
"Bima!" Teriak Dina seraya melambai-lambaikkan tangannya. Cowok itu berbalik, menyeritkan dahi saat cewek itu berlari ke arahnya dan mengamit lengannya. Membawa Bima entah kemana.
"Din, apa-apaan sih? Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Bima heran.
"Lo ikut gue. Gue udah nggak tahan," balasnya yang terdengar ambigu di telinga Bima.
"Ma-maksud lo apa?" Suara Bima terdengar serak. Ia juga tampak menelan salivanya payah.
Dina hanya berdecak pelan sebagai jawaban, lalu meringis menahan sesuatu yang sudah berkedut dibawah sana. Tanpa diduga, Dina membawa Bima ke toilet.
Pikiran Bima semakin berkelana entah kemana dan jangan salah dia karena telah berpikir macam-macam. Semua lelaki normal akan berpikiran sama jika seorang perempuan tiba-tiba mengajak ke suatu tempat sensitif seperti toilet, apalagi cewek itu terus menggumamkan 'tidak tahan' dan 'hampir keluar'. Ya Tuhan, Bima merasa sedang di uji sekarang!
"Bim, kok malah bengong sih?! Lo denger 'kan apa yang gue bilang tadi?" Tanya Dina tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Sialan Bima! Ia sudah tak tahan, namun cowok itu hanya terdiam tak mendengar instruksi sebelumnya.
"Lo ngomong apaan emang?" Jangan-jangan Dina akan benar-benar mengajak dirinya begituan di sini?! Batinnya berkata.
Dina mendengus, "lo tunggu di sini, jagain pintu. Gue mau masuk. Jangan biarin orang lain masuk atau mau ngejailin gue! Lo ngerti, 'kan?" Cerca Dina.
Bima mengerjap tak percaya, mulutnya terbuka. Seketika ia merasa seperti orang bodoh. "Jadi, lo ngajak gue ke sini bukan untuk begituan?"
"Apaan sih lo! Ngaco kalo ngomong!" Kesal Dina. "Pokoknya, tungguin gue di sini. Gue udah kebelet!"
Setelah itu, Dina langsung memasuki salah satu bilik WC. Menutup pintu dengan keras, sehingga membuat Bima tersadar dan kembali ke pijakannya. Cowok itu mengelus-ngelus dadanya. Memeriksa apakah jantungnya terlepas dari tempatnya.
"Emang dasar Si Dina ada-ada aja kelakuannya!" Ucapnya sambil menggeleng pelan, namun tetap menunggu dan menjaga pintu untuk cewek itu.
• • •
"Dina," panggil seorang guru. Dina menoleh dan berkata, "iya, bu."
"Kamu bisa tolong bantu Ibu?" Pinta guru itu.
"Soal apa Bu?" Tanya Dina sopan.
"Ini," Guru wanita itu menyerahkan selembaran kertas HVS kepada Dina. "Tolong kamu kasih ini ke kelas 12 IPA 2. Bilang sama mereka Ibu ada urusan sebentar." Dina mengangguk, walau berat. Ah, kalau saja ia bisa menolak. Di saat dirinya berbalik dan hendak melangkah pergi, guru itu kembali menghentikan dirinya.
__ADS_1
"Oh iya, bilang juga sama mereka, Ibu cuma sebentar. Ibu harap tugas ini selesai setelah Ibu kembali nanti," pesan guru itu.
"Iya Bu, akan saya sampaikan," ucapnya seramah mungkin. Kalau waktu bisa diulang, ia tak akan melewati ruangan ini. Lebih baik ia memutar jauh, ketimbang di suruh beginian. Huft, menyebalkan.
Sepanjang perjalanan Dina terus saja cemberut. Mengabaikan tatapan aneh dari orang-orang disekitarnya. Suasana begitu ramai mengingat ini jam istirahat. Dina menghela napas panjang sebelum mengetuk pintu kelas 12 IPA 2.
"Permisi, Kak." Sontak saja seluruh siswa didalam kelas, menoleh ke sumber suara. Dina meneguk ludahnya, lalu seseorang menghampiri dirinya. Cowok tampan yang tidak Dina kenali.
"Kenapa Dek?" Tanya cowok itu sambil tersenyum ramah. Sungguh, Dina dibuat dag dig dug olehnya.
Seluruh penghuni kelas berkoar menggoda cowok itu yang diyakini berusaha merayu adik kelasnya.
"Liat-liat, Si Bayu bakal beraksi," ucap salah seorang cowok berkulit hitam.
"Iya nih," timpal seorang gadis yang mengenakan bandana biru muda. "Dek, hati-hati sama dia. Playboy kelas teri, tuh!" Ejeknya mengundang tawa dari semua orang. Dina hanya tersenyum tipis sekaligus meringis. Sedangkan cowok itu masih saja tersenyum manis, seolah-olah ucapan teman-temannya tadi bukan apa-apa.
"Nggak usah dengerin mereka, kadang mereka emang suka kayak gitu," jelas cowok itu yang diketahui Dina bernama Bima.
Dina mengangguk mengerti, "oh, iya Kak. Em, ini ada tugas dari Bu Endang. Beliau bilang, lagi ada urusan dan setelah Ibunya balik, tugas ini harus selesai." Dina menjelaskan sesopan mungkin. Bukan untuk cari perhatian atau semacamanya, namun ia hanya berjaga-jaga, supaya tidak dianggap sebagai adik ķelas kurang ajar.
Dalam hati Dina berdecih, ternyata apa yang diucapkan oleh teman-teman kakak kelas itu ternyata benar. Cowok di depannya ini adalah seorang playboy kelas teri!
"Dina, Kak. Kalo gitu saya permisi dulu ya Kak, hampir masuk soalnya." Dina tersenyum singkat lalu melesat pergi tanpa aba-aba setelahnya.
"Hei, boleh Kakak tau kamu kelas berapa?" ucap Bima sedikit berteriak.
Dina terus berjalan, mengabaikan pertanyaan itu. Ia sama sekali tak ingin terlibat dengan permainan busuk yang dibuat kakak kelasnya. Ia sudah sangat mengenal cowok-cowok sejenis itu dan ia tahu, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tanpa perasaan mereka akan meninggalkan mangsanya dengan alasan bosan. Ck, Dina tidak akan terjebak!
"Din! Lo dari mana aja sih? Lo pergi ke kantin tanpa gue 'kan? Lo temen gue apa bukan sih?!" Kesal Tika tak berkesudahan. Dina mendengus.
"Gue nggak pergi ke kantin, ****! Gue tadi itu di suruh Bu Endang untuk ngasih tugas ke kelas dua belas. Dianya lagi ada urusan. Setelah itu, gue langsung balik ke kelas," cerocos Dina panjang lebar.
"Oh, jadi gitu," jawab Tika sambil cengengesan.
"Iya!"
__ADS_1
"Kita ke kantin sekarang?" Tawar Tika.
"Nanggung, udah mau masuk," sahut Dina.
Bahu Tika merosot seketika. "Oh, iya-ya. Lupa gue."
Dina menggeleng tak peduli. Tak berapa lama masuk berbunyi, lalu tak berapa lama seorang guru masuk dan menyapa anak muridnya.
"Selamat siang, semua!"
• • •
Dina memarkirkan motornya di garasi. Ia menghela napas lelah. Menurutnya, sekolah hanya membuat dirinya pening dan sakit kepala. Pernah terlintas di benaknya untuk berhenti sekolah dan bersantai di rumah, namun kemudian ia berpikir. Jika yang lulusan sarjana saja sulit mencari kerja, apalagi dirinya yang bahkan SMA saja tidak tamat. Dan dari sana, Dina mulai serius dalam belajar, walaupun terkadang rasa lelah dan bosan sering menghantui.
Tetapi rasa lelah itu raib dan tak tersisa, kala dirinya melihat pemandangan langka yang cukup menyegarkan mata. Tetangganya itu, Om Nico yang begitu Dina sukai, tengah menyiram tanaman di halaman. Dina tersenyum gembira, lalu berlari kecil hingga akhirnya berdiri di pagar pembatas antara rumahnya dan Om Nico.
"Sore, Om!" Sapanya ceria.
Pria itu menoleh sesaat, lalu tersenyum tipis dan berkata, "sore." Ya, singkat seperti biasa. Dina memang kelewat paham mengenai sifat sang pemilik hatinya. Ia sama sekali tak merasa tersinggung ataupun terganggu.
"Lagi nyiram kembang ya Om? Wah, pasti subur itu tanaman apalagi Om yang nyiram," canda Dina. Gadis itu terkekeh sendiri, sedangkan Nico hanya tersenyum tipis sebagai balasan.
"Kamu baru sekolah?" Pertanyaan Om Nico sungguh tak terduga. Tanpa sadar, Dina tersenyum malu-malu mendengarnya. Demi apa, jantungnya berdebar tak karuan sekarang.
"Iya, Om. Oh iya, Ninonya ada Om?"
Nico mengangguk, "ada. Kenapa? Mau main sama dia lagi?" Dina mengangguk semangat. "Jangan. Kasian kamu, baru pulang sekolah pasti capek. Lebih baik kamu istirahat saja."
Dina tak mampu berkata-kata. Apa ia tak salah dengar? Apa Om Nico selama ini juga memperhatikannya?
"Em, iya Om. Kalau gitu, aku masuk dulu. Bye Om!"
Dina berbalik dan berlari sekencang-kencangnya masuk ke dalam rumah. Ia menyentuh dadanya. Astaga! Apa ada yang tahu, kalau dia begitu bahagia sekarang?
Dina merasa mendapat secerah harapan untuk bersama dengan Om Nico kedepannya. Ia juga sudah tebal telinga, jika ada orang-orang yang akan menghinanya di masa depan, karena telah berhubungan dengan pria yang berumur jauh di atasnya.
__ADS_1
"Mama! Dina pulang!"