Wajib Diisi

Wajib Diisi
Dua Belas


__ADS_3

Dina mengeratkan jaket denim miliknya. Memandang sekeliling dengan ragu. Tentu saja, malam ini untuk pertama kalinya Dina menginjakkan kaki di klub malam rekomendasi teman sekelasnya.


Ia tak sendiri, melainkan bersama beberapa teman yang sering berkunjung kemari.


"Din, jangan gugup dong. Santai aja, lo bakal suka entar, gue jamin," ucap salah seorang teman Dina yang berpakaian mini, sama sekali tidak risi ketika para mata lelaki memandang lapar ke arahnya.


Dina mengangguk ragu. Namun, segera ia enyahkan mengingat dirinya sangat butuh pelepasan. Karena setelah ini, Dina berjanji untuk tidak akan mengenang dan menangisi pria itu.


Tak lama mereka memasuki tempat itu, seketika aroma pekat minuman keras menyapa indra penciumannya, membuat Dina meringis dan menutup hidungnya.


Pandangannya tertuju pada dance floor yang dipenuhi banyak manusia, bergerak sesuai alunan musik yang ada.


Teman-teman Dina mulai berpencar dan mencari kesenangan masing-masing. Dina yang masih awam memutuskan untuk duduk disalah satu kursi depan meja bar.


"Om," panggil Dina kepada seorang bartender di seberangnya. Pria dewasa itu lantas menoleh ke arahnya.


"Ya? Butuh sesuatu gadis manis?"


Dina sedikit tersipu mendengar pujian itu, sesaat ia mengangguk dan berkata, "Di sini ada apa aja Om? Teh anget, ada?"


Pria itu terkekeh mendengar pertanyaan Dina. "Sayangnya, di sini tidak ada minuman seperti itu. Ah ya, siapa namamu?"


"Dina, Om."


"Oke, Dina. Kamu baru pertama kali datang ke mari?"

__ADS_1


Gadis itu mengangguk antusias. "Kok, Om bisa tau?"


"Karena sebelumnya belum pernah ada yang tanya teh hangat di sini."


Dina tersenyum malu, ia juga menyesali pertanyaan itu. Entahlah, otak bodohnya terlalu mendominasi.


"Saya permisi melayani pelanggan yang lain. Buat dirimu senyaman mungkin," ucap pria itu lalu berlalu menyapa pelanggan lainnya. Dina memutuskan untuk diam di tempat, lalu tersenyum miris. Padahal tujuan dirinya ke mari adalah untuk bersenang-senang dan melupakan kesedihannya, namun entah mengapa Dina merasa sedikit menyesal karena telah menginjakkan kaki di sini. Rasanya seperti ia telah—


"Sedang melamun, huh?" Tegur salah seorang pria. Hingga Dina dibuat terkejut olehnya. Lantas, ia menoleh dan tersenyum sopan.


"Nggak kok, Om."


"Kamu mau ke sana? Dance floor?"


Gadis tersebut lalu menatap lantai dansa yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang bergerak sesuai irama. Dina ingin, namun tidak percaya diri karena sama sekali tidak bisa menari.


"Kenapa? Kamu gugup?" Dina hanya bisa mengangguk. Sekali lagi, ada orang yang mengerti dirinya. Apa jangan-jangan mereka cenayang yang tahu isi hati setiap orang?


"Coba kamu minum ini. Seketika kamu akan melupakan masalah yang kamu alami," katanya sambil menyodorkan sebuah gelas berisi cairan jernih kuning. Dina jelas tahu bahwa itu minuman berbahaya terlebih karena pemberian orang asing. Namun ketika pria tersebut mengatakan bahwa minuman itu mampu membuat ia lupa akan masalah yang tengah di hadapinya, membuat Dina merasa penasaran dan menerima sodoran gelas itu.


Sekali, dua kali, tiga kali dan tidak lagi terhitung berapa kali Dina minum. Baginya, minuman tersebut adalah minuman ajaib yang mampu menciptakan sensasi melayang dan ketenangan. Membuat Dina jelas merasa ketagihan, karena ini yang benar-benar ia butuhkan.


Di tengah mabuknya, dapat Dina rasakan seseorang memegang bahunya seperti ingin memapah dan membawa dirinya pergi dari sana. Lalu, kemudian si bartender berucap,


"Jangan bawa dia, Bung. Pawangnya akan datang sebentar lagi."

__ADS_1


Dina menyerit bingung. Apa maksudnya pawang?


"Aku tidak peduli! Dia milikku malam ini," jawab pria yang memegang bahu Dina. Gadis tersebut ingin menyela ucapan mereka, namun sungguh ia tidak berdaya. Tubuhnya lemah tidak bertenaga dan hanya bisa bersandar kepada pria yang memapahnya.


"Lihat, dia datang!" Seru bartender. Dina mencoba berbalik dan melihat 'pawang' yang disebutkan tadi. Namun, Dina malah melihat Om Nico dengan wajah dingin khas pria itu. Gadis itu menggeleng pelan, berpikir mungkin saja ia tengah berkhayal. Ataukah dia terlampau rindu sampai-sampai membayangkan Om Nico ada di hadapannya dan mengusir pria yang berada tepat di sisi Dina.


"Kenapa lo biarin dia mabuk?!" Itu juga suara Om Nico. Oh Tuhan, hentikan khayalan ini.


"Gue nggak punya hak buat ngelarang dia. Toh, dia minum atas kemauannya sendiri," bela si bartender. Dari awal ia merasa familiar terhadap Dina. Ia seperti pernah melihat di suatu tempat atau dalam gambar yang diperlihatkan seseorang. Setelah mengingat semuanya, ia segera menghubungi Nico.


Om Nico menghela napas lelah. Gadis ini, entah bagaimana bisa berakhir di tempat ini dalam keadaan mabuk pula. Sedari tadi, Nico telah menahan umpatan yang hampir meluncur dari mulutnya.


"Dina, kita pulang sekarang."


Gadis itu hanya bergumam tidak jelas, namun ada satu kalimat yang dapat Om Nico tangkap.


"Ini beneran Om Nico?"


"Iya Dina, ini saya." Dirinya telah bersiap menuntun Dina keluar, namun gadis itu lagi-lagi menahannya.


"Nggak mau pulang! Mau di sini!" Serunya seraya menggeleng keras hingga menganggu keseimbangan tubuhnya. "Om Nico jahat! Aku nggak mau ketemu Om Nico lagi!" Dina terus meracau layaknya orang mabuk.


"Kamu bilang saya jahat, setelah saya menolong kamu dari ******** tadi?" Tanyanya tidak percaya.


"Om Nico yang ********! Om udah—"

__ADS_1


Belum sempat Dina menyelesaikan kalimatnya, dirinya lebih dulu jatuh tertidur dalam pelukan pria yang jauh lebih dewasa darinya. Om Nico berdecak pelan, kemudian mendekap gadis itu dan menggendongnya di depan.


***


__ADS_2