Wajib Diisi

Wajib Diisi
Delapan


__ADS_3

"Tikaaaa, gue seneng banget!" Seru Dina seraya mengguncang bahu sahabatnya itu.


"Ck, seneng boleh tapi nggak sambil nyiksa gue juga kali, Din," balas Tika berdecak kesal.


"Ah, lo mah, nggak seru," keluh Dina sambil memanyunkan bibirnya. Namun, ia tetap mengambil tempat di samping Tika.


"Dih, ngambek, nggak suka gue. Lo bahagia kenapa emang?"


Mimik wajah Dina berubah sumringah. "Om Nico." Belum sempat gadis itu melanjutkan, Tika lebih dulu mendengus geli. Ia menggeleng, tak ingin mendengar kisah yang akan Dina sampaikan.


"Tau gue, tau. Dia keren, seksi, ganteng. Itu 'kan yang mau lo bilang? Udah apal, gue!"


Dina berdecak, ia menarik lengan sahabatnya guna menghentikan sesendok nasi yang hampir mendarat di mulut Tika. Membuat Tika geram karenanya. Gadis itu meringis sesaat, sebelum melanjutkan ceritanya.


"Dia gendong gue waktu kaki gue keseleo. Demi apa gue seneng banget, astaga!"


"What? Kok bisa? Lo keseleo gimana?"


"Waktu itu, kita joging bareng. Gue nggak sengaja jatuh, dan akhirnya Om Nico gendong gue di punggungnya sampe rumah. Bukan cuma itu, Om Nico ngobatin gue baru anterin gue pulang ke rumah. Gila, romantis banget 'kan dia?" Jelasnya dengan mengingat kembali masa-masa itu. Masa di mana Dina ingin menghentikan waktu. Namun, jelas hal itu tidak mungkin, karena dirinya hanya bisa mengingat memori itu dan berharap dapat mengulangnya kembali. Tentu, dengan minus kakinya yang terkilir.


"Oh ya?" Sepertinya Tika juga mulai bersemangat mendengar cerita Dina. Selama ini ia selalu menjadi pendengar yang baik jika Dina sudah mulai menceritakan Om Nico yang begitu gadis itu gilai.


"Bagus dong, kemungkinan besar dia juga suka deh sama lo."


Kata-kata Tika jelas menambah bara dalam api semangat Dina untuk terus memperjuangkan cintanya.


"Gue juga mikir gitu, tapi setelah lo yang bilang. Gue makin yakin."

__ADS_1


"Ya-ya, gue dukung lo sepenuhnya."


Dina mengangguk mengiyakan. Terlepas dari segala kejudesan dan kesinisan Tika, dia lah yang paling mengerti perasaan Dina. Mulut pedasnya selalu memotivasi Dina agar berani maju, dan pantang menyerah.


***


Hari ini adalah hari tersibuk bagi Dina. Ia dengan gagahnya mengawasi bahkan membantu dalam mendekorasi rumah Om Nico yang akan menyelenggarakan pesta ulang tahun Nino.


"Dina, kamu bisa istirahat sebentar. Padahal saya nggak maksa kamu untuk ngelakuin ini semua," kata Om Nico yang entah sejak kapan ada di belakangnya.


Dina tersenyum lebar. "Santai aja, Om. Aku ikhlas kok."


"Tetap saja ini merepotkan kamu." Gadis itu hanya mengedikkan bahu tak peduli. Ia benar-benar serius ketika mengatakan bahwa ini semua tulus dari dalam hatinya. Dina juga belum merasa kelelahan. Lagi pula hanya setahun sekali.


"Kita bisa makan sebentar, Dina. Ada banyak orang yang akan handel ini semua."


Dina tentu tergiur dengan tawaran yang Om Nico berikan. Tanpa penolakan ia mengangguk mengiyakan. "Boleh."


"Hai, Nico," sapa wanita tersebut. Parasnya begitu cantik, senyumnya manis yang akan membuat pria manapun tak mampu mengabaikan visual yang ditampilkan. Begitu pula Om Nico, Dina melirik sekilas ke arah pria itu yang tengah membalas sapaan dengan senyuman.


"Kamu? Siapa?"


Dina tersentak, ia yakin pertanyaan tersebut di tujukan untuknya.


"Aku tetangga Om Nico, Tan," balas Dina masih berusaha sopan.


"Ah, ya? Lagi bantu-bantu persiapan ulang tahun Nino ya?" Lagi, wanita itu bertanya.

__ADS_1


"Iya, Tan."


"Duduk Dina, dan makan ini," kata Om Nico seraya mengulurkan kotakan berisi nasi. "Jangan sampai kamu kelaparan."


Lihat, Om Nico masih perhatian padanya. Tapi kemudian, perasaan tak nyaman kembali merayapi ketika melihat Om Nico bersama wanita itu tengah membicarakan sesuatu seolah ia dan Nino hanya benda tak bernyawa. Terlupakan untuk sementara.


Obrolan itu terus berlanjut, tak ada yang Dina mengerti dari semua percakapan itu. Ia hanya diam dan sesekali mengajak ngobrol Nino yang juga tengah asik dengan mainan barunya.


Dengan kesal Dina bangkit. "Om, aku mau pulang."


"Kalau gitu terima kasih untuk hari ini, Dina. Kamu sudah sangat membantu dan jangan lupa untuk datang ke acaranya."


"Ya," jawab Dina cuek. Ia berbalik, hampir pergi sebelum mendengar suara dari wanita itu. Walau bukan ditujukan untuknya, namun hal itu sukses membuatnya terpaku.


"Kamu harus undang dia di pernikahan kita."


Dengan segera Dina kembali ke tempat semula, ia tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya.


"Ka-kalian mau nikah? Om Nico?"


Wanita itu mengangguk dengan senyum tulus di wajahnya. "Ya. Doakan saja semoga kami bisa menemukan tanggal yang bagus tahun ini."


"O-oke."


Kemudian ia berlari keluar dan pulang ke rumahnya. Mengabaikan panggilan Om Nico yang pasti merasa aneh dengan tingkahnya. Terserah! Dia tidak yakin akan bisa bertahan lebih lama lagi jika terus-terusan berdiri di sana.


Jika sudah begini, apa Dina kehilangan kesempatan untuk memiliki Om Nico?

__ADS_1


Tapi kenapa Om Nico begitu perhatian akhir-akhir ini, seolah ia menempati posisi spesial di hati pria itu?


***


__ADS_2