Wajib Diisi

Wajib Diisi
Satu


__ADS_3

Empat tahun kemudian...


"Din, lo yakin nggak ikut kita?" Tanya salah seorang teman Dina yang sedang bersidekap. Rambutnya lurus sebahu, memakai baju super ketat dan menyampirkan totebag di bahu kirinya.


"Gue ada tugas negara," jawab Dina seraya merapikan buku-bukunya di atas meja.


"Ngapain? Ngejar-ngejar tetangga duda lo itu?" Sarkas gadis bernama Tika tersebut.


Dina mengangguk semangat, "tu, tau."


Tika mendengus, lalu mendaratkan bokongnya ke meja Dina. "Lo nggak cape apa ngejar-ngejar dia?"


Dina menegakkan tubuhnya, "selama diri ini masih bernapas, selama darah masih mengalir deras dan selama jantung ini masih berdetak, gue akan terus berusaha ngejar dia yang gue cinta," ucap Dina penuh keyakinan.


Tika berdecih, "yakin itu cinta? Bukan obsesi belaka?"


Dina mengerutkan dahi, "kenapa lo nanya begitu?"


Cewek bertubuh langsing itu turun dari meja dan menepuk bahu Dina yang hampir dua tahun menjadi teman dekatnya. "Lo pernah mikirin gimana perasaan dia?"


Dina menggeleng. Tika tersenyum tipis, "pernah nggak terbesit di pikiran lo, untuk bikin dia bahagia? Tapi bahagia dia bukan sama lo, melainkan dengan perempuan lain."


Lagi, Dina menggeleng.


"Lo ikhlas kalo dia sama perempuan lain?"


Pertanyaan Tika seolah mengantar Dina pada kenyataan. Kenyataan pahit, bahwa seseorang yang ia suka sama sekali tak pernah membalas cintanya. Namun, hatinya terus menolak fakta itu. Membuat ia terus mengejar cinta buta yang tak ada akhirnya.


"Nggak. Karena gue bakal usaha lebih keras, supaya dia ngelirik gue. Dan setelah itu gue yakin dia nggak bakal perpaling."


Tika memgibaskan tangannya, "serah lo deh. Gue cabut, bye." Tika bangkit dari posisi duduknya, lalu melenggang acuh.


Akhirnya, yang Dina lakukan hanya menggeleng tak peduli dan memasang jaketnya, lalu pergi dari kelas yang sudah sepi.


• • •


"Maa, Dina pulang!" Teriakannya memenuhi penjuru ruangan.


"Iya, Mama tau, nggak usah teriak-teriak begitu," balas Sarah yang baru saja keluar dari dapur.

__ADS_1


Dina nyengir tak berdosa, lalu berusaha mencomot ayam goreng yang tertata rapi di meja makan, namun belum sempat ia lakukan. Sarah lebih dulu memukul tangannya.


"Jorok! Belum cuci tangan."


Dina mengerucutkan bibirnya, "tangan aku bersih kok, Ma," ujarnya sambil memperlihatkan telapak tangan miliknya yang putih bersih.


"Bersih apanya? Kamu 'kan habis pegang ini itu, baik yang kamu sadari atau enggak. Yang bersih belum tentu nggak ada kuman Dina," jelas Sarah.


"Iya, iya," balas Dina pasrah.


Dina berjalan menunju wastafel dan mencuci tangannya. Dina menggerutu tak jelas, lalu sebuah rencana untuk melancarkan aksinya hari ini terlintas di otaknya, tanpa sadar ia tersenyum gembira.


"Ma," ucapnya saat ia berbalik.


"Hm," jawab Sarah singkat.


"Ma, aku udah lama nggak main sama Nino. Aku kangen sama dia. Mama bisa siapin makanan, biar aku bawa ke sana nanti."


Sarah mencerna ucapan anaknya, entahlah sepertinya ada yang mengganjal. "Bukannya tiga hari yang lalu, kamu ke sana?" Tanyanya heran.


Dina meneguk salivanya kasar. Sial! Ia bahkan tak berpikir sampai sana.


"Nah itu, kamu ngapain ke sana tiap hari? Kalo sekedar ngajak Nino main, keliatannya nggak masuk akal deh, secara Nino 'kan punya pengasuh sendiri."


Lagi, ucapan Mamanya membuat Dina harus berpikir keras.


"Nino itu anaknya lucu, Ma. Aku seneng banget main sama dia. Pokoknya Mama siapin aja sesuatu buat ku bawa ke rumah Nino. Aku mau mandi dulu." Setelahnya, Dina berlari menuju kamar dan bersyukur karena tidak terlalu gugup dalam menjawab pertanyaan Mamanya tadi. Bisa kacau kalau Sang Mama mengetahui niat Dina yang sebenarnya.


Saat ini, Dina telah berada di depan rumah tetangga kesayangannya. Ia menghembuskan napas panjang sebelum mengetuk pintu, di tangannya terdapat bingkisan yang telah di siapkan oleh Sarah sebelumnya.


Pintu belum terbuka. Dina menimang-nimang. Di jam seperti ini biasanya Om Nico belum pulang dari kantor. Tak apa, Dina jadi bisa memiliki waktu untuk mencari tahu lebih dalam mengenai orang yang ia sayang tersebut.


Dina sedang merencanakan apa saja yang akan ia lakukan dan mengatasi para pelayan yang mungkin mencurigai dirinya nanti. Yah, dia memang harus mempersiapkan segalanya secara matang.


'Ceklek'


Pintu terbuka, Dina mendongak. Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya. Sungguh, ini tidak termasuk dalam rencana.


"Om Nico!"

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya pria itu datar seperti biasa.


Dina seolah kembali ke dunia nyata setelah mendengar ucapan pria tersebut. Dina yakin, ia tak salah dengar. Tapi, bukankah seharusnya pria tersebut masih di kantor?


"Kamu kenapa malah bengong, Dina? Kamu tidak mendengar pertanyaan saya?"


Dina menggeleng cepat, "denger kok, Om. Em, ini," Dina menyerahkan bingkisan di tangannya kepada pria tersebut, "dari Mama."


"Terima kasih," ucap Nico tulus.


"Iya, sama-sama Om. Em, Ninonya ada Om?"


"Ada, kamu mau main sama dia?"


Dina mengangguk antusias. Mungkin rencananya memang amburadul bahkan bisa dibilang gagal. Tapi ia cukup bahagia karena akan bersenang-senang dengan seorang anak laki-laki yang begitu menggemaskan. Nino, putra Om Nico yang baru berusia tiga tahun.


"Dia ada di dalam. Kamu boleh masuk sekarang," ujarnya seraya menggeser tubuhnya, membiarkan cewek muda itu memasuki rumahnya. Toh, ini bukan pertama kalinya.


"Om tumben cepet pulang, biasanya lebih sore atau malam dari pada ini."


"Hanya ingin," jawab Om Nico singkat, lalu berjalan mendahului Dina.


"Ck, dasar aneh!" gumam Dina pelan. Tentu saja pelan, ia masih waras untuk berbicara keras.


"KAK DIN!"


Dina mengalihkan pandangannya, kemudian tersenyum lebar kala anak laki-laki itu berlari ke arahnya. Dan langsung memeluk dirinya.


"Kak Din, Nino kangen." Dina terkekeh dan membalas pelukan anak itu tak kalah erat. "Kakak juga kangen sama kamu. Maaf ya, Kakak udah jarang ke sini."


Anak itu mendongak, tangannya masih melingkar di paha Dina. "Kata Papa, Kak Din sibuk. Jadi Nino maafin," ujarnya semangat.


Dina tersenyum simpul, entah mengapa perasaannya serasa melayang mendengar penuturan Nino.


"Ayo Kak, kita main sekarang. Papa baru beliin Nino mainan baru, Kak."


"Ya udah, tunggu apa lagi? Ayok kita main." Keduanya tertawa, lalu berjalan menuju ruang khusus bermain tempat dimana Dina dan juga Nino menghabiskan waktu.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata tampak mengawasi keduanya. Ia bersidekap, memerhatikan dengan seksama bagaimana keduanya yang akrab dan seperti tak terpisahkan. Sesosok pria itu mengehembuskan napas panjang. Ia sadar, hal ini harus segera di hentikan, namun ia tak sagup jika harus kehilangan senyum bahagia dari sang anak.

__ADS_1


__ADS_2