Wajib Diisi

Wajib Diisi
Empat Belas


__ADS_3

Dina terbangun di pagi hari dengan perasaan asing yang melingkupi. Entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa begitu mual dan perutnya seolah teraduk-aduk, membuat Dina dengan cepat memuntahkan isi perutnya di samping ranjang yang ia tempati. Oke, dia akan membersihkan ini sendiri nanti.


Matanya menatap sekitar yang familiar, namun asing secara bersamaan. Di saat Dina sudah mengingatkan, ia membulatkan mata dan turun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu. Tidak salah lagi, ia berada di rumah Om Nico.


Dirinya mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Klub malam. Si Bartender. Om tua itu. Minuman. Om Nico. Ingatannya tidak begitu jelas, hingga ia memilih untuk mencari Om Nico dan menanyakan detail kejadian semalam.


Sebelum itu, Dina mengambil lap di dapur, kemudian kembali ke kamar untuk membersihkan bekas muntahannya. Di saat ia telah selesai, Dina dipertemukan dengan Om Nico.


"Om, kenapa aku bisa di sini?" Tanya Dina setelah menyapa. Ia tidak melihat Nino sama sekali. Apa mungkin bocah itu belum bangun?


"Kamu tidak ingat apa yang terjadi? Semalam kamu—" seketika Om Nico menghentikan kalimatnya yang menggantung. Dina sampai dibuat penasaran olehnya.


"Kenapa, Om? Aku ngelakuin hal buruk ya?" Tanya Dina was-was.


"Sangat buruk." Mau tak mau Om Nico mengingat kejadian semalam. Kejadian di mana Dina menyerangnya dan—oh, sebaiknya dia lupakan semua.


"Sebaiknya kamu pulang," ucap Om Nico. Tangannya merogoh saku celana. "Ini handphone kamu, saya kirim pesan kalau kamu menginap di rumah teman."


"Makasih, Om. Tapi—"


"Sudah, kamu pulang sekarang."


Dina tersentak sesaat, apa sebegitu tidak sukanya kah Om Nico padanya hingga mengusir secara terang-terangan? Jika semalam Dina sangat merepotkan, dari awal dia sama sekali tidak meminta bantuan. Jangankan meminta bantuan, mengingat kejadian semalam saja Dina harus merasakan sakit kepala.


"Oke, makasih Om, dan maaf sudah merepotkan," ucapnya sebelum beranjak keluar. Dina sama sekali tidak menoleh ke belakang.


***


Semuanya berjalan seperti biasa. Dina sudah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak menginjakkan kaki ke klub sialan itu. Ia sangat jera, apalagi teman-temannya waktu itu sama sekali tidak mempedulikan Dina.


Dina baru turun dari motornya. Kemudian menemukan Nino yang berada di perbatasan antara rumahnya dan Om Nico. Anak itu melambai ke arahnya dan berkata,


"Kak Din, main yok!"


Dina tampak berpikir. "Oke, tapi mainnya di rumah Kak Din aja ya?"


"Siap!" Jawab Nino. Kemudian ia berlari menuju rumah Dina. Mereka masuk ke dalam rumah bersama. Di dalam, Dina disambut oleh ayahnya yang memandangnya marah.


Dina menggenggam erat tangan mungil Nino. Dirinya yakin bahwa tidak membuat masalah hari ini. Namun, tetap saja jantungnya berdetak kencang melihat ayahnya menatap sedemikian intensnya.


"Papa. Papa kenapa? Marahan sama Mama ya?" Tanya Dina mencoba untuk tersenyum.

__ADS_1


"Kamu bohong kan sama Papa? Kamu nggak nginap di rumah temanmu tapi malah mabuk-mabukkan di klub malam?!"


Dina tergugu, bagaimana ayahnya bisa tahu?


"Pa, Dina emang ke sana, tapi Dina nggak ngapa-ngapain."


"Nggak mungkin!" Sentak Banu. "Apa Papa pernah ngajarin kamu hal yang nggak bener?! Papa sama sekali nyangka kamu salah pergaulan, Dina."


Gadis tersebut menggeleng dramatis. Matanya mulai berkaca-kaca karena tidak menyangka bahwa Banu akan sejarah ini padanya.


"Pa, dengar dulu. Dina nggak mabuk-mabukkan!"


"Bohong! Papa lihat foto kamu lagi minum sama pria yang seusia Papa! Kamu sadar apa yang kamu lakukan, Dina?!"


Kali ini Banu benar-benar marah. Ia menarik lengan Dina, mengabaikan Nino yang mulai ketakutan padanya. Pria itu menyeret Dina kasar, hingga pegangan Dina pada Nino terlepas.


Tanpa diduga Banu menampar pipi kanan putrinya. Dina meraung dengan keras bersamaan dengan Sarah yang datang entah dari mana.


"Astaga! Papa, berhenti."


Sarah mencoba untuk memisahkan putrinya dari kemarahan Banu. Namun dengan cepat Banu menepisnya.


Melihat itu semua, Nino memutuskan untuk berbalik pulang. Tubuhnya gemetar karena ketakutan. Dia berlari memasuki rumah dan berteriak memanggil ayahnya. Kebetulan, Nico sedang bersantai di ruang tengah dan ketika melihat Nino berlari ke arahnya dengan wajah panik. Ia segera bertanya.


"Nino, kenapa?" Tak dapat dipungkiri kini Nico dirundung panik melihat sang putra yang bersikap tidak biasa.


"Itu Pa, Kak Din dipukulin sama Papanya. Nino takut kalo ini salah Nino karena mau main sama Kak Din."


Nico masih belum mengerti maksud dari kalimat yang Nino ucapkan, kemudian menyuruh putranya untuk tenang dan bercerita secara jelas.


"Kamu jelasin pelan-pelan biar Papa ngerti," pinta Nico.


Nino mengangguk, bocah itu mengusap kasar matanya yang berair seperti habis menangis.


"Jadi pas Nino main di depan, Nino ngeliat Kak Din pulang sekolah. Terus Nino ajakin main dan katanya Kak Din, mainnya di rumah Kak Din aja. Pas kita masuk rumah, Papanya Kak Din keliatan marah terus mukulin Kak Din."


Nico tersentak mendengar penuturan sang putra. "Kamu serius?"


Nino mengangguk. "Papa, mabuk-mabukkan itu apa?"


Nico menyerit. "Kamu dengar kata-kata itu dari mana?"

__ADS_1


"Tadi, waktu Papanya Kak Din mukulin Kak Din."


Oh astaga! Jelas saja Banu geram terhadap Dina jika itu alasannya. Namun, tidak seharusnya pria itu memukuli putrinya mengingat bukan kesalahan Dina sepenuhnya. Gadis itu hanya terlalu polos dan tidak mengerti cara kerja dunia luar.


Nico mengusap wajahnya kasar, sesaat kemudian ia memegang kedua pundak putranya dan tersenyum menenangkan.


"Kamu masuk kamar ya, kalau mau main di dalam aja sama Mbak Riri." Mbak Riri adalah pengasuh Nino sejak ia masih bayi.


"Iya, Pa."


Nico kembali duduk dan beraktivitas seperti biasa. Walau begitu, pikirannya berkecamuk memikirkan nasib Dina. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana syok dan marahnya Banu. Selama ini, Banu yang sudah Nico anggap kakak sendiri selalu mampu mengendalikan emosi, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.


Pria itu kemudian bangkit, sepertinya kali ini ia harus ikut campur dan mencoba meluruskan segalanya. Karena bagaimanapun Nico terlibat di dalamnya.


Dari luar ia sudah mendengar suara ribut-ribut dari rumah tetangganya. Nico mempercepat langkah dan langsung masuk tanpa mengetuk. Pemandangan tidak biasa menyambutnya. Di sana, Dina tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan, Banu berdiri memegang ikat pinggang dan Sarah menangis keras dan mencoba menghentikan suaminya, namun gagal karena tenaganya mereka jelas tidak sebanding.


Nico berlari menahan besutan ikat pinggang yang hampir mengenai tubuh Dina. Secepat kilat, Banu menoleh ke arahnya.


"Kak, berhenti. Kakak menyakiti Dina." Nico berusaha menyadarkan Banu yang sudah ditutupi kemarahan.


"Jangan ikut campur Nico, ini urusan keluarga kami. Dina telah membuatku malu."


"Dengar dulu, Kak. Aku tahu apa masalahnya karena aku juga terlihat di dalamnya. Kakak ingat, ketika Dina mengirim pesan bahwa ia menginap di rumah teman. Sebenarnya Dina tidur Dina tidur di rumahku dan yang mengirim pesan itu adalah aku."


Seketika tubuh Banu sedikit melemas. Sarah memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuh putrinya ke dalam pangkuannya.


"Kak, sebenarnya Dina dijebak. Dia tidak mengerti apa-apa, percaya padaku, Kak."


Nico mencoba untuk menjelaskannya dan sepertinya Banu sedikit mendapat pencerahan. Dilihatnya Dina yang lebam di beberapa bagian tubuhnya, bahkan seragam yang ia kenakan terkoyak dan robek menyebabkan luka yang mengerikan.


"Nico tolongin Dina, kita harus bawa dia ke rumah sakit."


Nico mengangguk cepat. Kemudian mendekat ke arah Dina yang lemah tidak berdaya. Gadis itu sedang berada diambang batas kesadarannya. Tanpa banyak kata, Nico mengangkat tubuh itu, membawanya keluar.


Sedangkan Sarah hanya bisa menatap suaminya kecewa. "Mas Banu keterlaluan! Mas bisa tanya baik-baik sama Dina, bukannya langsung main pukul! Aku nggak bisa maafin Mas kali ini."


Wanita itu langsung melenggang pergi setelah mengatakan itu semua. Mengabaikan panggilan sang suami yang terdengar menyesal karena berulang kali meminta maaf.


"Ya Tuhan, apa yang sudah kuperbuat?!" Sesal Banu.


***

__ADS_1


__ADS_2