
Jordan sedang menarik kopernya dari kamar menuju ruang depan, Merlin melihat itu segera menghampiri pria tersebut. Karena, Jordan tidak mengatakan apapun setelah dia kembali dari rumah sakit.
"Apa yang kamu lakukan dengan koper itu? Kamu ingin pergi?"Tanya Merlin, Jordan memberikan koper tersebut kepada pengawalnya, meminta mereka untuk memasukan koper itu ke dalam mobil.
"Tante, aku harus kembali. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan perusahaanku, tetapi pagi ini aku melihat berita di iPadku, perusahaan Anthena trending topik. Itu perusahaan milik keluarga calon istriku, bagaimana bisa JM groups menarik kembali sahamnya dari Anthena?" tanya Jordan, yang membuat pria ini cukup kesal. Jordan tahu, yang bisa melakukan itu hanya Carolin.
Tiger takkan menyentuh perusahaan kecil milik Jordan, tak akan ikut campur dengan apa yang akan terjadi di dalam perusahaan itu, tetapi Carolin senantiasa akan memantau setiap perkembangan JM Groups.
"JM Groups, apa terinspirasi dari wanita itu nama perusahaan mu?"
Jordan tak menjawab, dia terus berjalan hingga ke pintu utama, dimana para sopir dan pengawal sudah menunggunya. Merlin tidak bisa menahan pria itu, karena Jordan tak akan mendengarkan nasehat dari Merlin.
"Tante, aku pergi dulu, jaga diri Tante baik-baik. Maaf, jika aku merepotkan Tante selama di sini," ujar Jordan, sembari memeluk wanita yang berusia sekitar 43 tahun itu.
Mobil yang mengantar Jordan sampai ke bandar udara kini hilang dari pandangan Merlin, wanita ini segera menghubungi Neo memberitahu jika Jordan sudah dalam perjalanan menuju Indonesia.
___________________
House Hyde Park.
Tiger duduk di ruang kerja milik Jordan, sembari memikirkan tentang anak-anaknya.Maryam baru saja menikah, tetapi hubungan dua keluarga sudah renggang karena masalah masa lalu.
Fatimah, mencari Tiger di ruangan tersebut sembari membawa kopi untuk sang suami. Terlihat raut wajah Tiger yang sangat gelisah, dia juga sedang berpikir kemana larinya Maryam dan Aiman. Selama ini meskipun Maryam tinggal di Indonesia jauh dari mereka, tetapi dia tidak pernah kekurangan uang. Tetapi, saat ini Maryam ikut dengan Aiman, itu yang membuat Tiger cemas.
"Apa mas memikirkan Maryam?"seru Fatimah, sembari meletakkan cangkir kopi di depan Tiger. Pria ini menoleh melihat ke arah sang istri. Tiger memeluk pinggang Fatimah, dengan sigap Fatimah mengusap kepala sang suami dengan lembut.
__ADS_1
"Aku belum bisa menjadi Daddy yang baik untuk mereka,"ucap Tiger pelan, Fatimah yang mendengar itu syok. Tiger tidak pernah begitu sedih ketika kehilangan Lucifer, tetapi dia cukup sedih ketika satu masalah tak bisa di selesaikan olehnya apalagi kebahagian sang anak terancam.
"Mas, tenang saja. Mereka pasti akan baik-baik saja, menurut aku dia juga pria yang bertanggung jawab,"imbuh Fatimah. Tiger meminta pendapat Fatimah untuk kembali ke Italia, jika tidak perusahaan Tiger akan dalam masalah, apalagi diketahui Robert sudah kembali ke Italia.
Neo, yang saat ini berada di perusahaan bersama dengan Carolin, nampak cemas. Neo, merasa khawatir di saat Carolin menjatuhkan perusahaan Anthena dalam waktu 10 menit.
"Nyonya besar, apa ini tidak terlalu kejam? Aku dengar Tuan Fairuz masuk rumah sakit, Tuan Aiman lari dari rumah. Jadi, menurut ak...."
"Kamu lakukan saja apa yang ku perintahkan, tanpa harus berkomentar apapun, aku nggak minta pendapatmu!"Ucap Carolin dengan tegas, yang menyela ucapan Neo hingga membuat pria ini terdiam, lalu berpamitan pergi dari ruangan Carolin.
Di luar ruangan Neo, terlihat begitu cemas. Apalagi tahu, Jordan sudah tiba di Indonesia, pria ini pergi untuk menjemput Jordan di bandar udara.
Di rumah Tiger bersama dengan Fatimah sedang membereskan pakaian mereka. Merlin, telah menghubungi Tiger menyuruh pria ini segera mendarat ke Italia, karena Robert mulai menyerang perusahaan Lucifer.
"Daddy! Mommy!"Teriak Jordan, begitu turun dari mobil dan memasuki rumah. Neo, menyusul menyeret koper milik Jordan, beberapa pengawal menunduk memberi hormat kepada anak majikannya.
"Kenapa berteriak?"Tanya Fatimah yang menghampiri sang anak. Jordan memeluk Fatimah sekilas, lalu berlanjut memeluk Tiger terlihat pria ini begitu bahagia, tetapi tidak ada yang tahu jika terluka sebelumnya.
"Dimana pengantin baru? Apa di kamar?"Tanpa menunggu jawaban dari Fatimah, Jordan pergi ke kamar Maryam guna untuk melihat sang adik.
"Maryam! Adikku yang cantik bak bidadari, yuhu....!" Teriak Jordan yang membuka pintu kamar, nyatanya kosong tak ada orang saja sekali, lalu beralih membuka pintu kamar mandi juga kosong.
Melihat tak ada Maryam di kamar, lalu Jordan kembali ke ruang tamu, untuk menanyakan hal itu kepada orang tuanya. Di ruang tamu, Tiger dan Fatimah duduk dengan cemas, sudah siap dengan pertanyaan dan segala kemungkinan yang akan membuat Jordan marah.
"Mom, dimana Maryam? Apa dia di rumah mertuanya? Kenapa dia tinggal di sana, padahal aku membeli rumah ini untuk dia, jika dia tidak aku tinggal bersama denganku, dia bisa mengatakannya kepadaku, aku bisa membeli rumah yang lain, asal jangan tinggal bareng mertua dia," ujar Jordan, yang sedikit mengulas senyumnya di sela-sela ucapannya itu.
__ADS_1
Neo, hanya bisa melihat ke arah anak majikannya yang terus saja mengoceh, Tiger dan Fatimah hanya bisa diam tak memberi komentar apapun sampai Jordan kembali bertanya.
"Jadi, Dad. Dimana Maryam?" Tanya Jordan yang berdiri sembari berkacak pinggang. "Kenapa kalian hanya diam saja? Neo, dimana adikku?"lanjut Jordan, yang saat ini beralih menatap pria yang hanya menundukkan kepalanya saja.
"Aku akan menjemput di rumah mertuanya.Ayo! Neo, kamu ikut aku!" Ajak Jordan yang menarik tangan pria ini, lalu langkahnya terhenti, berbalik menatap pria yang duduk di sofa tanpa memberi komentar apapun.
Fatimah menatap sang anak dengan cemas, lalu Jordan tersenyum sembari berkata,"berikan aku alamat rumah mereka, Ma."
Fatimah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Jordan. "Sayang, kamu capek. Ayo! mama antar ke kamar untuk istirahat lebih dulu," Jordan tak bergerak di saat Fatimah mengajaknya untuk pergi, tetapi Jordan malah menatap pria yang ada di sofa.
"Apa yang terjadi?" kini Jordan baru sadar, jika ada yang tidak beres dengan pernikahan sang adik.
"Neo, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Jordan lagi, pria ini hanya bisa diam membisu, karena Tiger sejak dari tadi tak memberi komentar apapun, Neo juga tak berani membuka mulut.
"Tidak masalah kalau kalian tak mau memberi tahu aku, biar aku cari tahu sendiri!"ucap Jordan tegas lalu berbalik dan ingin pergi.
"Jordan, berhenti!" teriak Tiger, yang membuat pria ini menghentikan langkahnya. Sejak dari tadi Tiger hanya diam, tetapi tak membuat Jordan mau mengerti keadaannya saat ini, sehingga pria ini benar-benar harus berbicara untuk membuat Jordan sadar.
Jordan berbalik, menatap Fatimah lalu Tiger. Pria ini berjalan ke arah Tiger, duduk di sebelah Tiger dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan, banyak sekali pertanyaan Jordan tetapi tak satupun mendapatkan jawaban dari mereka semua.
"Keluarga Tuan Fairuz tak menginginkan pernikahan ini,"ujar Tiger, tak melihat ke arah Jordan. Tetapi, pria ini sudah mengepalkan tangannya.
'Jadi, pria itu lebih menginginkan Masyitah dari Maryam?'batin Jordan yang salah paham akan ucapan Tiger.
See you Guys, jangan nabung bab ya♥️♥️♥️dukung author di tunggu vote, dan kopi juga mawar♥️
__ADS_1