
Tiba di mansion, Jordan menghempaskan tubuh Masyitah di atas sofa ruang tamu. Lalu, menatap Masyitah dengan tajam.
"Aku tidak menyangka kau bisa berbuat seperti itu di belakang ku, Aku hanya berharap kau mau menerima ku meskipun terlambat, ternyata aku salah. Kau senang menggoda pria lain," ucap Jordan, Masyitah bangkit dan berdiri di depan Jordan.
"Kamu menuduhku? Apa yang telah ku perbuat kamu menuduh aku begitu kejam? Kamu mempermalukan aku di depan semua orang bahkan keluargamu! Jordan jika kau tak menginginkan keberadaanku, kau boleh mengirimku kembali ke Indonesia, aku takkan berada di sisi suamiku hanya untuk di hina!"Ucap Masyitah tegas, lalu pergi meninggalkan pria itu di ruang tamu menuju kamarnya. Jordan yang mendengar untuk pertama kali di akui sebagai suami oleh Masyitah tertegun dan terkejut.
Semua anggota keluarga telah kembali, tetapi Jordan masih menatap Masyitah yang menaiki tangga dua lantai itu.
"Selesaikan masalah kalian, ummi yakin kamu pasti salah paham,"ucap Aisyah mendekati Jordan, pria ini hanya mengangguk.
Malam pun tiba....
Begitu selesai sholat magrib, Masyitah tak turun untuk makan, Jordan pun tak membangunkan istrinya yang berpura-pura untuk tidur. Karena berniat untuk mengindari semua orang.
__ADS_1
Di meja makan tak ada yang bersuara, karena semua orang yakin jika Jordan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Selesai makan, Jordan membawa nampan berisi makanan untuk Masyitah, tetapi Jordan melihat Masyitah tengah sholat insya. Pria ini tak berniat untuk menganggu lalu meletakan nampan tersebut di atas nakas.
"Selesai sholat, makanlah nasimu."
Hanya itu yang Jordan katakan lalu pergi meninggalkan Masyitah di dalam kamar. Jordan tak kembali ke kamar lagi hingga esok pagi.
Pagi-pagi sekali, Jordan bertemu dengan Neo, pria ini berbicara banyak hal mengenai Robert yang sudah mulai terang-terangan menyerang perusahaan dan membuat rusuh di markas mereka.
Jordan berniat untuk berganti pakaian, dia segera masuk ke dalam kamar melihat Masyitah yang tengah membereskan tempat tidur. Jordan mendekat, tetapi Masyitah menghindar.
"Itu, maaf."
__ADS_1
Masyitah menghentikan pekerjaannya ketika mendengar permintaan maaf dari Jordan.
"Untuk apa meminta maaf, kamu akan memiliki banyak hari lain untuk menghina dan membuat aku malu di depan banyak orang,"ujar Masyitah, lalu melanjutkan membersihkan tempat tidur, mengambil semua baju kotor termasuk milik Jordan.
"Aku meminta maaf karena telah membuat kesalahan padamu, aku menghinamu yang seharusnya tak ku lakukan itu, Aku telah memberi pelajaran kepada pria itu, ku harap kamu mau memaafkan aku,"untuk pertama kali orang seperti Jordan memohon maaf terhadap orang lain.
"Tidak perlu katakan itu, karena tak akan beda bagimu menghina ku atau tidak,"Masyitah berbicara begitu dingin terhadap Jordan. Pria ini menatap Masyitah yang tengah sibuk membereskan kamar, bahkan dia belum menghabiskan makan tadi malam dan sarapan tadi pagi, Jordan melihat itu.
"Aku mengatakan ini karena aku mencintaimu,"
"Cukup, jangan katakan itu lagi.Aku benci dengan kata-kata cinta setelah aku mengenalmu,"ucap Masyitah dan berlalu pergi membawa semua pakaian kotor milik mereka berdua ke lantai dasar, Jordan mengikuti Masyitah dari belakang hal itu juga gak luput dari pandangan semua orang yang ada di ruang keluarga.
Meskipun Jordan memohon untuk meminta maaf kepada Masyitah tak terlihat Masyitah ingin memaafkan pria itu. Masyitah masih kekeh pada pendiriannya yang ingin mendiamkan Jordan lebih lama lagi..
__ADS_1