
Sebulan sudah berlalu semenjak kejadian mengerikan bagi Dina terjadi. Gadis tersebut menjalani masa pemulihan dua minggu dan selama itu pula ia izin dari sekolah. Seluruh teman-temannya hanya tahu ia dirawat di rumah sakit tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Dina tentu tidak akan menceritakan bahwa ayahnya lah yang telah menganiaya. Hal itu juga berlaku kepada Tika, sahabatnya.
"Dina, Mama bisa minta tolong?"
Dina kemudian mendongak mengalihkan perhatiannya dari ponsel. "Minta tolong apa, Ma?"
"Tolong belikan Mama ini." Sarah menyodorkan sebuah catatan dan beberapa lembar uang. Catatan belanja yang harus Dina penuhi. Gadis itu mengangguk mengiyakan, berjalan ke kamar untuk mengambil jaket yang biasa ia kenakan.
Membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk Dina tiba di supermarket terlengkap di daerahnya dengan mengendarai motor miliknya. Dina memasuki supermarket tersebut, terlebih dahulu ia mengambil minuman dingin untuk ia minum langsung, sebelum berkeliling mencari barang belanjaan. Hanya beberapa perlengkapan dapur juga peralatan mandi. Ia yang sering kemari, tentu sudah tidak asing dan dapat dengan mudah menemukan barang-barang yang dicari.
Keranjang belanjaannya sudah hampir penuh, pesanan sang ibu pun sudah Dina temukan tanpa terkecuali. Ia baru saja hendak mendatangi kasir, namun sosok yang tidak asing berhasil Dina temui.
Dina jelas ragu, matanya melihat bahwa itu adalah sosok Tante Risma. Namun yang tidak ia mengerti adalah mengapa wanita itu bersama pria lain, sedangkan jelas-jelas dia adalah calon istrinya Om Nico.
Berbicara mengenai Om Nico. Selama Dina dalam perawatan di rumah sakit, tidak sekalipun Om Nico datang menjenguk. Dia juga berusaha untuk tidak mencari tahu. Dina sudah benar-benar memantapkan hati untuk melupakan pria tersebut dan kali ini bukan omong kosong seperti sebelum-sebelumnya.
Kembali kepersoalan Tante Risma. Wanita itu terlihat begitu akrab terhadap pria yang juga merangkulnya erat. Dina terbelalak saat sebuah pikiran melintas.
__ADS_1
Apa jangan-jangan Tante Risma selingkuh dari Om Nico?
Jelas ini tidak bisa dibiarkan. Dina merogoh ponselnya yang berada di saku jaket dan memotret pasangan yang tampak serasi itu. Ia berencana untuk menyerahkannya ke Om Nico. Bukan dengan harapan agar Om Nico memutuskan hubungan lalu memilih Dina sebagai gantinya. Namun, ini tulus niat baik Dina agar mereka dapat saling meluruskan permasalahan jika mereka benar-benar terlibat percekcokan.
Kedua sejoli itu telah keluar dari supermarket. Dina segera ke kasir dan menghitung belanjaannya. Awalnya ia berencana membuntuti mereka, namun tidak disangka ibunya mengirim pesan, menyuruh agar lekas pulang dan tidak kelayapan—Ini adalah kebiasaan Dina ketika disuruh belanja. Ia akan berjalan-jalan sebentar, baru pulang—terpaksa Dina menurut dan bergegas pulang.
***
Dina berdiri gelisah di ambang pintu rumah. Entah kenapa ia malah ragu. Namun, Dina tidak boleh menyerah dan berbalik seperti pengecut. Tangannya terangkat mengetuk pintu.
"Dina?"
"Om, aku mau kasih lihat sesuatu. Tapi sebelumnya Om Nico jangan salah paham sama aku. Aku cuma mau memastikan kalo kecurigaanku itu benar."
Om Nico mengerutkan dahi, terlihat kebingungan dengan kalimat yang Dina ucapkan. "Sebaiknya kamu masuk, kita bicara di dalam."
Gadis tersebut mengangguk dan mengikuti langkah Om Nico dari belakang. Kemudian keduanya duduk di sofa ruang tamu secara berhadap-hadapan.
__ADS_1
"Nah, sekarang jelaskan yang kamu bicarakan tadi?"
Lagi, Dina dirundung ragu. Namun, setelah melihat ekspresi Om Nico yang tampak menanti, ia menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Om lagi ada masalah sama calon istri Om Nico?"
Butuh waktu lebih kurang lima belas detik untuk Om Nico menjawab, "Tidak."
"Tadi, waktu aku ke supermarket, aku ngeliat Tante Risma sama laki-laki. Aku punya bukti." Kemudian Dina mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mengutik benda itu sesaat sebelum menyerahkannya kepada Om Nico.
Di sana, terpampang foto yang berfokus pada dua orang yang tampak saling bergandengan tangan, juga melempar senyuman. Walau tidak menampakkan wajah yang utuh, namun Om Nico tahu betul bahwa itu adalah wajah Risma.
Untuk sesaat pria itu menghela napasnya. Menatap Dina dalam-dalam, hingga gadis itu dibuat gugup olehnya.
"Saya tahu, ini Risma dan suaminya."
"Hah?!"
***
__ADS_1