Wajib Diisi

Wajib Diisi
Prolog


__ADS_3

Dina memandang takjub sekitarnya, seumur hidup baru kali ini ia melihat pesta pernikahan yang sebegitu mewahnya.


"Tutup mulut kamu, Din! Jangan malu-maluin Mama dong!" Tegur seorang wanita tepat di samping Dina yang bernama Sarah.


Dina meringis, "hehe, maaf Ma. Habisnya, seumur hidup baru kali ini Dina dateng ke acara penganten yang bener-bener kek di dunia dongeng."


Sarah hanya menggeleng tak peduli, lalu di belakang mereka tampak seorang pria paruh baya yang terlihat gagah mengenakan tuxedo hitamnya.


"Kalian berdua ngapain berdiri di sini? Bukannya masuk dan nyapa mempelai, malah asik ngerumpi di sini," sindir pria itu.


Dina berdecak tak setuju, "ish, kita itu bukan ngerumpi. Papa tu, dari tadi kemana aja? Di tungguin juga," protes Dina.


"Iya nih, dateng-dateng langsung ngomel nggak jelas. Emang aneh ya kamu, Mas," ucap Sarah menambahkan.


Pria bernama Banu tersebut menjawab, "Papa tadi nyari parkir. Iya sih gedungnya mewah, tapi tempat parkirnya sempit dan nggak ada pemisah antara motor dan mobil. Jadinya, muter-muter deh tadi."


Dina maupun Sarah hanya manggut-manggut dan tidak ada keingingan untuk berdebat lagi. Kemudian, Banu mengajak istri beserta anaknya bergerak maju, lalu tanpa sengaja bertemu dengan rekan kerja Ayah Dina.


"Pak Banu, terima kasih atas kunjungannya," ucap pria itu formal.


"Oh, tentu saja saya datang, kita 'kan sudah lama mengenal juga bekerja sama dalam pekerjaan. Dan selamat atas pernikahan putra anda," jawab Banu dengan seulas senyuman.


Mau tak mau pria itu terkekeh, lalu tanpa sengaja pandangannya teralihkan pada Dina. "Dia anak anda?"

__ADS_1


Dengan sopan Dina menyalimi tangan pria tersebut dan berkata, "iya Om, nama saya Dina."


"Woah, kamu sudah besar. Kelas berapa sekarang?"


"Kelas 1 SMP, Om."


"Anda sudah memilik anak gadis rupanya, padahal terakhir kali saya melihat, dia masih kecil dan baru belajar berjalan."


Dina menunduk malu, sementara yang lain terkekeh geli.


"Silahkan menikmati hidangan sederhana yang kami siapkan. Saya harus menyapa tamu yang lain," ujar pria itu, sebelum beranjak pergi.


Setelah pria tersebut tampak jauh dari jangkauan mereka, Sarah berkata, "sederhana katanya? Mewah begini di kata sederhana."


"Iya Ma. Merendah untuk melangit," timpal Dina membuat Sarah beserta anak perempuannya itu terkekeh geli. Banu hanya menggeleng tak mengerti melihat kelakuan istri beserta anaknya tersebut.


•••


Bukan hanya tempatnya yang membuat Dina terpana, tetapi juga pengantinnya. Mereka berdua tampak serasi dan membuat banyak pasang mata memandang iri, begitu juga dengan Dina. Keduanya tampak bahagia berdiri di atas pelaminan dan dengan sabar melayani setiap tamu yang ingin mengucapkan selamat atau berselfie ria.


"Ma, nanti acara pernikahan Dina mewahnya harus kayak gini ya?" Pinta Dina yang langsung mendapat tampolan pelan dari sang mama.


"Kamu masih kecil udah ngomong tentang nikah-nikah segala."

__ADS_1


"Nanti Ma, nanti, pas udah saatnya," jelas Dina.


"Ya, kalo itu tergantung dari calon kamu nanti. Makanya, mulai sekarang cari cowok yang tajir, biar bisa buat resepsi kek gini."


"Mama mah, ngajarin yang nggak bener. Pernikahan itu harus di dasari oleh cinta, bukan harta," ucap Dina percaya diri.


Sarah mendengus, "kamu pikir bakal kenyang makan cinta?" Tanyanya.


"Emang enggak, tapi--"


"Kalian berdua berhenti, bisa? Papa capek dengernya," keluh Banu. "Lebih baik kita sapa pengantinnya, lalu pulang. Papa juga sudah kenyang."


"Ya udah, ayok!"


Ketiganya berjalan menghampiri kedua mempelai yang berdiri di atas pelaminan, membelah lautan manusia yang sibuk dengan urusan masing-masing.


Mata Dina tak pernah lepas dari sosok pria yang baru saja mendapat gelar sebagai suami. Sungguh, ia tak pernah menyangka bahwa Om Nico yang selama ini terlihat biasa, sekarang tampak begitu tampan dan elegan. Dina bahkan tak ingin berkedip, takut-takut pemandangan indah itu akan lepas dari matanya.


Dina menyentuh dadanya yang berdegub kencang.


Dina rasa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.


Dan dia adalah Om Nico yang telah di miliki oleh seseorang untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2