
Dina melakukan peregangan sebelum olahraga. Ia menggerak-gerakan tangan, kaki juga anggota tubuhnya yang lain agar tidak terasa kaku ketika ia mulai berlari nanti. Ia bukanlah penyuka olahraga, namun setelah mencuri dengar percakapan Nino dan Ayahnya—yang akan melakukan joging pagi di taman kompleks—Dina mencoba mencari peruntungan. Ia bangun lebih pagi di hari minggu, bersikap seperti para masyarakat lain yang tidak menyadari bahwa ini hanyalah modus belaka. Dina sangat berharap, semoga mereka dapat bertemu di tempat ini.
Satu putaran sudah Dina lalui, matanya berpendar mencari dua orang yang sangat ia nanti. Ia hampir menyerah, larinya ia pelankan dan berniat kembali pulang ke rumah. Jelas ia kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Om Nico yang ia tunggu, tapi setidaknya tubuh Dina mendapat manfaat luar biasa setelah berlari pagi ini.
"Kak Din!"
Teriakan itu. Teriakan yang sangat Dina kenali, teriakan yang mengembalikan semangat di setiap sendi-sendi tubuhnya. Dina berbalik seraya tersenyum lebar.
"Nino!"
"Kak Din lari pagi juga? Kenapa tadi nggak barengan aja? Ya nggak, Pa?" Tanya bocah itu dengan menarik-narik ujung baju yang Ayahnya kenakan.
"Ya," jawab pria itu singkat.
Dina kembali melebarkan senyumnya. "Kak Din nggak tau kalau kamu bakal ke sini juga. Nino baru sampe?"
"Iya nih, Kak Din. Soalnya tadi Nino bangunnya kesiangan."
Ah, pantas saja keduanya baru terlihat, rupanya Nino si bocah menggemaskan itu terlambat bangun. Untung saja Tuhan masih berbaik pada Dina dan mempertemukan ia dengan sang pujaan hati.
"Kak Din, gimana kalo kita lomba lari?"
"Nino," peringat Om Nico.
"Ayo!" Terima Dina tak kalah semangat 9
"Kamu nggak harus nurutin permintaan Nino, Dina." Kali ini Om Nico bicara padanya. Tapi Dina juga tidak bisa menolak Nino begitu saja. Nino terlalu menggemaskan untuk diabaikan.
"Nggak masalah kok, Om," balasnya sambil tersenyum. Dina menyuruh Nino mengambil posisi tepat di sampingnya. Ia menghitung mundur, lalu setelah itu mereka mulai berlari dengan Dina yang terus pada posisi di belakang. Membiarkan dirinya kalah oleh anak itu. Namun, naas, Dina tak melihat batu kecil di hadapannya. Ia mulai kehilangan keseimbangan dan kemudian jatuh terjerembap ke aspal.
"Aw," pekiknya tertahan. Om Nico yang berada lumayan jauh di belakangnya berlari cepat ke arah Dina. Memeriksa kondisi gadis itu.
"Apa yang sakit?" Tanyanya setelah membungkuk di hadapan Dina.
"Ka-kaki aku, Om. Sakit," adu Dina yang sudah menangis menahan sakit.
Nino yang merasa bahwa tidak ada Kak Dina di sampingnya, menghentikan lari dan berbalik. Dirinya bertanya-tanya melihat Ayah beserta Kak Dina duduk di tengah jalan. Lantas, ia berlari mendatangi kedua orang itu.
"Kak Din!" Teriak Nino terkejut kala melihat Dina yang telah berderai air mata.
__ADS_1
"Nino kamu diam sebentar. Papa mau ngobatin Kak Dina sebentar, oke?" Kata Om Nico.
"Iya, Pa," jawab bocah itu pelan.
Sementara Dina, ia sudah tak peduli apa-apa lagi selain rasa sakit yang menyerang betisnya. Bergerak sedikit saja, rasanya seperti neraka. Di saat Om Nico ingin meluruskan kakinya, di saat itu pula Dina berteriak kencang dan mengakibatkan banyak pasang mata mengarah padanya.
"Jangan, Om. Sakit."
"Kaki kamu keseleo. Saya janji sakitnya cuma sebentar." Om Nico mencoba menenangkan Dina. Perlahan ia meluruskan kaki gadis itu. Mencari posisi yang pas sebelum, meluruskan kembali urat-uratnya dalam satu tarikan.
"Akh!" Jerit Dina dengan sangat keras. Selain itu, dirinya tanpa sadar mencengkeram bahu Om Nico erat, yang artinya ia telah mencakar pria itu guna melampiaskan rasa sakit.
Dina menunduk, perlahan melepaskan pegangannya pada Om Nico. Baru ia sadari, bukan hanya keseleo pada kaki tetapi juga terdapat luka kecil di lututnya. Dina mendesis pelan, rasa sakitnya masih ada walau tidak separah tadi.
"Kamu masih bisa jalan?" Dina menggeleng tak yakin. Lalu tanpa di duga, Om Nico berbalik menyodorkan punggungnya. "Kamu naik," titahnya.
Dina tak punya kata-kata untuk menolak. Toh, jauh dalam dirinya juga senang, walau kesenangan itu harus dibayar dengan rasa ngilu pada tubuhnya terkhusus bagian kaki.
Perlahan ia merangkak, dibantu Nino sebisanya, ia telah berada tepat di punggung koko milik pria itu. Om Nico menyamakan posisi dan berdiri. Dina memberanikan diri untuk memeluk leher pria itu. Jantungnya berdegup kencang dan ia harap semoga Om Nico tidak menyadarinya, walau sedikit mustahil mengingat mereka sedang sangat dekat.
Om Nico sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda lelah karena menggendongnya. Padahal jarak antara rumah dan taman tadi cukup jauh. Kini, Dina mulai diliputi rasa bersalah.
"Tanggung, sebentar lagi hampir sampai."
Dina memilih diam, sedetik kemudian ia menoleh ke arah Nino yang berjalan di samping mereka. Menunduk dalam.
"Berarti pemenang lomba larinya adalah Nino!" Seru Dina mencoba menghibur bocah yang tampak murung itu.
"Kak Din, ini semua salah Nino ya? Nino yang ngajak Kak Din lomba lari tadi."
Dina menggeleng cepat, bibirnya menampilkan senyum lebar andalan. "Nggak kok, ini salah Kak Din sendiri. Kak Din yang nggak hati-hati," hibur Dina.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai. Om Nico tak langsung membawa Dina pulang melainkan mengobati gadis itu di rumahnya.
"Om, ini—"
"Saya nggak mungkin bawa kamu pulang dengan keadaan seperti ini," sela Om Nico seolah tahu kalimat apa yang ingin Dina katakan.
"Emangnya nggak ngerepotin, Om?"
__ADS_1
"Tidak. Asal kamu tidak menangis seperti tadi," ungkap Om Nico. Perlahan ia mendudukan Dina di sofa.
"Nino, tolong ambilkan kotak P3K di tempat biasa."
"Oke, Pa." Lalu secepat mungkin Nino berlari mengambil pesanan Ayahnya. Tak lama kemudian ia kembali dengan sebuah kotak di tangannya.
"Terima kasih," ucap Om Nico sambil memberi usapan sayang di kepala anaknya.
Namun, lain halnya dengan Dina. Ia menelan ludah payah. Bayangan rasa perih ketika obat itu menyapu luka tergambar di otaknya. Ia meringis bahkan sebelum kapas bercampur cairan alkohol itu menyentuh luka di lututnya.
"Rileks, Dina."
Hampir seluruh tenaganya Dina kerahkan untuk menahan rasa sakit yang menyiksa, bukan hanya itu, ia juga mencengkeram erat pundak Om Nico. Mungkin akan membekas nanti, tapi baik Dina maupun pria itu sepertinya tak peduli.
Lukanya memang tidak seberapa, namun rasa yang ditimbulkan jauh dari kata biasa. Dina kembali mencoba mengingat kapan terakhir kali ia terluka seperti ini. Huft, sepertinya sudah lama sekali.
"Sudah. Kamu bisa istirahat sebentar sebelum pulang," ucap Om Nico seraya merapikan kembali kotak P3K.
"Pa, Nino laper. Mau makan." Sekilas Om Nico tampak mengangguk, kemudian ia menoleh ke arah Dina. "Kamu mau ikut makan, Dina?"
Dina menggeleng canggung. "Nggak usah, Om. Aku langsung pulang aja," tolaknya.
"Ayo dong Kak Din, makan bareng kita," bujuk Nino dengan ekspresi memelas. Hah, kalau sudah begini Dina mana bisa menolak.
"Oke, Kak Din mau."
Bocah itu bersorak gembira. Dengan tangan kecilnya ia mencoba membantu Dina berdiri. Kemudian menuntun gadis itu menuju meja makan. Di sana, berbagai makanan telah rapi dihidangkan. Dan ya, seketika Dina merasa lapar.
Mereka makan dengan khidmat. Tak ada yang bicara, hanya detingan sendok garpu yang menjadi pengisi keheningan. Nino yang biasanya cerewet pun memilih diam, sepertinya ini adalah ajaran Om Nico untuk tidak bicara di saat makan.
Dina memutuskan langsung pulang setelah makan, Om Nico mengantarnya sampai depan. Bukan hanya itu, pria itu juga memastikan Dina pulang dengan selamat.
Jika terus begini, Dina bisa-bisa semakin besar kepala. Ia merasa, besar kemungkinan Om Nico juga menyukainya. Tapi—
Tidak, tidak!
Kali ini Dina tidak ingin berpikir macam-macam dan membiarkan perasaanya terbang membayangkan Om Nico yang akan segera menjadi miliknya. Seutuhnya dan selamanya.
***
__ADS_1