
Carolin memilih untuk pulang, tetapi begitu Carolin hendak pulang. Mobil polisi yang menjemput Fairuz tiba, hanya saja Carolin tak ingin bertemu. Wanita ini sudah begitu senang dapat menghukum orang yang berani menyinggung keluarganya.
Namun, begitu ingin masuk ke dalam mobil, Masyitah tiba tepat waktu dan melihat Carolin yang masuk ke dalam mobil. Wanita ini yakin, jika Fairuz di tangkap atas laporan dari Carolin, karena Masyitah bisa menebak jika keluarga Lucifer mungkin marah pada keluarga Anthena.
Di dalam kantor polisi, Masyitah tak melihat adanya Fairuz. Mereka tak menginterogasi pria itu, tetapi malah langsung menahannya membuat Masyitah dan Marlina bingung.
"Pak, kenapa papa saya di tahan? Kesalahan apa yang telah di perbuat olehnya?"Tanya Masyitah begitu masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Pak Fairuz, sudah melakukan kejahatan yang cukup berat. Pak Fairuz melakukan penggelapan dana pembangunan proyek rumah sakit, yang bekerjasama dengan JM Groups, itu adalah perusahaan baru. Tetapi, Nona Anda harus mengetahuinya, di bawah JM Groups bukan perusahaan biasa, belum satu bulan perusahaan itu telah mencapai tingkat yang tertinggi di dunia bisnis."Ungkap Komisaris. Masyitah hanya terlihat begitu bingung mendengar perusahaan itu, jelas saja dia belum pernah mendengar perusahaan tersebut.
"Bisakah, bapak memberikan nomor pelapor kepada kami?"Tanya Masyitah, polisi ini menggelengkan kepalanya.
"Tidak, jika kamu ingin bertemu datanglah ke perusahaan itu. Bertemu langsung mungkin adalah cara yang benar,"ujar polisi tersebut.
Masyitah tak mendapatakan petunjuk apapun di kantor polisi, akhirnya dia mengajak Marlina untuk pulang.
Setelah mengantar wanita itu pulang, Masyitah segera pergi lagi, karena takut sesuatu terjadi dengan ayahnya. Masyitah berniat ingin bertemu dengan Jordan langsung.
Masyitah menghentikan mobilnya di depan perusahaan JM Groups. Seseorang baru saja keluar dari lift dan berjalan melewati koridor kantor. Tepat di lobi, Jordan menghentikan langkah kakinya begitu melihat sosok yang tak asing baginya sedang memasuki lobi perusahaan JM Groups.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Tanya Neo, yang melihat Jordan berhenti tiba-tiba. Lalu, pandangan Neo mengikuti arah padangan Jordan yang menatap lurus ke depan sembari mengeluarkan senyum khasnya.
Masyitah berbicara dengan resepsionis, untuk bertemu dengan CEO perusahaan JM Groups.
"Permisi, apa saya boleh bertemu dengan CEO JM Groups?" Tanya Masyitah, yang bertugas di resepsionis menatap Masyitah dari atas hingga bawah dan begitu seterusnya.
"Apa Anda sudah membuat janji?"
"Belum?"
"Nona, Anda tidak bi...."
__ADS_1
"Tidak perlu membuat janji,"ucap Jordan yang sudah berdiri di belakang Masyitah, mendengar suara yang tak asing baginya membuat seluruh tubuh Masyitah mematung. Wanita ini berbalik, untuk memastikan jika yang berbicara itu bukan Jordan, karena sudah hampir dua Minggu mereka tak bertemu.
Namun, apa boleh di kata jika pria itu benar Jordan. Masyitah membulatkan netranya, tetapi Jordan hanya tersenyum melihat keterkejutan Masyitah.
"Neo, antar dia ke ruangan tunggu privat, aku akan menyusul setelah ini,"ujar Jordan dan berlalu pergi, meninggalkan Masyitah yang dalam keadaan bingung.
Masyitah masih menatap kepergian Jordan, Neo langsung mengajak Masyitah untuk menyusul Jordan, ada banyak pertanyaan yang ingin Masyitah tanya? Apalagi melihat Neo ada di perusahaan itu. Masyitah tentu saja baru memikirkan sesuatu yang mungkin tak bisa dibayangkan olehnya kenyataan itu.
Neo, membuka pintu masuk untuk Masyitah, wanita ini segera masuk. Di dalam ruangan Jordan duduk di mejanya dengan raut wajah yang cukup dingin.
"Tuan," ucap Masyitah, membuat Jordan melihat kearahnya, tetapi Masyitah malah menundukkan pandangannya ketika Jordan menatapnya.
"Kau bisa memanggil namaku, sepertinya kita seumuran,"tukas Jordan, kini Masyitah menatap pria itu yang tersenyum khas kearahnya. Membuat Masyitah takut dan bahkan tangannya dingin.
"Jordan...."
"Jordan, kenapa kamu menangkap papaku?"
"Papaku, pasien...."
"Bukan, bukan itu. Tolong kamu sebut namaku sekali lagi, jika kau mengatakan selain namaku, ku pastikan sesuatu pasti akan terjadi setelah ini,"ujar Jordan, Masyitah meremas ujung hijabnya. Serta tangan yang gemetar dia berusaha menghadapi sosok Jordan.
"Jordan...."
"Sekali lagi, sebut namaku dengan penuh cinta,"
"Jordan...."
Pria ini memejamkan matanya kala mendengar suara lembut Masyitah yang memanggil namanya. Serta Wanita ini yang menahan isak tangis yang takut akan Jordan.
"Aku akan mengurus sisanya,"ucap Jordan, Masyitah menatap pria itu tak percaya, seketika air mata Masyitah tumpah yang sejak tadi sudah ditahannya. Wanita ini berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan setengah berlari. Tetapi, Jordan yang melihat itu masih menatap punggung Masyitah dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
Neo, masuk ke dalam ruangan tersebut, dimana Jordan yang masih tersenyum.
"Oma, yang menangkap Tuan Fairuz?"
Neo mengangguk, karena Noe juga membawa berkas tersebut ke hadapan Jordan, pria ini membawa seluruh isi berkas, lalu menyuruh Neo menghubungi pihak yang berwajib untuk melepaskan Fairuz.
Di tempat lain, Masyitah baru saja sampai di rumah, dengan langkah yang tertatih dia memasuki rumah, di ruang tamu Marlina sedang menunggunya.
"Masyitah, apa yang terjadi?"
Masyitah tak menjawab, dia langsung memeluk tubuh Marlina, serta menangis di pelukan sang nenek. Marlina mengusap lembut punggung sang cucu, karena Marlina tahu jika Masyitah begitu pasti karena memikirkan Fairuz.
Di sela-sela tangis Masyitah, Fairuz pulang. Membuat dia wanita itu segera menghampiri Fairuz. Lalu, Fairuz duduk di sofa, Masyitah memberikan minum untuk Fairuz, sembari menanyakan kabar sang ayah.
"Kita harus meninggalkan kota ini,"ucap Fairuz kemudian. Masyitah dan Marlina sama terkejutnya.
"Papa...."Masyitah dapat melihat bagaimana Fairuz putus asa akan hal itu.
"Kita haru ls pergi Masyitah. Aiman juga sudah pergi dari sini, jadi untuk apa lagi kita di sini, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Papa sudah membeli sebuah toko di desa gelap, sementara kita bisa tinggal di sana,"ujar Fairuz.
Masyitah yang tak punya pilihan lain, terpaksa harus mengikuti perkataan sang ayah. Terlebih, dia akan mengambil surat pengunduran diri dari klinik tempat dia kerja.
House Hyde Park.....
Jordan baru saja pulang dari perusahaan, melihat Carolin yang duduk menyilangkan tangannya di ruang tamu. Jordan berdiri tepat di depan Carolin.
"Kenapa Oma tak pernah mengatakan jika Masyitah dan Aiman adalah saudara kandung?"Tanya Jordan, Carolin menoleh ke arah Jordan, pria ini menunggu jawaban dari neneknya.
"Kau sudah tahu, aku tak perlu mengatakannya lagi bukan?"Carolin bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri di depan Jordan.
"Sudah ku katakan, mereka sengaja berlagak tak menyukaimu, padahal mereka tahu jika Maryam adalah adikmu, mereka hanya menyukai uangmu saja, kau harus sadar Jordan!"ucap Carolin, dengan tegas sembari menekan dada Jordan dengan telunjuknya.
__ADS_1
Carolin pergi ke kamar, Jordan hanya bisa mengerutkan keningnya melihat Carolin yang pergi begitu saja. Jordan, meminta Neo untuk mengembalikan saham Anthena, serta menyuruh Neo untuk membantu perusahaan itu lagi agar berkembang seperti sebelumnya.