Wajib Diisi

Wajib Diisi
Lima


__ADS_3

Dina menggeliat, enggan membuka mata, namun ketika sesuatu merasuk di pikirannya. Ia lantas membulatkan kedua mata, menatap sekeliling yang tampak asing. Dina mengeram, lalu mengacak rambutnya frustrasi.


Ia bangkit dari kasurnya, melirik jam yang tertanam di tembok. Sial! Ia sudah sangat telat sekarang.


Saat ini pikiran Dina begitu berkecamuk, sampai-sampai tak menyadari Om Nico yang juga berada di sana.


"Kamu sudah bangun rupanya--,"


"Om kenapa nggak bangunin aku dari semalam?!"


"Kamu--"


"Om juga nggak bangunin aku pagi-pagi. Kenapa Om? Om mau aku nggak sekolah terus di marahin Mama sama Papa, gitu? Om mau--,"


"Bisa kamu diam sebentar dan dengarkan penjelasan saya?" Sentak Nico dengan nada dingin.


Napas Dina memburu, tanpa sadar matanya kini tengah berkaca-kaca. Dirinya merasa sangat kacau, takut, bingung, marah, semuanya bercampur menjadi satu.


Nico tampak menghela napasnya, menetralisir emosi yang menumpuk di kepalanya. Bagaimanapun, ia harus mengerti kondisi Dina saat ini dan tidak terpancing emosi. Ya, dia bertekad untuk menjelaskan secara baik-baik.


"Saya sudah membangunkan kamu sejak pagi dan tidak ada respon sama sekali. Untuk masalah orang tua kamu, saya sudah meminta izin semalam," jelasnya pelan.


Gadis itu sama sekali tak bereaksi. Nico mendekat, lalu menyentuh pelan bahu Dina. "Lebih baik kamu pulang sekarang," ujarnya.


"Tapi Om," suara Dina terdengar pelan dan tercekat. "Aku—aku takut di marahin Mama," sambungnya yang di iringi isapan tangis yang sudah tak tertahankan.


Wajah Dina terlihat sangat pucat dan juga berkeringat. Ia mendongak, menatap Om Nico takut-takut, lalu meremas kuat tangan pria itu. "Mama sama Papa pasti kecewa sama aku. Aku udah bikin malu mereka, Om."


Panas. Itulah yang Nico rasakan saat Dina menyentuhnya, namun ia lebih memilih berpikir positif dan meyakini bahwa Dina baik-baik saja.


"Orang tua kamu pasti mengerti, kamu tenang saja, saya yang akan mengantar kamu pulang. Saya akan menjamin kamu tidak akan di marahi."


"Om nggak bohong 'kan?" Tanya Dira memastikan.


"Tidak."


Akhirnya, Dina melepas cengkeramannya di tangan Om Nico. Pria itu lantas melangkah keluar yang langsung di ikuti oleh Dina. Keduanya sama-sama tak mengeluarkan suara, bedanya, kini Dina tengah menahan sakit luar biasa pada kepalanya. Tubuhnya juga terasa berat, kakinya seolah tak menapak lantai dan tubuhnya serasa melayang.


Dina menggeleng pelan, mencoba mengenyahkan rasa pusing yang semakin mendera. Tangannya terulur berusaha meraih Om Nico yang sudah jauh di depannya.


"Om Nico," lirihnya pelan sebelum tubuhnya jatuh dan kesadarannya yang di renggut paksa.


Nico menghentikan langkahnya, merasa Dina tak ada sisinya, ia berbalik. Pria itu terkejut bukan main ketika melihat tubuh Dira berbaring di lantai. Dengan cepat ia menghampiri gadis itu.

__ADS_1


"Din, Dina," panggilnya panik. Ia menepuk-nepuk pipi gadis itu.


Sial! Umpat Nico dalam hati.


Lantas ia membawa gadis itu ke dalam pelukannya, membopongnya dalam sekali hentak.


Sungguh, Nico menyesal karena telah mengabaikan suhu tubuh serta wajah pucat gadis itu. Ia berjalan cepat, lalu membuka pintu mobil dan mendudukkan Dina di kursi penumpang. Nico setengah berlari, mengitari mobil dan masuk ke dalam kursi kemudi.


Ia melajukan mobilnya berkecepatan di atas rata-rata, mengabaikan makian yang terlontar dari pengguna jalan lain, yang was-was melihat caranya mengendarai mobil ini.


Nico melirik gadis yang terkulai lemas di sampingnya.


"Kamu akan baik-baik saja Dina," ucapnya guna meyakinkan diri sendiri.


• • •


Sarah beserta suaminya, Banu, melangkah begitu terburu-buru. Raut wajah Sarah menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa, sedangkan Banu, pria itu hanya menatap sekelilingnya datar.


Saat itu, Sarah memang berniat untuk menjemput putrinya di rumah Nico. Ia begitu geram dengan Dina, padahal ia sudah memperingati gadis itu untuk pulang cepat dan tidak merepotkan pemilik rumahnya. Namun yang terjadi di luar perkiraan, semalam Nico menelepon dan mengatakan bahwa Dina tertidur di rumahnya. Akhirnya dengan berat hati Sarah mengizinkan dan meminta maaf pada tetangganya itu karena telah merepotkan.


Hingga paginya, ia kembali menerima telepon dari Nico. Pria itu mengatakan bahwa ia membawa Dina ke rumah sakit. Sarah yang begitu panik dan terkejut, buru-buru menelepon suaminya yang belum lama pergi.


"Nico!" Panggil Sarah.


"Dina, kenapa dia? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya sarah tak sabaran.


Melihat itu, Banu menarik lembut sang istri, mengusap-usap bahunya pelan. "Tenang Ma, biarkan Nico yang menjelaskan."


Sarah mengusap wajahnya yang kini telah berlinang air mata. "Tapi, Pa--,"


"Sudah, Ma," pinta Banu.


Kemudian Nico bangkit, menatap sepasang suami istri itu penuh penyesalan. "Maaf, saya lalai. Saya tidak tahu kalau Dina sedang tidak sehat. Saya benar-benar minta maaf," pintanya.


"Kami yakin ini bukan salah kamu sepenuhnya. Yang ada kami ingin berterima kasih karena telah membawa Dina ke rumah sakit tepat waktu," ujar Banu bijak.


Lalu, tiba-tiba dokter terlihat keluar dari balik pintu tempat Dina di periksa. Nico langsung menghampiri wanita setengah baya itu yang langsung di ikuti oleh Banu juga Sarah.


"Bagaimana Dok?"


Dokter itu tampak tersenyum tipis. "Tidak ada yang perlu di khawatirkan, pasien hanya demam biasa dan kelelahan. Setelah istirahat cukup, pasien akan pulih seperti semula," jelasnya.


Mereka bertiga akhirnya bisa bernapas lega. Lalu, Sarah maju dan berkata, "apakah boleh mengunjungi anak saya sekarang, Dok?"

__ADS_1


"Tentu boleh, Bu."


Sarah tersenyum lebar. "Terima kasih, Dok."


"Sama-sama Ibu. Saya permisi, Bu, Pak," kata dokter itu seraya menoleh ke arah mereka bertiga.


"Ayo Pa," ajak Sarah kepada suaminya. Banu mengangguk, lalu berjalan beriringan menuju ke ruang UGD.


• • •


"Ma..." lirih Dina yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Kepalanya terasa pening dan berat. Ia mengerjakan mata, menyesuaikan penglihatan yang masih memburam.


"Dina, ini Mama sayang," jawab Sarah seraya menggenggam erat tangan sang putri. "Ada yang sakit?"


Dina menggeleng lemah. "Air,"


Dengan sigap Sarah mengambil air mineral di atas nakas, lalu menyodorkan sedotan itu tepat di mulut Dina. Gadis itu meneguk air begitu rakus, seolah ia baru saja mengeluarkan tenaga ekstra.


Secara perlahan, Dina mendorong sedotan itu. Sarah mengerti, lalu menarik menjauh minuman yang ia pegang.


Hingga tiba-tiba Dina meneteskan air mata. Melihat itu Sarah langsung terlihat panik. "Kenapa Sayang? Ada yang sakit?" Dina menggeleng. "Kamu lapar, mau makan?" Lagi, Dina menggeleng.


"Ma, Dina minta maaf. Dina—Dina nggak nurunin kata-kata Mama. Dina--,"


"Sudah, nggak papa. Mama nggak marah sama kamu," kilah Sarah meyakinkan sembari tersenyum lembut ke arah putrinya.


Bukannya tenang, tangisan Dina malah semakin deras di selingi sesenggukan yang menyayat hati. "Tapi Dina bikin Mama kecewa."


"Mama nggak papa kok."


"Papa gimana, Ma? Pasti Papa kecewa sama Dina. Papa pasti malu sama kelakuan Dina."


Dina masih menangis, bayangan Sang Papa dengan sorotan kecewa benar-benar membuat dirinya merasa bersalah. Walaupun Sang Papa tak akan mengatakan apa-apa, namun tetap saja Dina merasa Ayahnya sedang memendam amarah karenanya.


"Kata siapa? Papa bisa ngerti, kok." Sarah mengusap rambut putrinya penuh kasih. Tadi, Banu buru-buru pergi di karenakan pihak perusahaan menyuruhnya datang. Pria itu tak bisa menolak dan msmilihnpergi dari rumah sakit.


"Om Nico, mana Ma?" Tanya Dina. Ia sangat yakin, bahwa pria itu yang membawanya ke sini.


"Dia barusan pulang, katanya ada meeting penting."


Dina manggut-manggut. Ia bertekad akan berterima kasih sekaligus meminta maaf pada pria itu, namun kali ini tubuhnya benar-benar lelah. Sepertinya ia terlalu banyak bicara tadi, akhirnya ia memilih memejamkan mata, mendatangi kegelapan yang nyaman.


• • •

__ADS_1


__ADS_2