
Dina merasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia meringis, lalu memandang sekitar yang tampak asing. Disaat yang sama, ia merasakan seseorang mengusap lembut rambutnya. Dina mengenal sentuhan ini. Sentuhan lembut milik ibunya.
"Dina, ini Mama." Dina menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. Sedikit demi sedikit memorinya pulih hingga ia mengingat mengapa bisa berakhir di tempat ini.
"Ma, Papa nggak salah. Dina yang udah bikin Papa kecewa," ucapnya. Hal itu membuat Sarah menangis tanpa bisa dicegah. Bagaimanapun ia tidak bisa menerima bahwa putrinya disakiti oleh ayahnya sendiri.
"Badan kamu pasti sakit semua." Ingin sekali Dina membenarkan ucapan ibunya. Namun ia yakin itu hanya akan memperburuk keadaan.
"Dina baik kok, Ma. Istirahat sebentar pasti sembuh."
"Mama tau kamu bohong," balas Sarah.
Belum sempat Dina mengelak, pintu lebih dulu terbuka. Menampilkan Frisca yang terengah karena lelah.
"Astaga, Dina! Kamu nggak pa-pa kan?" Tanya kakaknya panik. Dina hanya mengangguk pelan.
Sarah dengan cepat menegur putrinya. Mengatakan bahwa Dina baru saja sadar dan tidak seharusnya diganggu. Ia juga menyuruh Frisca untuk beristirahat setelah berlarian tadi.
__ADS_1
"Ma, tadi bukannya ada Om Nico ya?"
"Ah, itu, dia langsung pamit pulang, ada urusan penting katanya."
"Oh." Jujur, Dina sama sekali tidak menyangka bahwa Om Nico lah yang menolongnya. Ia pikir setelah semua kejadian yang mereka alami, Om Nico akan mulai menjauhinya dan tidak akan peduli.
Oh ya, bagaimana Om Nico bisa tahu kondisinya saat itu? Nino. Astaga! Tentu saja, bocah itu mengetahui segalanya. Dina mulai merasa bersalah sekarang. Pasti Nino merasa terkejut. Ia terlalu kecil untuk melihat semuanya.
***
Gadis itu baru saja merasa terlelap dalam tidurnya, namun hal itu mulai terganggu dengan adanya remasan lembut di jari-jari tangannya dan isak tangis memilukan. Perlahan, Dina membuka mata melirik seorang pria yang menundukkan kepala.
Banu mendongak dan tersenyum tipis. "Maaf, kamu jadi bangun."
Dina menggeleng pelan dan membalas senyuman itu. "Bukan salah Papa."
"Kamu pasti kesakitan. Maafin Papa, Dina. Papa nggak nyangka bakal nyakitin kamu." Lagi, Banu meneteskan air matanya. Sungguh, hatinya tercabik tak terkira melihat kondisi putri tercintanya saat ini. Beberapa bagian tubuh Dina lebam membiru. Itu hanya yang terlihat, belum termasuk punggung, perut dan paha yang juga Banu layangkan besutan menggunakan ikat pinggang.
__ADS_1
"Papa emang bikin badan Dina sakit semua, tapi Papa nggak sepenuhnya salah. Semua orang tua pasti akan sakit hati ngeliat anaknya ngelakuin hal yang nggak bener."
Banu tidak bisa berkata-kata. Hanya saja ia sangat bersyukur memiliki putri yang pengertian seperti Dina. Awalnya ia takut, Dina akan menjauhinya bahkan trauma atas kehadiran Banu. Belum lagi sang istri yang masih sangat kecewa padanya hingga menolak untuk bicara. Banu benar-benar merasa terbebani karena itu.
"Tapi Dina, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?"
Dina mengangguk dan mulai menjelaskan alasan mengapa ia bisa berakhir di klub malam. Ia bercerita bahwa ia merasa tertarik atas ajakan seorang teman. Namun, di sana ia malah terjebak bersama pria mata keranjang yang mencoba untuk mendekatinya. Kemudian ada Om Nico yang datang entah dari mana, menolong Dina dengan membiarkan ia menginap di rumah pria itu, karena Om Nico tahu bahwa kondisinya tidak memungkinkan untuk pulang.
"Katanya Papa liat fotoku bareng Om-Om? Foto itu dari siapa, Pa?"
Ayahnya tampak mengehela napas berat. "Papa nggak tau, nomor tidak dikenal yang mengirim. Tapi Papa yakin bahwa itu kamu, Papa tidak mungkin salah mengenali putri Papa sendiri."
Mungkinkah salah satu teman Dina yang juga ada di sana yang mengirimkan foto itu? Kalau iya, maka hal Dina tidak akan pernah memaafkannya.
"Kalau Papa kenal putri Papa, seharusnya Papa tanya kebenarannya dulu sama Dina."
Banu mengusap kepala Dina pelan. "Iya. Papa minta maaf soal itu. Sekarang kita damai, gimana?"
__ADS_1
Gadis itu tersebut mengangguk setuju. Banu kembali tersenyum dan menyuruh Dina untuk tidur. Bagaimanapun, ini masih tengah malam dan Dina membutuhkan istirahat untuk pemulihannya.
***