
"Saya tahu, ini Risma dan suaminya."
"Hah?!"
Dina tidak bisa menutup-nutupi keterkejutannya. Oh, bagaimana jika Dina salah dengar? Mungkin Om Nico mengucapkan kata-kata lain yang bukan berarti suami.
"Om Nico ngomongnya bisa pelan-pelan, nggak? Keliatannya aku salah dengar deh tadi," pintanya.
"Semua yang kamu jabarkan ke saya, saya sudah tahu itu sejak lama, karena memang mereka adalah Risma dan suaminya."
Reaksi Om Nico sangat di luar dugaan bagi Dina. Bukankah seharusnya Om Nico marah? Merasa terkhianati dan segala emosi menyakitkan lainnya? Tetapi mengapa seseorang yang berada di hadapan Dina ini berbeda? Bahkan tidak ada raut terkejut di wajahnya.
Apa jangan-jangan selama ini Om Nico tahu bahwa ia berhubungan dengan wanita beristri dan karena sudah terlanjur mencintai, ia ingin menikahi wanita itu apapun yang terjadi. Mengabaikan fakta bahwa wanita itu sudah bersuami.
Jadi, Om Nico adalah perebut istri orang? Jika benar, Dina harus menyadarkan pria itu bahwa apa yang dilakukannya adalah salah.
Dina menggeleng keras. "Nggak, Om Nico nggak boleh nikahin perempuan bersuami. Om Nico itu ganteng, keren, tajir dan," kalimat Dina terhenti. Ia harus mencari kata pujian yang akan mengurungkan niat buruk Om Nico. "Perfect! Pastinya semua perempuan berlomba-lomba untuk jadi istri Om Nico."
Om Nico tidak merespons. Pria itu hanya menatap Dina lurus.
"Semua perempuan?"
Gadis itu mengangguk cepat. "Aku yakin semua perempuan pasti mau sama Om Nico."
__ADS_1
"Kamu tidak mau bertanya apa alasan saya sebenarnya?" Dalih Om Nico.
Benar, sejak tadi Dina hanya berspekulasi sendiri tanpa bertanya kejadian sesungguhnya. "Om Nico mau nikahin Tante Risma walau dia bersuami?" Dina berkata ragu.
Om Nico tampak menggeleng dan menarik napas panjang. Sungguh, Dina jadi semakin penasaran.
"Saya akan jujur. Sebenarnya Risma adalah sepupu saya. Kami memiliki sebuah rencana untuk melakukan sesuatu."
Kembali Dina dibuat bingung. Jadi mereka cuma sepupuan?! "Apa?"
"Menghapus perasaan terlarang saya untuk seseorang."
Seketika bahu Dina merosot jauh kala mendengarnya. Lagi-lagi Om Nico mematahkan hatinya. Namun, ia juga bertanya-tanya siapakah perempuan itu? Perempuan beruntung yang dicintai oleh Om Nico tanpa mengerahkan usaha keras seperti yang Dina lakukan.
"Seseorang."
Baiklah, sepertinya Om Nico belum mau memberitahu siapa perempuan itu. "Em, kenapa Om Nico mau hapus perasaan sama dia? Apa jangan-jangan dia istri orang juga?"
Sontak Om Nico tertawa mendengarnya. "Bukan. Umurnya masih jauh dari kata pernikahan. Itu yang membuat saya tidak yakin dan ingin menghilangkan perasaan ini."
Dina manggut-manggut paham. Namun, masih ada yang mengganjal. "Kenapa harus bikin skenario pura-pura nikah?"
"Agar dia menyerah dan tidak lagi berpikir untuk memiliki saya," jawab Om Nico.
__ADS_1
"Jadi kalian saling suka?" Om Nico tampak mengangguk walau ragu. Dina menegakkan tubuhnya agar terlihat lebih serius. "Yang seharusnya Om Nico pikirin adalah gimana caranya supaya kalian bisa bersatu. Masalah usia, pasti perempuan itu juga nggak peduli, buktinya dia juga suka sama Om Nico."
"Hm, begitu. Jadi Dina kamu tidak masalah kalau hubungan kita diresmikan. Sungguh, saya lelah terus berpura-pura."
Keheningan menyelimuti mereka. Dina berkali-kali mengerjapkan mata, meresapi ucapan yang keluar dari mulut pria di hadapannya.
"Ma-maksud Om Nico apa?"
Lalu tanpa diduga Om Nico bangkit dari duduknya. Menghampiri Dina dan berlutut sembari memegangi kedua tangan Dina yang berada di pangkuannya. Sontak Dina menegang dalam duduknya.
"Perempuan itu adalah kamu. Saya tahu setiap kunjungan kamu ke mari adalah agar kamu bisa melihat saya, berusaha dekat dengan saya." Pria itu meremas tangan Dina dengan lembut, hingga gadis tersebut merasakan kehangatannya.
"Awalnya saya cukup terganggu. Namun, setelah banyak kejadian, saya mulai sadar bahwa saya juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, saya tahu bahwa ini akan menjadi masalah untuk ke depannya. Lalu, terbitlah skenario pernikahan palsu."
"Kamu percaya, merasa kecewa dan kemudian mulai jarang mengunjungi rumah saya. Hm, makanya Nino sering sekali menangis karena tidak lagi memiliki teman." Om Nico terkekeh sendiri ketika mengingatnya. Kemudian mendongak, menatap sepasang mata Dina.
"Percayalah Dina, saya juga merasakan bahagia ketika kita bertemu, dan sakit ketika kita saling berjauhan." Ya, Om Nico selama ini harus selalu menahan diri. Diam-diam dia mengintip dari jendela, melihat pergerakan Dina di luar ruangan. Kadang gadis itu terlihat tengah menjemur pakaian atau mencuci motor kesayangan. Selama ada waktu, Om Nico selalu menggunakannya untuk mencari tahu tentang Dina. Bahkan, ia juga membuat akun palsu hanya untuk mem-follow Dina di media sosialnya. Ia akui, sangat sulit untuk menolak pesona gadis itu. Usahanya untuk melupakan perasaan gagal total, apalagi setelah kejadian ini.
"Kamu tidak ingin mengucapkan sesuatu, Dina?" Tanyanya. Sebenarnya, ada banyak pertanyaan yang merasuki kepala Dina. Keingintahuannya begitu besar, namun mulutnya terasa kelu dan tidak mampu mengucapkan satu katapun. Dina masih sangat terkejut, hingga akhirnya hanya bisa diam di tempat. Bernapas pun rasanya sulit, karena Dina tiba-tiba melupakan caranya.
"A-aku nggak ngerti Om Nico ngomong apa," jawab Dina.
Tanpa peringatan Om Nico bertumpu menggunakan lututnya guna menyejajarkan tinggi mereka dan memeluk Dina erat. Kemudian berbisik tepat di telinga gadis itu. "Saya cinta kamu."
__ADS_1
***