
Dina mengacak-acak rambutnya seraya mengeram kesal. Sudah hampir setengah jam dirinya berkutat dengan soal akuntansi yang sama sekali tak ia mengerti. Karena sudah tak tahan lagi, akhirnya ia membuang buku-bukunya hingga berserakan di lantai.
Dina bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kasur, lalu menghempaskan diri dengan posisi tengkurap. Ia menyelusupkan wajahnya ke bantal, mencari posisi yang nyaman. Hingga tiba-tiba suara motor yang sangat Dina kenali, terdengar memasuki area rumahnya.
Cewek itu segera bangun, lalu berlari ke luar kamarnya. Memghampiri sang kakak yang baru saja pulang dan berjalan memasuki rumah.
"Kak frisca!"
Frisca memandang Dina malas, lalu mendudukkan dirinya di sofa. "Kenapa?" Tanyanya.
"Kak, bantuin Dina ngerjain soal akuntansi ya? Soalnya susah, Dina nggak paham. Mana besok di kumpul lagi," pinta Dina beserta keluhan lainnya.
Frisca memijat pelan keningnya. "Kakak baru pulang, Dina. Capek, mau istirahat."
Dina merengut, "ish, terus ini gimana? Besok udah di kumpul Kak," rengeknya.
"Salah kamu juga, kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin? Kakak yakin tugas itu pasti sudah dari seminggu yang lalu, cuma kamu nya aja malas. Ya, 'kan?"
Wajah Dina semakin keruh. Tentu saja, apa yang di ucapkan oleh kakaknya tadi memang benar adanya. Dirinya memang selalu punya alasan untuk menunda-nunda pekerjaan, apalagi tugas yang sangat tidak sukai ini. Akuntansi.
"Terus gimana dong, Kak? Mana besok jadwalnya pagi lagi," keluh Dina.
Frisca hanya mengedikkan bahu acuh. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah adiknya. "Kalau nggak salah tetangga sebelah kita jago akuntansi. Tanyain deh," sarannya.
Dina yang awalnya menunduk lesu, kini mendongak seraya membulatkan kedua matanya. "Om Nico?" tanyanya memastikan.
Frisca mengangguk, lalu tanpa banyak kata lagi, ia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Meninggalkan Dina yang masih terdiam.
Setelah memastikan Frisca benar-benar masuk ke kamarnya. Dina kemudian jingkrak-jingkrak tak jelas, sambil menyuarakan 'yes' berkali-kali. Betapa bahagianya ia kini. Dina percaya, bahwa Tuhan sangat adil kepadanya, karena dengan begini ia memiliki alasan untuk lebih dekat dengan om duda kesayangannya itu.
__ADS_1
Tak ingin membuang-buang waktu, akhirnya Dina berlari menuju kamarnya. Mengambil buku-buku yang ia lempar sebelumnya, beserta alat tulis lainnya. Ia juga menyempatkan diri untuk izin ke sang ibu, walau awalnya tak yakin, dengan terpaksa Sarah mengiyakan setelah Dina tak kunjung lelah membujuknya.
"Ya sudah, tapi jangan terlalu malam pulangnya. Nico juga butuh istirahat," peringat Sarah.
Dina mengangguk patuh, seraya tersenyum lebar ia menyalimi sang ibu, lalu berlalu menuju rumah sang pujaan hati.
"Gue ikhlas deh, kalo ada tugas akuntansi setiap hari. Asal bisa ketemu sama Om Nico," gumamnya pelan. Ia berlari kecil menuju rumah tetangganya. Udara di luar benar-benar dingin untuk seukuran Dina yang hanya mengenakan kaus lengan pendek.
Belum sempat Dina mengetuk pintu, pintu itu lebih dulu terbuka. Menampilkan Om Nico yang menenteng plastik sampah di tangannya.
"Dina? Ngapain kamu di depan rumah saya malam-malam?" Tanya Om Nico heran.
Dina mengambil langkah mundur bersamaan dengan Nico yang keluar dari batas pintu. "Ini Om, mau minta tolong bantuin ngerjain tugas akuntansi. Kata Kak Frisca, Om Nico jago akuntansi," ucap Dina.
Om Nico manggut-manggut. "Kamu tunggu aja di dalam, saya mau buang sampah sebentar."
Dina mengangguk. Om Nico berlalu menuju tempat sampah yang berada di depan pagar rumahnya. Dina memasuki rumah tersebut, biasanya akan ada Nino yang menyambutnya, namun kali ini Dina yakin, kemungkinan besar anak laki-laki itu sudah terlelap di kamarnya.
"Bisa saya liat tugasnya?"
Dina mengangguk, lalu mengambil bukunya, membuka beberapa lembar dan kemudian menyerahkannya kepada Om Nico. "Yang ini, Om."
Nico menerimanya, memerhatikannya sesaat lalu tersenyum tipis. "Ini mudah, kamu tinggal menentukan akun dari setiap transaksi."
Mendengar itu, Dina lantas menghembuskan napasnya kasar. "Itu dia Om yang aku nggak ngerti."
"Kalau begitu, kita akan belajar dari awal. Mulai dari pembagian aktiva pasiva, lalu--"
"Om, bisa langsung jawab ini aja nggak?" Pinta Dina. "Aku udah ngantuk, Om. Mau tidur, belajarnya kapan-kapan aja," jelasnya.
__ADS_1
Sungguh, ini di luar perkiraan Dina. Awalnya ia begitu bersemangat karena memikirkan akan berdua dengan Om Nico dalam waktu lama. Namun, entah kenapa tiba-tiba sekarang matanya terasa berat seolah di tindih batu besar yang membuat Dina hanya ingin memejamkan mata.
"Ya sudah, kalau begitu kamu perhatikan saja cara menjawabnya. Saya akan menjawab di kertas lain, setelah itu bisa kamu salin," ujar Om Nico.
"Hm," gumam Dina.
Setelah lima belas menit, akhirnya pekerjaan rumah Dina selesai. Tentu saja Om Nico yang mengerjakan semuanya, karena Dina hanya diam memerhatikan. Ah, ralat, maksudnya diam karena sudah terlelap.
Pemandangan Dina yang tertidur damai, namun tak nyaman karena posisinya yang tak memungkinkan, membuat Nico tanpa sadar membawa tangannya mengelus puncak kepala gadis itu. Dina hanya menggeliat sebentar, lalu kembali tenang.
Setelah puas, akhirnya Nico memutuskan untuk membangunkan Dina dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Dina, bangun. PR kamu sudah selesai," ucapnya.
Dina mengerang pelan, lalu bergumam kesal, "Ma... Jangan ganggu. Aku ngantuk."
Nico menghela napas panjang. Dina malah mengira dirinya adalah mamanya. Tak ingin menyerah, Nico kembali mencoba membangunkan Dina, kali ini ia mengguncang pelan bahu gadis itu.
"Din, Dina ayo bangun. Kamu harus pulang, kalau nggak, orang tua kamu akan khawatir nanti."
Tak ada jawaban, melainkan dengkuran halus yang Nico dengar. Lagi, ia menghela napas panjang. Sepertinya gadis itu benar-benar kelelahan dan tak bisa di bangunkan.
Merasa tak ada pilihan lain, akhirnya Nico menunduk, menyejajarkan dirinya dengan Dina, lalu dalam sekali hentak ia membawa Dina ke dalam pelukannya. Menggendong gadis itu tanpa merasa terbebani sedikit pun.
Dan sepertinya gadis itu juga tak merasa terganggu sedikitpun, yang ada dia malah menggesek-gesekkan wajahnya ke dada Nico seolah mencari kenyamanan. Tanpa sadar Nico menahan napasnya, Dina benar-benar membangkitkan sesuatu yang selama hampir empat tahun ini ia pendam. Apapun yang terjadi, Nico harus mengendalikan dirinya.
Setelah sampai di salah satu kamar, Nico membaringkan Dina secara perlahan, kemudian menyelimuti gadis itu sampai ke leher.
"Selamat tidur, Dina," ucapnya seraya mengelus lembut rambut gadis itu.
__ADS_1
Kemudian, pria berlalu sebelum mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur.
• • •