
"Kak Din! Nino kangen!"
Seorang bocah berlarian dengan kaki-kaki mungilnya ke arah Dina. Gadis itu tersenyum lebar menyambut uluran tangan Nino dan menggendongnya di dada.
"Kak Din juga kangen Nino," balasnya.
"Kenapa Kak Din nggak pernah main ke rumah Nino lagi?"
"Kakak sibuk, banyak tugas sekolah."
Mata bocah itu memincing, seolah meragukan ucapan Dina. "Bohong! Nino juga sekolah tapi nggak banyak tugas."
Gadis itu meringis mendengar jawaban Nino. "Yailah kamu sama Kak Din 'kan beda tingkatan. Kak Din udah gede, kamu masih kecil. Makanya belum ada tugas sekolah." Sungguh, Dina tak bisa membayangkan bocah seusia Nino mengerjakan soal fisika atau kimia yang selalu memutar otaknya.
"Sekarang kita main bareng ya Kak," pinta Nino.
Lantas Dina menurunkan Nino dari gendongannya. Menatap bocah itu dengan tatapan menyesal.
"Kak Din, nggak bisa." Alasannya, karena dua orang dewasa yang tak berada jauh dari tempatnya berdiri, tengah bersenda gurau, begitu akrab bahkan Om Nico yang jarang tersenyum pun sekarang tertawa terbahak-bahak.
"Ayo lah, Kak," bujuk Nino.
"Oke, tapi Kak Din nggak bisa lama-lama."
"Yey, main sama Kak Din."
Tawa melingkupi keduanya. Nino dengan semangat menarik tangan Dina, membawa gadis itu masuk ke rumahnya.
Tanpa disuruh Nino menyiapkan segala macam peralatan untuk mendukung permainan. Dina bahkan menyuruh Nino membawakan cemilan sebelum permainan dimulai, dan bocah polos itu menuruti permintaan Dina tanpa tanya.
Sudah tiga puluh menit mereka bermain ular tangga yang terus dimenangkan oleh Nino. Anak laki-laki itu terus saja berujar sombong dan mengejek kepayahan Dina, dan gadis itu hanya mendengus sebal. Sebenarnya, ia juga heran, bagaimana bisa dirinya selalu kalah. Selalu berhenti di mulut si ular. Ini kebetulan atau takdir memang menginginkan Dina kalah? Tidak hanya kisah cintanya yang tragis, tetapi dalam permainan pun Dina harus menelan pahitnya kekalahan. Menyebalkan memang.
"Hai," sapa seseorang. Dina menoleh dan mendengus tanpa sadar.
"Saya Risma. Kita sering bertemu, tapi belum pernah berkenalan sebelumnya." Dia. Wanita yang mengaku sebagai calon istri Om Nico kini telah duduk persis di samping Dina. Nino tadi pergi mengambil minuman dan menambah cemilan untuk permainan mereka.
__ADS_1
"Oh, aku emang nggak minat," balas Dina ketus.
Wanita itu hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Kamu Dina, benar?"
"Ya."
"Masih SMA? Kelas berapa?"
"Dua."
"Setelah lulus, mau lanjut kuliah di mana?"
"Nggak mau kuliah, mau rebahan. Capek mikirin pelajaran," balas Dina.
Risma seketika tertawa mendengar jawaban Dina. Jawaban khas anak remaja yang belum menyentuh kerasnya dunia.
"Emangnya kamu nggak punya cita-cita?"
Dina melirik wanita itu sekilas. "Ada." Nikah sama Om Nico, tapi batal gara-gara lo! "Tapi dulu."
Apa sekarang waktunya untuk pamit pulang?
"Kak Din, ayo kita lanjut main!" Seru Nino semangat.
"Em, Kakak harus pulang. Mainnya besok lagi ya." Sial! Kenapa Dina berkata besok?! Bagaimana kalau Nino menagih janjinya? Sungguh, dirinya belum terlalu siap bertemu dengan pria yang menyakiti hatinya dalam-dalam. Ini saja, dirinya sudah sangat memaksa.
"Nggak mau Kak, maunya sekarang." Bocah itu menggeleng keras, menolak permintaan Dina mentah-mentah.
Dina menatap tak tega Nino yang memohon dari sorot mata. Om Nico juga tidak berkata apa-apa, seolah ia mendukung kalimat Nino sebelumnya.
Baiklah, tidak ada pilihan lain. "Oke, kita main lagi." Nino tersenyum lebar mendengar keputusan Dina. "Dan kali ini, Kak Din nggak bakal kalah lagi."
***
Permainan mereka telah berakhir sekitar sepuluh menit yang lalu, bukan hanya ular tangga, namun mereka juga memainkan video game. Dengan Dina yang selalu menjadi pemenang kedua.
__ADS_1
Ia akan pamit pulang, namun Tante Risma—ah ya, mulai sekarang Dina akan memanggilnya begitu—lebih dulu berdiri dan berpamitan pulang. Membuat Dina urung mengeluarkan suara. Om Nico terlihat mengantar kepergian wanita itu sampai ambang pintu.
Tiba-tiba satu pikiran terlintas di kepalanya. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk bicara berdua dengan Om Nico. Dina melirik Nino di sampingnya yang tengah bermain gadget miliknya. Benar, ini kesempatan bagus yang tidak boleh Dina sia-siakan.
"Om Nico," panggil gadis itu. Di saat pria itu telah berpusat perhatian padanya. Dina berkata,
"Om kapan melangsungkan acara pernikahan?"
Oke, sebenarnya bukan ini yang ingin Dina tanyakan, namun entah kenapa malah itu yang ia suarakan. Dina melihat sedikit perubahan di wajah Om Nico, entahlah, dia terlihat sedikit terkejut.
"Masih kami rencanakan."
Dina manggut-manggut. "Terus Om, sebelumnya kalian pacaran atau gimana? Dan sejak kapan?"
"Saya terlalu tua untuk berpacaran. Kita saling mengenal cukup lama. Ada lagi?"
Gadis itu mengangguk cepat. Mengabaikan kemungkinan Om Nico tengah menyindirnya karena terus mengajukan banyak pertanyaan.
"Aku belum pernah ngeliat dia, Tante Risma. Terus, tiba-tiba Om Nico bilang kalian mau nikah. Maksudku, selama ini Om Nico nggak keliatan deket sama siapa-siapa. Nino yang biasanya ember, juga nggak cerita apa-apa tentang pernikahan. Entah kenapa rasanya ganjil."
Susah baginya mengatur kata, semoga Om Nico mampu mengambil arti dari ucapan Dina. Bahwa dirinya masih tak percaya dengan berita pernikahan itu.
"Saya bukan tipe orang yang suka mengumbar-umbat apapun yang saya punya, dan untuk soal Nino, dia masih terlalu kecil untuk mengerti masalah ini. Mungkin itu sebabnya dia tidak cerita apa-apa."
"Ah, ya, mungkin begitu. Tapi, Om—"
"Ini sudah petang, Nino juga terlihat lelah. Sebaiknya kamu pulang dan kembali bermain bersama Nino, besok," potong pria itu.
Pengusiran secara halus. Dina tersenyum getir. Om Nico berubah banyak sekarang. Dulu, pria itu tak pernah mempermasalahkan jam kunjung Dina kemari, namun kali ini, dia mengatakan secara tidak langsung ketidaksukaannya.
"O-oke. Aku nggak bakal ganggu Om Nico lagi."
Lalu setelahnya Dina beranjak pergi. Bersamaan dengan sakit di hati. Lebih sakit ketimbang kemarin ia menerima kabar bahwa sang pujaan hati akan menikah sebentar lagi. Karena sekarang, pria itu telah dengan sangat jelas menolak dirinya. Mungkin saja Om Nico telah muak dengannya sejak dulu. Ya, siapa tahu.
***
__ADS_1