Wajib Diisi

Wajib Diisi
Tiga Belas


__ADS_3

Sebuah mobil terhenti di antara dua rumah. Om Nico, pemilik mobil itu tengah merasa bimbang dan sulit menentukan keputusan. Ia menoleh dan menatap gadis yang tertidur pulas di kursi penumpang.


Dirinya tidak mungkin membawa Dina pulang dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa Dina akan dimarahi nanti. Namun, untuk membawa gadis itu ke rumahnya pun terlalu berisiko karena akan menimbulkan kekhawatiran terhadap orang tuanya.


Nico hampir frustasi memikirkan semuanya.


Padahal, kalau mau Nico tidak akan peduli saat temannya menghubungi dan mengatakan bahwa Dina tengah bersama pria hidung belang. Namun, entah mengapa ia merasa bertanggung jawab atas gadis itu dan tidak ingin kejadian buruk menimpanya.


Ia telah membuat keputusan. Detik berikutnya Nico menghidupkan mesin mobil dan berbalik menuju rumahnya. Ia akan menggunakan ponsel Dina dan mengirim pesan bahwa gadis itu akan menginap di rumah temannya. Ya, hanya itu keputusan terbaik menurut Nico.


Kembali ia menggendong tubuh Dina. Gadis itu terlihat nyaman dan kelelahan. Tidak ada lagi kalimat-kalimat absurd yang keluar dari mulutnya. Setidaknya Nico bisa tenang untuk sementara.


Rumahnya tentu sudah sepi, putranya tertidur sejak tadi bersama pengasuhnya. Ia bisa membawa Dina dengan leluasa dan tidak akan ada yang bertanya. Nico membawa gadis tersebut ke kamar tamu dan menidurkannya di sana.

__ADS_1


Namun, di saat dirinya ingin menjauh, Dina malah mengalungkan tangan di lehernya dan mencegah Nico beranjak dari sana. Pria itu memejamkan mata lelah, di saat ia mencoba melepasnya, Dina malah semakin erat memeganginya.


"Om Nico nggak boleh pergi. Nggak boleh," lirih Dina dengan mata yang masih terpejam.


"Kamu harus istirahat, Dina dan saya juga harus kembali ke kamar," kata Nico memberi pengertian.


Gadis tersebut menggeleng kuat. "Jangan. Jangan tinggalin aku, Om. Om Nico nggak boleh ninggalin aku. Pokoknya nggak boleh!" Seru Dina tidak terima. Ia bahkan menarik Nico hingga terjatuh ke kasur dan hampir menimpanya.


Dina memeluk pria itu erat seolah tidak ingin melepasnya. Ia bahkan melingkarkan kakinya di tubuh Nico, dan menyusupkan wajahnya di dada pria itu.


Nico terdiam di tempatnya. Gadis itu, mengapa ia tidak diperbolehkan menikahi Risma?


"Kalo Om Nico mau nikah, sama aku aja. Aku suka sama Om."

__ADS_1


Nico yang masih terkejut harus dikejutkan lagi dengan Dina yang tiba-tiba membalikkan posisi tubuhnya. Hingga gadis itu berada tepat di atasnya. Lalu, tanpa diduga Dina menurunkan wajahnya dan mendaratkan bibir tepat di bibir milik Nico. Pria menegang atas apa yang telah Dina lakukan.


Perlahan bibir Dina mulai bergerak. Gerakan sembarang khas amatiran. Nico jelas tahu bahwa gadis ini belum pernah berciuman sebelumnya.


Kini kesadaran bahwa ini adalah kesalahan telah Nico dapatkan. Ia segera mendorong Dina menjauh dan bangkit dari kasur.


"Kenapa dilepas sih, Om?" Tanya Dina dengan wajah cemberut. "Em, Om Nico udah aku tandain, jadi Om nggak boleh nikah sama tante itu!"


"Apa-apaan kamu Dina?!" Nico berujar marah. Napasnya memburu karena mulai terbakar gairah. Sedangkan gadis yang masih terpengaruh kerasnya alkohol yang mengerutkan dahi, lalu tertawa seolah sedang ada kejadian lucu di sini.


"Kenapa? Om Nico nggak suka?" Nico hanya diam. "Aku belum pernah ciuman sebelumnya, gimana kalo kita coba sekali lagi?" Di saat Dina ingin mendekat, Nico lebih dulu menahan lengannya dan mendorong sedikit kasar hingga Dina jatuh terlentang di kasur.


Tanpa banyak kata, Nico berbalik dan keluar dari kamar itu. Ia juga menguncinya, memastikan bahwa gadis itu tidak akan pergi ke mana-mana.

__ADS_1


***


__ADS_2