
Malam pun tiba, ketika Masyitah hendak tidur Jordan masuk kamar, pria ini segera mengambil selimut di lemari dan bantal membawanya ke balkon. Jordan tahu jika Masyitah belum memaafkannya dia pun tak bisa memaksa wanita itu lagi.
Masyitah melihat Jordan yang membawa selimut dan bantal menuju balkon kamar, pria itu berniat akan tidur di balkon kamar malam ini, Masyitah tak ambil pusing itu pasti hanya akal-akal Jordan saja untuk menarik perhatian nya, pikir Masyitah.
Lampu kamar mati dan hanya menyisakan lampu tidur saja. Tiba-tiba terdengar suara petir berarti sebentar lagi akan ada hujan, jika hujan di sertai dengan angin maka tentu saja balkon kamar itu akan basah, Jordan tak dapat tidur di sana.
Tiba-tiba hujan turun cukup deras, tetapi tak membuat Jordan masuk ke dalam kamar hal ini membuat Masyitah takut, jika Jordan akan tidur dalam keadaan basah, jika itu terjadi maka dia akan sakit.
Masyitah melihat ke arah pintu balkon yang masih tertutup rapi, tidak ada tanda-tanda jika Jordan akan kembali masuk ke dalam kamar. Lalu, Masyitah turun dari ranjang melihat tak ada pergerakan dari Jordan, wanita ini segera menyalakan lampu kamar lalu berjalan ke arah pintu balkon.
Sesekali petir menyambar membuat Masyitah beberapa kali tekejut, wanita ini membuka pintu balkon dan melihat Jordan tertidur beralaskan selimut yang tebal, bahkan hujan mengenainya karena angin yang begitu kencang pada malam itu.
"Jordan,"panggil Masyitah tetapi tak ada jawaban dari pria itu. Masyitah mendekat lalu berlutut di sebelah tempat Jordan tidur.
__ADS_1
"Jordan," wanita ini menyentuh bahu sang suami dalam keadaan takut, takut jika Jordan akan memarahinya.
"Jordan, di sini hujan. Mari tidur di dalam kamar,"ajak Masyitah, pria ini mencoba membuka mata ketika mendengar seseorang berbicara kepadanya, begitu Jordan berbalik dia terkejut melihat Masyitah yang duduk di sampingnya dalam keadaan tangan yang gemetar karena takut dengan Jordan, bahkan Masyitah masih memakai cadar dan lengkap dengan pakaian syar'inya.
Jordan duduk lalu melihat ke arah Masyitah yang menundukkan kepalanya.
"Sedang apa kamu di sini?" Jordan bertanya, Masyitah melihat ke arah suaminya masih dalam keadaan takut.
"Di luar hujan, mungkin akan membuat mu basah, ayo tidur di dalam kamar!"ajak Masyitah sekali lagi, Jordan menaikan alisnya, tidak menyia-nyiakan kesempatan juga, dia segera berdiri dan menatap Masyitah yang juga tengah berdiri dari duduknya.
Masyitah menggelengkan kepalanya, "kamu akan sakit jika tidur di sini, mari ikut tidur di dalam kamar," Masyitah berbalik dan ingin masuk tetapi kakinya terpeleset akibat hujan, untung saja Jordan menangkapnya.
Masyitah dan Jordan saling pandang satu sama lain, tidak bisa berbohong jika Jordan begitu mencintai Masyitah meskipun wanita ini begitu membencinya.
__ADS_1
Jeddar!
"Aah!" suara petir mengejutkan Masyitah dia tak sengaja dia pun memeluk Jordan membuat Jordan terkejut tetapi sesaat kemudian dia tersenyum akan hal itu. Masyitah segera melepaskan pelukan itu dan berjalan masuk ke dalam kamar dengan disusuli oleh Jordan.
Masyitah duduk di atas ranjang, dengan meremas ujung hijabnya. Jordan mendekat lalu duduk di samping Masyitah, Jordan menunggu Masyitah untuk berbicara tetapi wanita ini tak mengatakan apapun. Di saat Jordan akan berdiri barulah Masyitah mengatakan sesuatu yang membuat Jordan terkejut setengah mati.
"Jika kamu ingin, kamu bisa melakukannya, aku tak melarangmu, aku ikhlas aku akan menerimanya,"ucap Masyitah pelan, Jordan terkejut lalu kembali duduk, tetapi kali ini duduk di depan Masyitah, memegang kedua tangan wanita itu.
Jordan menatap Masyitah dengan senyuman, tetapi Masyitah malah melihat Jordan dengan rasa takut yang amat dalam, meskipun tanpa meminta izin Masyitah telah memberi izin hingga Jordan berani membuka cadar itu. Kecantikan yang selama ini tersembunyi dibalik cadar Masyitah membuat Jordan terdiam sesaat ingin mencari dimana celah kekurangan dari pesona Masyitah tetapi Jordan tak menemukannya.
Jordan mematikan lampu kamar, hingga keduanya larut dalam kemesraan yang sudah lama Jordan nanti-nantikan. Tidak ada penolakan dari sang istri, hal itu membuat Jordan sangat bahagia akhirnya dia bisa berlabuh di dermaga yang sudah sangat lama di nantikan nya.
"Terima kasih,"ucap Jordan di telinga Masyitah, sembari satu kecupan mendarat di kening dan kedua mata Masyitah.
__ADS_1
.