Wajib Diisi

Wajib Diisi
Sembilan


__ADS_3

Dina melangkah menuju kelasnya dengan lesu. Pemikiran tentang pernikahan Om Nico bersama wanita itu terus saja menghantui pikirannya. Sekuat mungkin ia tidak meneteskan air mata.


Bisa saja wanita itu hanya bercanda. Toh, Om Nico tidak juga mengiyakannya. Benar, 'kan?


Ya, Dina harus menanamkan itu di otaknya dan ia masih memiliki harapan untuk memiliki Om Nico sebagai pendamping hidupnya.


"Dina? Muka lo pucat banget. Lo sakit?"


Gadis itu tersentak mendengar pertanyaan Tika, sahabatnya. Ia benar-benar tak sadar sudah memasuki kelas dan duduk di kursinya. "Ah, kenapa?"


"Itu, muka keliatan pucat. Lo mau gue anter ke UKS?"


Sekilas Dina meraba wajahnya. "Gue nggak sakit, cuma tadi nggak sempet pake liptin," jawabnya.


Tika mengangguk percaya. "Gue pengin ke kantin, lo mau ikut, nggak?"


Dina menggeleng lemah, sejak tadi ia tidak bernapsu untuk memasukan makanan apapun ke dalam mulutnya. Entah kenapa rasanya ia mual ketika melihat makanan tersaji di hadapannya.


"Oke, gue duluan kalo gitu."


Setelah kepergian Tika, Dina merebahkan kepalanya di atas meja. Mengabaikan kehebohan teman-teman sekelasnya. Sekeras apapun ia mengelak, tetap saja ada rasa khawatir kalau-kalau ucapan wanita itu benar adanya. Membayangkan Om Nico mencintai wanita lain—wanita yang jauh di atasnya—membuat hatinya berdenyut sakit.


Perlahan matanya tampak memberat, ia tak melawan, melainkan mengikuti keinginan tubuhnya untuk rehat sejenak. Ia lelah secara fisik maupun mental. Tidur sebentar tidak masalah, bukan?


***


Perlahan Dina membuka kedua matanya. Bukan kepala bertumpu di atas meja seperti sebelum ia memejamkan mata, melainkan terbaring di atas kasur putih menyerupai ranjang di ruang UKS sekolahnya. Tunggu, UKS?


"Dina? Lo udah bangun? Seharusnya gue bawa lo ke UKS pas ngeliat muka lo pucat. Gue emang nggak peka jadi sahabat!"


Dina diam tak merespon. Otaknya masih buntu, ia berusaha mengingat-ingat apa yang ia lakukan sebelumnya hingga berakhir di sini dan seingatnya dia hanya tertidur sebentar, lalu kemudian—


"Kok gue bisa di sini sih, Tik?"


"Awalnya kita sekelas mikir kalo lo itu tidur. Pas ada guru, gue coba bangunin lo, tapi lo nggak respons. Bahkan Pak Rocky sempet ngelempar lo pake penghapus papan tulis, tapi lo tetep nggak bangun-bangun. Di situ kita tau kalo lo pingsan."


Dina mendesah lemah, bisa-bisanya ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Kalo lo masih ngerasa pusing, atau nggak enak badan, gue bisa izinin lo pulang."


Gadis itu tampak berpikir, kalaupun ia memilih bertahan, ia yakin tak akan bisa fokus pada pelajaran dan jika memilih pulang, ibunya akan bertanya macam-macam atau bersikap berlebihan.


"Gue pulang aja, Tik."


"Oke, gue bakal ambilin tas lo dan minta izin sama guru piket."


"Makasih, Tik," katanya seraya tersenyum tulus ke arah sahabatnya.


Mendengar itu Tika lantas berbalik, memeluk Dina erat. "Gue takut banget lo kenapa-napa."


Dina lantas membalas pelukan itu tak kalah erat.


"Gue baik-baik aja karena gue punya sahabat yang peduli banget sama gue."


Sesaat kemudian Tika melepas pelukan mereka. Mengusap mata yang entah sejak kapan berkaca-kaca. "Lo bisa cerita kalo ada masalah. Gue siap jadi pendengar yang baik," ucapnya.


Dina menggeleng. "Nggak sekarang ya, Tik."


Setelah itu, Tika kembali ke kelas. Mengambil tas Dina juga meminta izin agar sahabatnya bisa beristirahat di rumah. Kembali, Dina termenung sendiri dan dengan lancangnya bayangan Om Nico berpelukan mesra kembali memasuki pikirannya.


"Gue harus tanya sendiri sama Om Nico, gue harus pastiin kalo itu nggak bener." Ya, Dina bertekad akan menanyakan langsung tentang hubungan Om Nico dengan wanita itu. Ia harus berani agar dirinya tidak terus merasakan sakit hati.


***


Benar saja, sesampainya di rumah Dina dicekoki berbagai macam pertanyaan oleh ibunya dan dengan santainya Dina menjawab bahwa ia barusan pingsan di sekolah. Lalu, mengabaikan semua pekerjaan, Sarah memeriksa keseluruhan tubuh putrinya. Menuntun Dina ke kamar dan menyuruhnya beristirahat.


"Ma, udah Dina nggak pa-pa. Tadi cuma nggak sengaja pingsan."


Sarah memukul putrinya gemas. "Apa kamu bilang? Nggak sengaja pingsan? Kamu kira pingsan seremeh kesandung kerikil di jalan? Udah kamu tidur aja, atau mau makan sesuatu dulu?"


Dina menggeleng. "Dina bawa motor dari sekolah sampai rumah aja nggak kenapa-kenapa. Mama nggak usah khawatir, dan ya, Dina nggak laper. Dina mau tidur sekarang."


Sarah hanya bisa menghela napas panjang, masih was-was dengan kondisi anaknya. "Ya sudah, kamu istirahat aja sekarang."


***

__ADS_1


Kembali Dina mendatangi rumah tetangganya, kali ini bukan Nino sebagai modusnya, melainkan Om Nico yang menjadi tujuan utama.


Belum sempat Dina mengetuk pintu, benda kokoh itu lebih dulu terbuka dari dalam, menampilkan dua orang yang sangat tidak Dina harapkan kedekatannya.


"Dina?"


Bukannya menjawab, Dina malah fokus kepada wanita di hadapannya. Wanita itu jelas lebih tinggi darinya, lebih cantik dengan dada berisi membuatnya juga terlihat seksi.


"Om, bisa kita bicara sebentar? Berdua."


"Baik."


Diam-diam Dina bernapas lega ketika Om Nico menerima tanpa banyak bertanya. Pria lalu menuntun Dina menjauh dari wanita yang sampai sekarang tidak Dina tahu namanya.


"Kamu mau ngomong apa?"


"Dia beneran calon istri Om? Perempuan itu?" Tanyanya sedikit melirik ke arah wanita yang lumayan jauh jaraknya, namun ia tahu wanita itu memerhatikan meraka dari sana.


"Ya. Kami akan menikah tidak lama lagi."


Deg.


Jantung Dina seperti diremas oleh tangan tak kasat mata, sakit tak terkira. "Ta-tapi sejak kapan? Maksudku, aku nggak pernah liat dia sebelumnya. Om Nico juga nggak ngungkit soal pernikahan sebelumnya."


"Apa saya harus laporan dulu sama kamu? Tidak, bukan? Bukan karena kamu dekat dengan Nino, lalu saya membeberkan semua privasi saya, tidak Dina. Kamu hanya orang asing bagi saya."


Orang asing? Jadi selama ini, Om Nico hanya menganggapnya orang asing? Bukan seseorang yang berarti dalam hidupnya, tapi kenapa perlakuan pria itu seolah mengatakan ia berarti. Seolah Dina memiliki tempat di hati pria itu.


Seperkian detik, Dina diam bergeming. Ia tidak boleh menangis, setidaknya di hadapannya pria berengsek yang sialnya memegang kendali penting dalam hatinya.


"Kamu datang kemari untuk menanyakan ini? Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot Dina, saya sendiri yang akan mengirimkan undangan ke rumahmu."


"Ya. Om Nico harus kasih undangannya ke rumah. Btw, selamat ya, Om. Semoga pernikahannya berjalan lancar," katanya memaksakan senyum di wajahnya. Senyum kesedihan lebih tepatnya.


Di pastikan Dina akan mengeluarkan semua stok air mata yang ia punya untuk nanti malam. Kenapa nasibnya harus semenyedihkan ini?


***

__ADS_1


__ADS_2