil ponselnya dan melihat kamera CCTV depan rumah yang terhubung ke aplikasi di ponselnya itu. Terlihat dua orang polisi yang datang.
__ADS_1
Ryden melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Dia pun keluar dari kamarnya dan membuka pintu.
"Kami dari kepolisian ingin melakukan investigasi. Apa kami boleh masuk?" Ucap salah seorang polisi.
Ryden mempersilakan mereka masuk dan duduk di sofa. Salah satu polisi melihat-lihat ke ruangan Ryden. Sementara polisi satunya menanyai Ryden.
"Nona Brenda Hardiawan menghilang setelah menghadiri pesta ulang tahun temannya. Berdasarkan kesaksian teman-temannya, Nona Brenda terakhir kali bersamamu. Apa kau tahu sesuatu?"
Ryden melirik polisi yang kini membuka pintu ruangan pendingin miliknya. Kedua mata polisi itu terbelalak saat melihat organ-organ tubuh manusia di dalam toples memenuhi ruangan tersebut. Dia berbalik dan mendapati Ryden sudah berada di depannya.
Polisi yang tadi sedang menanyai Ryden sudah tewas dengan kepala hancur. Pandangan polisi itu tertuju ke tongkat besi yang berlumuran darah di tangan Ryden.
Hantaman keras mengenai wajahnya.
"Aarrgghh!"
...⚔️⚔️⚔️...
__ADS_1
^^^08.32 | 30 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^