
Setelah dirasa belanjaannya cukup, Granada menghampiri penjaga kasir yang ternyata seorang laki-laki. "Malam-malam begini belanja, Dek."
Granada mengangguk. "Aku butuh roti untuk sarapan besok."
"Memangnya ibumu tidak memasak?"
Granada tidak segera menjawab. Dia tersenyum kecil. "Ibuku sedang bekerja di luar kota."
"Oh, begitukah? Kau anak yang baik dan mandiri." Laki-laki itu tersenyum sambil memasukkan belanjaan Granada ke kantong kertas.
Granada tidak menjawab.
Laki-laki itu memberikan kembaliannya. "Hati-hati di jalan. Berbahaya seorang gadis sendirian malam-malam."
Granada menerima uang kembaliannya dan kantong belanjaannya. "Terima kasih."
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Granada berjalan menuju ke apartemennya. Tiba-tiba seorang pria berjaket hitam dan bertopi hitam keluar dari gang. Dia berjalan berpapasan dengan Granada. Tak sengaja tangan pria itu bersentuhan dengan punggung tangan Granada.
Setelah mereka saling melewati, Granada merasa tangannya yang tadi bersentuhan dengan pria itu basah. Dia melihatnya ternyata ada darah segar di punggung tangannya. Itu bukan darahnya, melainkan darah pria barusan, tapi tampaknya Granada tidak peduli dan terus melangkah.
Sesaat pandangan Granada tertuju ke tong sampah besar yang ada bercak darahnya di dekat gang itu. Dia juga tidak terlalu peduli dan terus melanjutkan langkahnya menuju ke apartemen. Dia memasuki lift. Saat akan menekan tombol, tiba-tiba pria tadi ikut masuk ke dalam lift.
Granada melirik pria itu yang kini berdiri di sampingnya. Pria itu tidak kunjung menekan tombol. Granada pun menekan tombol 26. Pintu lift tertutup. Pria itu menekan tombol 27.
Keduanya sama-sama diam. Pandangan Granada tertuju pada tangan pria itu. Tidak ada darah di tangannya. Tampaknya pria itu sudah membersihkannya. Granada memeluk kantong belanjaannya yang berat itu sambil melihat ke depan.
Saat sampai di lantai 26, pintu lift terbuka. Granada keluar dari lift. Dia berhenti di depan pintu rumah. Granada menggerakkan tangannya akan mengetik sandi angka untuk membuka pintu rumahnya. Dia tahu pria itu masih berada di dalam lift dan memperhatikannya. Gadis itu menahan diri untuk tidak menekan tombol.
Pria itu menekan tombol. Pintu lift tertutup. Granada melihat ke lift sebentar kemudian dia pergi ke rumahnya yang asli, karena barusan dia berdiri di depan rumah orang lain. Granada memindai sidik jarinya kemudian masuk.
Dia meletakkan bahan makanannya di meja dapur kemudian membersihkan darah di punggung tangannya di wastafel. Granada tampak berpikir.
__ADS_1
Setelah itu, Granada yang sudah lelah mematikan semua lampu kemudian tidur di kamarnya. Saat kedua matanya akan tertutup, tiba-tiba terdengar suara bel rumahnya berbunyi. Kedua mata Granada kembali terbuka. Dia tampak mengerutkan dahinya.
Dengan malas, Granada beranjak dari tempat tidur kemudian kembali menyalakan semua lampu dan melihat lewat lubang pintu. Ternyata polisi yang datang. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam. Dia pun membuka pintu.
"Selamat malam, Nona. Maaf mengganggu waktumu. Apa kau melihat seseorang yang mencurigakan lewat sini? Dia memakai topi dan berpakaian serba hitam," tanya polisi itu.
Granada terdiam untuk sesaat kemudian menggeleng. "Aku tidak melihatnya."
"Aku melihat orang mencurigakan itu lewat CCTV. Dia menaiki lift dan berhenti di lantai 27 kemudian dia turun ke lantai 26 lalu menghilang. Karena aku khawatir dia memasuki salah satu rumah di lantai ini, jadi aku memastikan dengan memeriksa semua rumah," kata Polisi. "Apa aku boleh memeriksa rumahmu?"
Granada mengangguk. Dia memperbolehkan Polisi memasuki rumahnya.
...⚔️⚔️⚔️...
^^^18.04 | 30 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^