
Setelah dua hari kepergian Masyitah, Jordan tak melihat atau mendengar kabar dari keluarga Fairuz. Bahkan, terdengar jika perusahaan Anthena akan di ambil alih oleh orang lain. Neo, berniat mengambil alih perusahaan itu tetapi tak memberitahu Jordan, karena takut Jordan akan menolaknya.
Hari ini, Jordan telah menunggu Masyitah di depan klik dimana wanita itu bekerja sebelumnya. Bersama dengan Neo, tetapi telah menunggu sekitar lebih dari lima jam mereka tak melihat adanya bayangan Masyitah yang terlintas barang satu menit.
Terlihat kegusaran dari raut Jordan yang tak kunjung menemui Masyitah. Semua bandar udara telah di periksa tak ada penerbangan keluar negeri. Jadi, ini benar-benar buntu jalan untuk menemukan keberadaan Masyitah.
Hari semakin sore, tetapi tak ada batang hidung Masyitah yang muncul di tempat itu, sehingga membuat Neo, berani mengajak Jordan untuk kembali pulang.
Mereka telah berkunjung ke perusahaan Anthena juga tetapi tak ada sosok Fairuz di sana. Hal ini benar-benar membuat Jordan gelisah dan gusar.
Jordan tengah duduk di tepi ranjang, sembari memikirkan Masyitah, netranya nampak berkaca-kaca, deru nafas yang terasa semakin lama semakin berat karena rasa sesak di dada yang merasa telah kehilangan sosok Masyitah dalam hidupnya.
Pintu kamar terbuka, Carolin masuk ke dalam kamar terlihat Jordan yang duduk di tepi ranjang. Wanita tua ini mendekat sembari meletakkan nampan di atas nakas.
"Kenapa kau terlihat tak bersemangat hidup? Apa ini yang di katakan cinta? Cinta seperti apa itu? Kenapa kau tidak memikirkan hidupmu?" Carolin bertanya, Jordan tak menjawab, dia hanya mengusap kasar wajahnya.
"Apa yang harus ku lakukan Oma? Dia pergi? Dia membawa jiwaku bersama dengannya, Aku harus bagaimana?"
Mendengar itu, Carolin berdiri dari tempat duduknya sembari menatap kearah cucunya. Tak biasa Carolin melihat Jordan yang dalam keadaan lemah.
Biasanya Jordan akan memberontak bahkan berkata kasar ketika sesuatu yang menganggu dirinya. Tetapi, untuk pertama kali Jordan terlihat bersedih ketika wanita yang di cintainya telah pergi.
__ADS_1
"Aku pasti akan menemukannya, aku takkan berhenti di situ saja,"tukas Jordan yang kini ikut berdiri. Carolin hanya bisa menghela nafasnya, melihat ketidak keberdayaan Jordan. Lalu, Carolin pergi meninggalkan kamar Jordan.
Di luar kamar, Neo bertemu dengan Carolin yang juga baru saja menemui Jordan. Carolin melewati Neo, tetapi satu ucapan Neo membuat Carolin berhenti.
"Setidaknya, Nyonya jangan menganggu kebahagiaan Tuan muda, apapun yang diinginkan Tuan muda mungkin itu yang terbaik untuknya. Tuan muda sangat mencintai gadis itu, hanya saja caranya yang salah. Karena, sejak kecil Tuan muda hanya di ajari dengan cara memaksa ketika meminta sesuatu bukan dengan cara berusaha. Yang di lakukan Tuan muda bukan berusaha, tetapi memaksa gadis itu untuk jatuh cinta padanya. Siapapun akan takut, bukan hanya gadis itu saja!" Ucap Neo, dengan tegas. Carolin berbalik dan menatap Neo, begitu juga dengan pria ini.
Neo, tak pernah takut dengan Carolin, selama apa yang dilakukannya adalah kebenaran. Terlebih lagi, Neo adalah orang yang paling di percayakan oleh Tiger dan Jordan. Selain mereka, Neo tidak akan takut sama siapapun lagi.
"Kamu berani?" Carolin menunjuk kearah Neo, tetapi tak membuat pria itu getir, pria ini hanya tersenyum.
"Nyonya besar, saya mohon. Coba Anda bayangkan, Tuan muda itu ahli waris keluarga Lucifer, tetapi sampai saat ini dia tak pernah mau mengambil alih perusahaan Lucifer, itu artinya harta tak ada apa-apanya, untuk Tuan Muda."Imbuh Neo, sebelum pria ini pergi meninggalkan Carolin dan pergi menemui Jordan.
_____________
Keesokan paginya....
Di meja makan, tak terlihat Neo ataupun Jordan, lalu Carolin bertanya kepada pelayan yang ada di sana.
"Dimana Tuan muda?"
"Tuan muda tadi malam telah pergi meninggalkan rumah, pengawal juga ikut bersama dengannya."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Carolin menghela nafasnya. Dia sudah tahu kalau Jordan pasti pergi mencari keberadaan Masyitah dan keluarganya.
Carolin melanjutkan sarapan paginya tak memedulikan dengan apa yang akan dilakukan Jordan, pria itu telah dewasa dan tahu apa yang terbaik untuknya.
Di tempat lain, di desa gelap. Fairuz yang sudah tinggal di tempat ini selama dua hari membuat dirinya sedikit nyaman dan aman dari gangguan apapun.
"Kenapa kita harus tinggal di sini, bukankah perusahaanmu masih bisa di kembangkan lagi?" Tanya Marlina, menurutnya perusahaan yang di tinggal suaminya itu tak harus di lepas begitu saja, jika memang masih bisa di pertahankan.
"Akan ku pikirkan lagi, ma. Untuk saat ini, biarlah kita tinggal di sini, saja." tukas Fairuz, lalu menyuruh Masyitah untuk membereskan meja makan.
Sementara Masyitah membersihkan dapur, Fairuz dan Marlina pergi ke toko untuk membuka toko mereka. Mereka membeli toko jadi karena pemiliknya telah lama meninggal.
Suara bel rumah mengejutkan Masyitah yang tengah membersihkan dapur, Wanita ini bergegas pergi untuk memeriksa siapa yang datang pagi-pagi.
Bel itu sekali lagi berbunyi karena pemilik rumah belum juga membuka pintunya. Hingga membuat Masyitah mempercepatkan langkah kakinya untuk membuka pintu.
Ceklek !
Hallo, mampir ke karya event horor milik author ya, author butuh dukungan kalian tanpa menabung bab 🙏☺️untuk mencapai retensi yang bagus💜
__ADS_1