
Hari demi hari berlalu. Dina sudah kembali seperti semula, dirinya juga sudah meminta maaf sekaligus berterima kasih terhadap Nico yang begitu banyak membantunya. Ah, memikirkan itu membuat Dina merasa berbunga-bunga dan ingin segera menjadikan Om Nico sebagai miliknya. Astaga! Pemikiran macam apa ini?
"Kak Din kok bengong?" Tanya bocah kecil itu sambil menarik-narik celana Dina. Dina tersentak, kemudian tersenyum ke arah Nico.
"Wah, Nino keren banget, tambah ganteng," ujarnya yang memang benar adanya. Ia menyejajarkan tubuhnya dengan anak lelaki itu, lalu mengacak rambutnya gemas.
Nino tersenyum lebar, "makasih Kak. Ini Papa lo yang milihin bajunya."
Senyum Dina semakin lebar. "Iya-iya, kelihatan kok." Lalu, keduanya sama-sama terkekeh hingga seorang pria datang menghampiri keduanya.
"Kalian sudah selesai?" Tanya Nico, menengahi pembicaraan keduanya. Pria itu juga sama tampannya, Dina sampai tak bisa berkata-kata.
"U-udah, Om." Sial! Kenapa suaranya bergetar?! Umpat Dina dalam hati.
Sekilas Om Nico tampak mengangguk. Hari ini, sesuai dengan permintaan Nino, ia akan mengajak Dina pergi ke tempat wisata yang ada di dalam kota. Putranya begitu bersemangat sampai-sampai—mungkin—membuat Dina tak enak untuk menolaknya.
Mereka bertiga lalu memasuki mobil. Nino mengajak Dina untuk duduk di belakang dan membiarkan Ayahnya sendirian menyupir di depan. Selama di perjalanan Nino tak henti-hentinya membuat keributan. Ia bercerita banyak hal kepada Dina, mulai dari teman-teman di sekolahnya hingga keluhan Nino mengenai toilet sekolah yang sering mengeluarkan bau menyengat. Dina tertawa terbahak-bahak di buatnya.
"Oh ya? Terus kalau Nino kebelet pipis gimana?" Tanya Dina setelah tawanya reda.
"Nino bakal tutup hidung," jawab Nino seraya menjepit hidungnya.
Lagi, Dina tertawa. Entah apa yang ada dipikirkannya hingga tertawa sedemikian kerasnya. Lalu, tanpa sengaja tatapan Dina bertuburukan dengan Om Nico yang tengah meliriknya di kaca spion. Dengan segera Dina menghentikan tawanya dan berdeham singkat.
"Em, harusnya Nino lapor sama guru," saran Dina.
"Buat apa, Kak?" Nino mengerutkan dahi, tanda tak mengerti.
"Biar toiletnya dibersihin dan nggak bau lagi."
"Oke, Kak. Kapan-kapan kalau toilet di sekolah bau lagi, Nino bakal kasih tau guru."
__ADS_1
"Pinter," puji Dina.
"Kita sudah sampai," ucap Om Nico tiba-tiba. Dina bahkan tak menyadari bahwa mobil yang mereka naiki telah berhenti.
Ketiganya keluar dari mobil. Om Nico membawa mereka ke sebuah taman bunga yang sedang hits karena banyak tempat yang cocok untuk berswafoto.
"Kak, ayo kita ke sana! Nino mau metik bunga," ajak bocah itu dengan semangat seraya menarik lengan Dina kuat.
"Bunganya nggak boleh dipetik, Nino. Lihat peraturannya," kata Om Nico sambil menunjuk sebuah poster bergambar.
"Yah, nggak boleh metik bunga," ucap Nino lesu. Bahunya seketika turun mendengar penuturan sang ayah.
"Nggak masalah, kita 'kan bisa liat-liat bunganya. Sambil foto-foto juga." Dina memamerkan senyum lebarnya, berharap anak itu mendapatkan kembali semangatnya.
Nino mengangguk, walau raut wajahnya masih menampakkan kekecewaan, namun setidaknya ia tidak menolak ketika Dina mengajaknya berkeliling melihat-lihat keindahan dari bunga yang ditawarkan.
Sedangkan Om Nico hanya mengawasi dari belakang, pria itu sesekali tersenyum ketika melihat kelakuan Dina yang sedikit kekanakan ketika berhadapan dengan putranya.
"Ish, kamu sih gerak-gerak makanya hasilnya nggak bagus," bela Dina tak terima. "Om Nico nggak ikutan foto?"
"Iya, ayo Pa!" Ajak Nino.
Akhirnya Om Nico mengangguk mengiyakan. Ia berdiri di samping Nino yang telah bergaya ala bocah seusianya. Dina menyerit ketika menyadari ekspresi Om Nico sama sekali tak berubah sejak jepretan pertama.
"Senyum dong, Om. Biar cakep. Ya, kek gitu. Tahan ya Om. Nino cepet ambil gaya," titah Dina layaknya fotografer profesional.
"Sudah, saya capek foto terus. Kamu, enggak?" Tanya Om Nico kepada Dina.
"Boleh, Om yang ambil fotonya ya?" Sekilas Om Nico mengangguk, dengan segera Dina menyerahkan ponsel pintarnya. Tak ingin ketinggalan Nino juga ambil bagian. Mereka berpose dengan latar belakang yang berbeda-beda, Om Nico juga terlihat masih sabar meneladeni mereka. Toh, tujuannya kemari memang untuk membuat putranya bahagia.
Cukup lama mereka di sana, mengambil gambar yang sudah tidak terhitung banyaknya. Juga mengagumi keindahan taman. Dina berencana akan mengajak keluarganya untuk liburan di tempat ini. Selain tempatnya yang tidak terlalu jauh, harga tiket masuk pun sangat ramah di kantong. Ah ya, jangan lupakan pemandangan sejuk sejauh mata memandang.
__ADS_1
"Ini sudah masuk makan siang, sebaiknya kita pulang sekarang," kata Om Nico.
"Masa pulang sih, Pa? Nino 'kan masih mau main di sini," keluh bocah kecil itu.
"Bener kata Papa, Kak Din juga udah laper banget. Nino nggak mau makan, emang?" Bujuk Dina yang kini telah menyejajarkan tinggi badan mereka.
"Mau Kak, tapi Nino masih pengin main di sini."
"Kita bakal ke sini lagi kok kapan-kapan." Lagi, Dina tak menyerah. Sebenarnya ia juga sedikit merasa kelelahan akibat mengikuti Nino yang sangat aktif.
"Oke, Nino mau. Lain kali main ke sini lagi ya, Pa?"
"Iya," jawab Om Nico.
***
Hari semakin petang, sebuah mobil terlihat berhenti tepat di depan pekarangan. Om Nico menoleh melihat sekilas Dina beserta putranya yang sedang terlelap. Ia menghela napas panjang, lalu keluar dan membuka sisi pintu mobil. Kemudian mengangkat putranya penuh kehati-hatian. Setelah memastikan Nino tidur dengan nyaman di kamarnya. Giliran Dina yang harus ia bangunkan. Padahal, bisa saja ia membopong gadis itu dan membiarkannya tidur di rumahnya. Namun, terakhir kali ia lakukan. Dina harus berakhir di rumah sakit dan sungguh, pria itu tidak berencana mengulang hal itu kembali.
"Dina, bangun." Tepukan berkali-kali di bahu akhirnya mampu membangunkan Dina yang pulas. Gadis itu mengerang sesaat, kemudian mengerjap dan sedikit tersentak ketika melihat Om Nico tepat berada di depan wajahnya.
"Om Nico mau ngapain?" Tanyanya gugup.
"Saya cuma mau bangunin kamu." Lalu, pria itu menjauhkan diri. Membiarkan Dina keluar dari mobil itu.
Gadis itu tampak menunduk malu. "Oh, udah sore ya, Om. Kalo gitu aku pulang dulu, Om." Tanpa banyak kata lagi Dina setengah berlari menuju rumahnya yang tepat berada di samping rumah Om Nico.
Jantung Dina berdebar keras campuran antara lelahnya berlari dan gugup karena Om Nico berada begitu dekat dengannya. Bahkan sekarang wajahnya masih terasa panas. Cara Om Nico membangunkannya dengan penuh perasaan benar-benar menyentuh hatinya yang terdalam. Astaga!
"Dina? Udah pulang kamu. Gimana tadi jalan-jalannya?" Tanya sang ibu. "Terus kenapa kamu senyum-senyum nggak jelas begitu?"
Dina menggeleng, kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi wajah yang sudah semerah tomat ini. Kemudian, ia berjalan cepat menuju kamarnya. Mengabaikan sang ibu yang pasti tengah dilingkupi oleh banyak tanda tanya.
__ADS_1
***