
Hari-hari Dina lalui dengan sunyi, tak ada pancaran kebahagian yang tercurah di wajahnya. Ia seolah hidup tanpa jiwa. Belum lagi wanita itu semakin sering berkunjung ke rumah Om Nico, bermain bersama Nino yang kini juga melupakannya.
Setiap kali ia mengingat hal itu, air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Namun, Dina tidak bisa menyalahkan siapa-siapa termasuk Om Nico. Pria manapun akan lebih memilih wanita dewasa, penyanyang dan keibuan, tidak seperti dirinya yang masih terhitung bocah ingusan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dina mendongak dan melihat kakak perempuannya tengah berdiri dengan tangan terlipat di dada.
"Mau sampai kapan ngrung diri di kamar?" Tanyanya.
"Suka-suka aku dong!" Ketus Dina. Memalingkan wajah agar menutupi matanya yang memerah.
Frisca mengembuskan napas panjang, menghampiri sang adik dan mengusap pelan kepalanya yang tertunduk.
"Keluar yuk, Mama masak opor ayam loh," rayu Frisca.
"Nanti aja Kak, aku nggak laper."
Frisca manggut-manggut mengerti. "Kalau kamu punya masalah, selesaikan. Jangan dibiarkan terus malah semakin melebar," ucapnya masih setia mengelus lembut rambut sang adik.
"Kakak juga pernah kok berantem sama temen yang udah Kakak anggap saudara sendiri, tapi kita akhirnya baikkan setelah meluruskan salah paham."
Bukan. Bukan karena bertengkar dengan sahabatnya Dina menjadi seperti ini, namun ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya hingga mengarang cerita. Bahwa ia dan Tika sedang berselisih paham. Semoga Tika mengerti dan tidak mempermasalahkan ini.
"Iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Dina, karena sesungguhnya ia tak tahu harus berkata apa.
"Jadi, kita makan sama-sama? Kamu nggak mau dapat sisa, 'kan?" Tawar Frisca.
"Hm, nanti kakak makan semua lagi ayamnya terus aku cuma disisain tulang," jawab Dina seraya bangkit dari kasurnya. Berjalan bersama sang kakak keluar kamar.
***
Dina berdecak kesal, karena ibunya menyuruh ia melakukan sesuatu yang dulu sangat ia sukai namun kini begitu Dina benci. Apalagi kalau bukan pergi ke rumah Om Nico.
"Ma, 'kan ada Kak Frisca. Dia aja deh yang anter opor ayam ke sana," tolak Dina kesekian kali.
"Kamu kenapa sih? Biasanya juga paling semangat kalo di suruh ke sana. Kamu nggak pengin main sama Nino apa?" Tanya Sarah heran. Aneh saja melihat putrinya yang ogah-ogahan pergi ke rumah tetangganya itu. Padahal, biasanya Dina yang memaksa agar diizinkan untuk pergi.
"Dengar ya, Din. Mama ngerti kamu lagi nggak mood karena masalahmu sama Tika. Tapi jangan semua hal kamu seret dalam masalah itu. Profesional dong, Din."
__ADS_1
Gadis itu menarik napas panjang-panjang. Mulutnya hampir saja berucap tentang masalah sebenarnya, bukan dia dengan Tika melainkan tetangganya. Dina cemburu melihat Om Nico bersama wanita itu. Untung saja otak warasnya masih tersisa, sehingga Dina urung mengatakannya.
"Ya udah deh, mana? Dina anterin."
Sarah tersenyum sumringah. "Gitu dong, baru anak mama."
Segera Sarah mengambil tempat untuk menaruh opor ayamnya. Menyusun serapi mungkin dan memberikannya kepada Dina.
"Nih, bawanya hati-hati jangan sampai miring. Kalau kamu mau main dulu sama Nino, Mama nggak masalah. Asal jangan pulang kesorean," pesan wanita itu. Dina hanya bergumam sebagai tanggapan. Mungkin jika situasinya tidak seperti sekarang, Dina akan senang mengajak Nino untuk bermain sambil memerhatikan Om Nico diam-diam.
Dina tiba di perkarangan rumah tetangganya. Lagi-lagi mobil calon istri Om Nico ada di sana. Ingin rasanya ia berbalik dan mengatakan pada sang mama bahwa Om Nico tidak sedang ada di rumahnya. Karena sesungguhnya ia belum siap lahir batin berhadapan dengan wanita yang telah mengambil posisinya.
Namun, sampai kapan ia menghindar? Bukankah hari ini, besok atau lusa rasa sakitnya tetap akan sama?
Baiklah, tak ada alasan untuk mundur. Dina harus belajar menerima kenyataan pahit.
Gadis itu mengetuk pintu, tak lama Om Nico keluar dengan gaya kasualnya.
"Ini Om, dikasih Mama," katanya sambil menyodorkan rantangan di tangannya.
"Terima kasih, tempatnya mau langsung diambil?" Pria itu bertanya seperti biasa. Tidak ada setitikpun penyesalan di wajahnya. Oh, tentu saja, kenapa pria itu harus menyesal? Nyatanya, semua perasaan itu hanya dimiliki oleh Dina dan tidak untuk Om Nico. Pria itu jelas hanya menganggapnya sebagai tetangga.
"Oke, kamu boleh masuk sebelumya."
"Nggak Om, makasih. Aku tunggu di sini aja."
Pria itu hanya mengangguk acuh. Dia bahkan tidak bertanya tentang sikap aneh Dina. Ck, kenapa bisa Dina mencintai pria berhati batu seperti Om Nico?!
***
Seorang gadis tampak tengah kebingungan di tengah keheningan. Hari ini, Dina sedang melaksanakan ujian dadakan. Sebenarnya tidak bisa dibilang dadakan karena sudah diberitahu seminggu yang lalu, namun kondisi Dina yang sedang galau berat membuatnya mengabaikan segala hal bahkan yang penting seperti.
Dina melirik Tika yang sedang fokus di sampingnya. Menyenggol pelan lengannya.
"Tik, gue nyontek dong, pliss," bisik Dina pelan, memastikan guru pengawas tidak mendengarnya.
"Ogah! Jawab sendiri," balas Tika yang juga berbisik.
__ADS_1
"Gue bakal traktir lo makan siang di kantin. Plis Tik, gue nggak belajar sama sekali," pintanya memohon.
"Oke." Dina tersenyum sumringah mendengarnya. Dengan perlahan, Tika menggeser lembar jawabannya. Dina menajamkan indra penglihatan dan menyalin dengan cepat.
"Sisanya entar," ucap Tika.
"Sip-sip, gue tunggu."
Sejam kemudian, jam istirahat berbunyi. Mereka segera bergegas ke kantin. Dina mentraktir Tika sesuai janjinya. Ia tak masalah mengeluarkan beberapa rupiah demi jawaban pasti ulangan tadi.
"Bukannya lo biasa paling rajin kalo soal Ekonomi? Kenapa lo bisa lupa belajar?" Tanya Tika heran.
Ya, Dina menyukai pelajaran Ekonomi, walaupun jurusannya IPA.
"Ah, pasti nggak jauh-jauh dari tetangga lo? Ya 'kan?"
Gadis menghembuskan napas perlahan dan mengangguk malas.
"Dia mau nikah sama perempuan lain. Gue nggak terima, nggak ikhlas pokoknya. Selama ini gue berjuang mati-matian, gue deketin anaknya biar Om Nico notice gue. Sekarang apa? Perjuangan gue sia-sia."
Tika memerhatikan Dina dengan saksama. Mulai mengerti permasalahan sahabatnya. Ia tahu sebesar apa pengorbanan Dina, ia tahu bagaimana kerasnya usaha Dina agar Om Nico melihatnya, dan Tika mengerti kesedihan sahabatnya sekarang.
"Gue tau Din, tapi coba lo introspeksi diri. Selama ini apa cara lo deketin Om Nico itu bener? Atau salah dan malah bikin Om Nico lo itu makin nggak demen sama lo?"
"Hah? Maksudnya?"
"Maksud gue, mungkin aja lo terlalu agresif, karena kebanyakan laki-laki lebih suka perempuan anggun dan manis. Jadi ya, Om Nico males gitu sama lo."
Dina membuka mulut, namun tak lama kembali menutupnya. Butuh waktu bermenit-menit untuknya mencerna apa yang Tika katakan. Jujur, ia tak pernah memikirkan itu sebelumnya.
"Maksud lo, Om Nico jijik sama gue? Makanya dia nggak pernah nganggap gue, gitu?"
"Jijik terlalu kasar sih menurut gue. Tapi, mungkin aja karena usia kalian beda jauh, dan dia nggak tau kalo lo, suka dia."
Usia. Jelas Dina melupakannya. Ia baru sadar bahwa umurnya berbeda jauh dari pria itu. Dina juga baru ingat status Om Nico adalah duda.
"Tapi cinta 'kan nggak mandang usia, Tik," katanya membela.
__ADS_1
Sahabatnya hanya mengangkat bahu tak mengerti. Membuat Dina lagi-lagi berkutat dengan pikirannya sendiri. Jika benar usia jadi penghalang keduanya. Bagaimana cara Dina agar meyakinkan Om Nico?
***