Wajib Diisi

Wajib Diisi
Tiga


__ADS_3

"Pa," panggil Dina untuk seorang pria paruh baya di seberangnya.


"Kenapa?" Tanya Banu.


Bukan hanya Banu yang menunggu kalimat selanjutnya dari Dina, melainkan seluruh keluarga yang sedang berkumpul di meja makan ini. Ada Sarah, dan juga kakak perempuannya, Friska.


"Uang sekolah Dina belum dibayar. Papa nggak lupa 'kan?"


Banu tampak berpikir, lalu manggut-manggut mengerti. "Papa inget kok. Besok aja bayarnya, nanti malam Papa kasih uangnya."


"Oke Pa."


Mereka semua kembali menikmati makanan masing-masing. Hingga sang kakak berdiri. "Pa, Ma. Aku duluan ya." Friska memutari meja makan, menyalimi kedua orang tuanya sebelum pergi bekerja.


"Din, mau berangkat bareng Kakak nggak?" Tawar Friska kepada adiknya. Dina menggeleng.


"Aku 'kan naik motor sendiri Kak," jelas Dina.


Friska tersenyum lebar, "iya Kakak tau, cuma basa-basi doang tadi."


Dina mendengus, sedangkan kedua orang tuanya tertawa merasa terhibur dengan candaan pagi oleh anak-anak mereka.


"Em, aku juga harus berangkat sekarang," ujar Banu seraya berdiri dan dengan sigap Sarah membawakan tas kerjanya sampai depan rumah.


"Hati-hati ya, Mas." Sarah melambai-lambaikan tangannya, sebelum mobil sang suami benar-benar menghilang dari pandangannya.


Di saat Sarah berbalik, ia melihat anak gadisnya yang berada diambang pintu. Rupanya Dina juga ingin berangkat ke sekolah.


"Ma, Dina juga mau berangkat."


"Ya udah, hati-hati di jalan. Mama masuk duluan ya, mau beresin meja makan."


Dina mengangguk, "iya."


Dina mendatangi motornya yang berada di garasi. Motor matic berwarna hijau muda kesukaannya. Ia mulai menghidupkan mesin motornya, di percobaan pertama ia gagal. Dina mencobanya lagi hingga berulang kali, namun motornya tak kunjung hidup.


Akhirnya, ia turun dari motor dan mendorong motornya keluar garasi. Dina berdoa dalam hati, semoga motornya dapat hidup seperti biasa.


Namun sial! Motornya tetap saja tidak mau menyala. Dina berdecak, kalau begini terus ia bisa terlambat. Tak ada pilihan lain, akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dari tas. Membuka salah satu aplikasi ojek online.


Namun suara klakson mobil yang cukup memekak telinga membuat Dina mengurungkan niat sebelumnya. Ia mendongak, lalu membulatkan mata tak percaya kala melihat si pelaku.


"Om Nico," gumam Dina pelan. Tanpa sadar kakinya melangkah menghampiri sosok yang baru keluar dari mobil itu.


"Motor kamu bermasalah?" Tanyanya.


"I-iya Om," angguk Dina kaku.


"Berhubung sekolah kamu dan kantor saya searah, gimana kalau kamu ikut saya?"

__ADS_1


Dina mengerjapkan mata tak percaya. Apa ini nyata? Atau khayalan semata? Om Nico sungguh-sungguh mengajaknya pergi bersama?


"A-apa? Om ngajak aku, berangkat bareng?" Dina bertanya guna memastikan bahwa apa yang ia dengar sebelumnya memang benar.


"Iya. Apa ada yang salah?" Tanya Om Nico. Dina menggeleng cepat. Salah? Tentu saja tidak. Ini bahkan bisa di sebut keberuntungan. Siapa yang mengira bahwa nasib sial ketika motornya tidak bisa di hidupkan akan berbuah manis seperti ini. Berarti, Dina semakin dekat dengan mimpinya untuk memiliki Om Nico.


"Kamu nggak mau terlambat 'kan?"


Perkataan Om Nico tentu saja membuyarkan khayalan-khayalan yang sudah bersarang di kepala Dina. "Sebentar Om, aku mau masukin motor ke garasi."


"Oke, saya tunggu di mobil," jawab Om Nico, kemudian ia berbalik dan memasuki mobilnya. Menunggu Dina yang saat ini telah berlari ke arah mobil ini. Sesaat Nico terkekeh. Lihat, betapa cepatnya cewek itu menyelesaikan keperluannya, seolah Nico akan pergi begitu saja jika Dina terlambat walau hanya sedetik.


Salah satu pintu mobil terbuka, lalu Dina menduduki kursi penumpang yang berada di samping Nico. Gadis itu tersenyum lembut ke arahnya, lalu berkata, "ayo Om, jalan!"


Mau tak mau, Nico tersenyum tipis mendengarnya. Tanpa menjawab, ia melajukan mobilnya dan membelah jalanan yang tampak lenggang.


Di sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Dina merasa gerah dan tidak tahan melihat sikap cuek Om Nico. Tidak bisakah pria itu yang memulai pembicaraan? Sama seperti ketika ia menawarkan tumpangan kepada Dina. Dina menghela napas, ia sadar akan sangat percuma jika berharap.


"Om," panggil Dina pelan.


Nico hanya menoleh sesaat, sebelum kembali fokus ke jalanan. "Kenapa?"


"Enggak jadi, kelupaan mau ngomong apa," balas Dina sambil nyengir.


"Em, Om." Lagi, Dina memanggil pria itu.


"Kenapa?"


Om Nico tak bersuara. Dina meliriknya takut-takut. Ah, kenapa ia jadi gugup sendiri? Batin Dina sembari mengutuk diri sendiri.


"Om Nico," cicitnya pelan.


"Kenapa lagi Dina? Mau bilang nggak jadi lagi," ucap Nico seraya meluruskan pandangannya ke arah Dina. Gadis itu tersenyum lebar, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nganu Om, itu, nyetirnya hati-hati. Takut ngelindes pasir." Senyum Dina semakin lebar, di sertai kekehan pelan karena candaannya yang garing.


"Kamu lagi becanda?" Tanya Nico datar.


Dina mengangguk lemah. Ah, sepertinya sebentar lagi Om Nico akan marah.


"Kalau gitu saya akan tertawa, hahahaha. Gimana, sudah?"


Dina cemberut, "ish, Om Nico mah nggak peka."


"Saya?" Tunjuk Nico ke dirinya.


"Iya, Om sama sekali nggak bicara kalau bukan aku yang mulai. Padahal 'kan, Om Nico bisa tanya-tanya soal aku. Misalnya, 'Dina, guru yang paling galak siapa?' atau, 'Dina, kamu udah punya pacar belum?'. Gitu maksud aku!" Kesal Dina. Ia memalingkan wajah ke arah jendela. Tak peduli kalau Om Nico akan menganggapnya tak sopan, lalu menurunkannya di tengah jalan.


Tanpa di duga, Om Nico malah membelai lembut rambutnya. Dina seolah terpaku, tak berani bergerak. Memastikan ini bukan mimpi atau khayalannya saja. "Kamu mau saya tanyain?" Nico menurunkan tangannya.

__ADS_1


"Dina, guru yang paling galak siapa?" Tanya Om Nico persis seperti contoh yang di berikan oleh Dina.


"Nggak ada," balas Dina ketus.


Nico tersenyum simpul.


"Dina, kamu udah punya pacar belum?" Lagi, Om Nico bertanya.


"Nggak ada." Kali ini Dina serius walau masih diiringi nada ketus.


Om Nico menghembuskan napasnya. Ia menggeleng maklum. Ada-ada saja kelakuan gadis di sampingnya ini. Akhirnya, keduanya hanya terdiam. Dengan Dina yang sedang fokus memandangi jalanan yang tampak ramai lancar. Hingga mobil yang ia tumpangi terhenti karena lampu merah. Dina masih tak mengalihkan pandangannya, tiba-tiba ia menyipitkan mata. Mencoba lebih fokus kepada sebuah motor yang terdiri dari dua orang, perempuan dan laki-laki. Siapa saja yang melihatnya pasti akan berpikir bahwa keduanya adalah sepasang kekasih. Begitu juga dengan Dina.


Kedua mata Dina terbelalak. "Astaga! Itu pacar Tika! Dia sama cewek lain!"


Om Nico menyerit mendengar pekikan Dina. Ia mengikuti arah pandang gadis itu, tanpa sadar ia juga memajukkan tubuhnya. "Kenapa?"


Dina menoleh, hampir saja keduanya terbentur karena terlalu dekat. Dina mengerjap banyak, mencoba menetralisir degup jantungnya yang berdetak kencang. Menyadari tingkah aneh Dina, Nico menjauhkan tubuhnya.


"itu Om, disana. Cowok itu pacarnya temen aku dan sekarang dia jalan sama cewek lain! Dia ngekhianatin temen aku, Om!" Geram Dina, dibarengi keinginan untuk mencakar-cakar cowok sialan itu.


"Mungkin cuma teman," jawab Nico santai.


"Nggak mungkin! Mana ada temen mesra begitu, pasti ada something! Aku mau turun, mau datangin cowok kampret itu!"


Belum sempat Dina membuka pintunya, Nico lebih dulu menahan. "Jangan! Kamu malah akan mengganggu pengguna jalan yang lain. Lihat, lampu merahnya hanya tinggal beberapa detik lagi," jelasnya kepada Dina.


"Tapi Om--"


"Sudah. Kalian satu sekolah?" Dina mengangguk. "Nanti kamu kasih dia pelajaran di sekolah aja."


"Ish, nanti di hukum guru gimana?!"


Nico terkekeh dan demi apapun pria itu sekarang dua kali lebih tampan dari biasanya. "Ya, jangan lakukan."


"Kalau aku bilang sama Tika, pasti dia nggak percaya," Dina tak ingin teman baiknya mengalami patah hati karena cowok sialan itu.


"Kamu bisa ambil gambar mereka," saran Nico.


"Oh iya! Aduh aku nggak mikir sampe sana. Untung ada Om Nico." Dina lalu mengeluarkan ponselnya dari saku dan membidik pasangan yang tengah bercengkerama mesra di atas motor. Dina berdecak. Ia sudah memotret beberapa kali dan mobil mulai melaju setelah lampu berubah hijau.


Bahu Dina merosot, tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi temannya, Tika. Namun, bukankah lebih baik Tika mengetahuinya sekarang, ketimbang setelah mereka menjalin hubungan begitu lama? Toh ending-nya tetap sama. Tapi, tetap saja Dina merasa--


"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Walaupun teman kamu itu akan merasa sakit hati, saya yakin itu hanya sebentar," hibur Om Nico.


Dina mengangguk paham. Di sisi lain ia bahagia karena Om Nico begitu perhatian kepadanya hari ini, pria utu benar-benar menampakkan sisi yang berbeda dari biasanya. Namun, di sisi lain ia juga meraka sedih karena temannya telah dikhianati. Ia juga berjanji akan selalu ada di samping Tika, saat gadis itu merasa hancur atau rapuh nanti.


Mobil yang mereka tumpangi terhenti. Dina memandangi sekitar. Oh, sudah sampai rupanya. Memandang Om Nico dan berkata, "makasih Om udah mau nganterin," ucap Dina tulus. Gadis itu membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Dina melambai-lambaikan tangannya kepada Om Nico yang mulai melaju meninggalkan area sekolah.

__ADS_1


Jika seperti ini terus, Dina tak masalah motornya mati dan tidak bisa di hidupkan. Asalkan dapat selalu berangkat bersama dengan Om Nico kesayangannya.


Dina tersenyum diam-diam, membiarkan para murid yang berlalu lalang memandangnya aneh atau dahi berkerut bingung.


__ADS_2