Wanita Indigo

Wanita Indigo
Kamu Dengki Aku Tidak Peduli


__ADS_3

Bab 23 Kamu Dengki Aku Tidak Peduli


Nina sungguh tidak tahu ingin mengatakan apakah ini adalah kecelakaan membawa keberuntungan, karena saat ini Nina sudah melihat beberapa uang berwarna merah dan sekiranya dihitung mungkin rp600.000, Nina kemudian berkata sangat terbata-bata.


“Ak~ak~ aku ahh.. Maaf pak, aku tidak mengalami luka yang serius tidak apa-apa tidak perlu repot-repot untuk memberikan uang kepadaku..”


Nina sudah diajarkan oleh neneknya, jika ada seseorang yang memberikan uang karena atas bantuan oleh dirinya sebaiknya menolak terlebih dahulu.


Setelah orang itu yang menghasilkan hadiah masih tetap bersekukuh maka terimalah dan tidak lupa Anda harus berterima kasih.


“Tidak nak, yang bisa di cari tapi kesehatan mahal harganya, lihat walaupun kamu tidak memiliki luka bagian luar aku melihat bahwa di mulutmu ada darah dan ini mungkin aku mengira kamu terkena luka dalam..”


“Nah, lebih baik terima uang ini sebagai kompensasi.”


“Aku~aku~!" Nina masih terbata-bata, walaupun dia sebenarnya membutuhkan uang untuk modal menjadi pedagang kecil-kecilan, namun sekarang melihat uang sebegitu banyaknya masih tidak percaya.


Orang dinas itu melihat keraguan dari Nina akhirnya meraih tangan Nina langsung uang itu ditaruh telapak tangan Nina langsung berkata. “Nah, kamu tidak perlu sungkan-sungkan untuk menolaknya terima ini ini dianggap sebagai rezeki kamu.”


“Terimakasih Pak!”


Nina langsung bersyukur kemudian yang pada awalnya ingin melanjutkan lagi jogging setelah mendapatkan uang rp600.000, akhirnya dia mengurungkan diri langsung pergi ke rumah.

__ADS_1


Dan sekarang orang yang memiliki seragam Dinas juga sudah pergi secara pelan karena takut saja jika motor itu akan mengalami kecelakaan lagi.


Bahkan Nina berpesan sebelum kepergian orang yang memakai baju seragam Dinas untuk memagerkan motor itu ke bengkel agar cepat diperbaiki dan ditangani.


Tentu saja orang itu mengangguk setuju karena jika tidak dibenarkan maka kedepannya akan mengalami kecelakaan lagi.


Setelah Nina melihat bahwa orang itu sudah jauh dia juga berjalan pelan-pelan untuk kembali ke rumah dengan raut wajah yang sangat gembira karena mendapatkan uang rp600.000.


“Akhirnya, pada uang di tanganku maka dari itu untuk membuka usaha seperti jualan gorengan di depan rumah akan cukup juga hehehe.” Nina terkekeh pelan sambil berjalan sedikit tertatih-tatih akibat bokong bagian kiri sedikit cedera.


20 menit kemudian akhirnya Nina sudah sampai di depan rumah setelah itu, dia beristirahat sebentar lalu merencanakan bagaimana caranya untuk menjual gorengan di depan rumahnya, Nina berpikir bahwa jika berjualan gorengan di depan rumah, mungkin tidak terlalu signifikan sehingga dia memutuskan untuk berjualan di pinggir jalan raya tersebut.


Tapi, untuk menempati halaman itu yang di pinggir jalan harus meminta izin pemilik tanah itu jika tidak mau tak akan tidak diperbolehkan.


Dua menit kemudian akhirnya Nina sudah tiba di rumah yang kebetulan pemilik kebun tersebut. Pemilik kebun itu kebetulan adalah Bu Kusmiyati ibu dari Novi Wulandari.


“Ibu, jadi seperti ini aku akan menyewa tanah ini sebulan untuk mencoba berjualan gorengan di sini, kira-kira jika Ibu berkenan aku ingin menyewa," ucap Nina dengan hormat. Bahkan dia merasa tidak enak hanya karena meminta izin sudah di suguhkan minuman Teh oleh ibunya Novi.


Sementara itu, Kusmiyati yang mendengarkan perkataan dari Nina, tiba-tiba menatap penuh kekaguman, dalam benak Kusmiyati anak ini sungguh berjuang sangat keras tidak ada kata malas dalam hidupnya.


Yang pertama, dari awal pekerjaannya membantu nenek mengais pasir, tiba-tiba beberapa hari sudah beli Kambing kecil di Bapak Warmono.

__ADS_1


Sekarang hanya membutuhkan beberapa hari lagi dia berkata kepada Anda bahwa Saya ingin menyewa tanah Anda untuk mencoba berjualan percobaan satu bulan.


Ini tidak bisa di percaya!


Karena melihat antusias dari Nina begitu sangat semangat akhirnya Mak Kusmiyati hanya berkata dengan lembut. “Hebat kamu Nina tidak seperti anakku yang sungguh sangat malas, lihat teman mu masih di kamar sedang main handphone.”


“Jika kamu ingin menyewa tanah itu kenapa tidak sekalian menyewa warungku yang sudah tidak dipakai ini sudah dari dulu satu bulan cukup rp100.000, apakah kamu bersedia?”


Kata-kata Kusmiyati setelah didengar oleh telinga Nina seketika matanya berpindah karena biaya sewa yang diajukan oleh ibunya Novi sangat murah yaitu rp100.000 per bulan.


Ini kesempatanku Anda untuk memanfaatkan peluang tersebut ayolah telah cepat jika anda ingin berdagang!


“Ahh Bu Kuss, terima kasih Jadi sekarang aku bisa menempati warung itu?” ucap Nina masih tidak percaya.


“Benar, aku tidak berbohong kepada mu.” Balas Kusmiyati sambil tersenyum lembut.


Kemudian tanpa berlama-lama, akhirnya Nina meraih uang di saku yang berjumlah rp600.000 kebetulan dia sedang duduk di teras rumahnya Novi sehingga, Marsinah yang sedang menyapu jalan-jalan melihat transaksi antara Nina dan Kusmiati akhirnya menjadi sangat dengki Bahkan dia menjadi kebakaran jenggot.


Sembari mendekati ke arah mereka berdua Marsinah tiba-tiba berceletuk secara tidak sopan.


“Dapat uang banyak, mungkin habis mencuri duit orang!”

__ADS_1


Nina dan Kusmiyati sontak langsung melirik tajam ke arah nenek Marsinah.


__ADS_2