
Bab 6 Di Tuduh Mencuri
Ketika Nina memasukkan batu akik ke dalam sakunya tiba-tiba secara ajaib sepertinya perilaku Nina berupa dramatis menjadi sedikit enak dipandang dan memiliki Aura positif yang memancar ke seluruh sekitarnya.
Efek ini tentu saja tidak disadari oleh Nina sendiri, hanya orang-orang yang melihatnya bahwa Nina semakin menjadi enak dipandang.
ketika dirinya sedang dalam bahagia dan tanpa sadar sudah tiba di halaman rumahnya dia sepertinya mendengar suara cekcok antara nenek dan tetangga sebelahnya.
“Ada apa ini?” Nina wajahnya menyipit. Setelah itu, karena merasa seperti curiga setelah itu langsung buru-buru untuk menghampiri rumahnya dan melihat apa yang sedang terjadi.
Nina berkata lagi: “Nenek Ada apa Kenapa ribut-ribut tidak baik dilihat tetangga atau didengar oleh tetangga..”
Maryati seketika kaget ketika ada Nina Yang tiba-tiba di sebelahnya tanpa disadari dengan muka sedih akhirnya membalas seperti ini: “Nak.. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia datang ke sini bawa aku dituduh mencuri uang oleh Marsinah..”
Setelah itu Maryati menjelaskan panjang lebar kepada Nina bahwa ketika dia sedang sendirian di rumah entah kenapa tiba-tiba perutnya ingin mulas karena jarak Sungai lumayan jauh dan tidak sudah ditahan dia akhirnya menumpang di WC rumahnya Marsinah.
Karena rumah sendiri yang masih joglo, tidak memiliki tempat untuk buang air besar sehingga terkadang dia numpang di rumah orang lain yang memiliki pembuangan air besar.
Dia pergi ke rumahnya Marsinah untuk numpang sebentar dan tidak pernah menggoda rumahnya tapi entah kenapa marsinah menuduh dirinya bahwa dirinya mengambil uang rp200.000.
Nina yang mendengarkan penjelasan dari Maryati tentu saja dia sedikit kesal dan marah tapi nyatanya dia tidak bisa berbuat apa-apa walaupun dirinya berkata jujur untuk melawan ibu-ibu yang tidak punya otak sama aja lebih baik memarahi batu sekaligus.
__ADS_1
Nina menjelaskan kepada Marsinah dengan lembut: “Nek.. mungkin nenek lupa menaruh uang itu mana mungkin nenek aku sangat lancang memasuki kamar orang lain itu bahkan mustahil bagiku.”
Tapi apa yang dikatakan oleh Nina jawabannya seperti ini dari Marsinah. “Hummp mana ada maling yang ngaku jika ada maling yang aku mungkin maling itu adalah maling yang terlalu bodoh.”
“Cepat kembalikan uangku dasar sialan jika tidak mengembalikan uang maka aku akan menuduh kamu sebagai pencuri! Bahkan aku tidak segan untuk melapor polisi.”
Ancaman yang keluar dari Marsinah membuat hati Maryati dan Nina menjadi panik dengan gugup langsung Nina berkata seperti ini. “Nek.. coba pikirkan baik-baik Aku berani bersumpah kepada nenekku bahwa dia tidak pernah mencuri sedikit sama sekali mungkin saja kamu teledor dan menaruh uang itu di mana..”
Marsinah melihat nada-nada kata dari Nina akhirnya tambah marah dia berkata lagi. “Kamu adalah anak kecil tidak perlu mengikuti urusan kita lebih baik kamu minggir Kamu adalah anak kecil jangan menentang orang tua kamu paham..!!”
Marsinah menghardik sehingga Nina tidak bisa berkata apa-apa langsung diam di tempat tapi ada jejak kekesalan dan tidak ada keberdyaan karena dirinya sungguh tidak mempunyai uang sebesar rp200.000 jika ada dia langsung mengembalikan tanpa pikir panjang.
Namun meskipun begitu dia tetap berkata lagi. “Ok.. beri waktu aku seminggu aku akan melunasi uang rp200.000..”
“Nenek tidak apa-apa aku yakin jika ada rezeki aku akan mengembalikan uang rp200.000 walaupun kita tidak pernah mencuri uang dari dia.” Balas Nina dengan tabah.
Maryati juga tidak bisa berbuat apa-apa walaupun dirinya tetap berkata jujur namun di mata Marsinah dirinya tetap salah di matanya sehingga langsung menghela nafas tidak berdaya.
“Baik Nina kita kebetulan pasir yang sudah dikumpul sedikit banyak ayo kita jual mungkin bisa mendapatkan uang berapa ratus ribu rupiah.” Kata Maryati.
“Baik nenek, kita harus menjual pasien itu daripada kita dituduh terus-menerus.” Kata Nina tatapannya sangat serius dia ingin sekali menghajar Marsinah tapi takut dirinya menjadi anak yang tidak berbakti.
__ADS_1
Marsinah juga melihat kedua orang itu yang sedang membuat keputusan akhirnya hanya tersenyum tapi dia ada jejak kelicikan di hatinya walaupun dia hanya menebak bahwa Maryati yang telah mengambilnya dan sepenuhnya tidak benar, dia hanya mengutarakan alasannya yang masuk akal berapa menit sebelum kejadian hilang uangnya Maryati masuk ke dapur untuk menumpang kamar mandi Ketika Maryati sudah selesai pergi dari kamar mandi tiba-tiba uang 200.000 hilang.
Sehingga dirinya hanya menuduh ke arah Maryati dialah yang mencuri dan dialah yang mengambilnya tanpa diketahui.
Setelah memikirkan pro dan kontra akhirnya dia mengangguk ke arah kedua orang itu dan berkata: “Baiklah kalian aku beri kesempatan satu minggu jika 1 minggu kamu belum melunasi uang yang kamu curi sebesar rp200.000 maka bersiap-siaplah aku akan melapor ke polisi. Apakah kalian paham?
“Yakinlah.. aku akan membalikkan uang rp200.000 itu kepadamu.” kata Nina sambil mengepalkan tangannya dia sungguh membenci nenek Marsinah ini.
Sejak dari dulu tetangga ini sering bermusuhan dengannya walaupun kadang-kadang akan saling meminta maaf tapi permusuhan juga tidak bisa dihindari di masa-masa yang akan mendatang.
Marsinah mengangguk dengan judes dia menjawab sangat singkat. “Baiklah.. aku menunggumu.”
Setelah itu dia meninggalkan Nina dan maryatih untuk kembali ke rumahnya.
setelah itu Nina menatap ke arah Maryati sambil mengharukan kepalanya. “Nenek.. bagaimana ini jika kita menjual pasir itu mungkin saja hanya mendapatkan uang pas-pasan sebetulnya jika pasir itu dijual sudah cukup untuk keperluan kita sehari-hari kurang lebih 2 minggu. Tapi uang itu kan untuk melunasi kepada nenek Marsinah, dan kita tidak mendapatkan apa-apa.”
melihat ketidakberdayaan dari Nina tentu saja Maryati tersenyum kecut dia tidak bisa berbuat apa-apa bahkan jika dirinya jujur tidak berguna bagi Marsinah.
Maryati berkata dalam hati Kenapa hidup ini sungguh sulit dan tidak adil.
Meskipun merasa tidak berdaya dan tidak puas Mariati hanya tersenyum lembut kepada Nina Dia berkata seperti ini.
__ADS_1
“Nak, menjalani hidup itu memang harus sabar. Kalau tidak sabar, nanti tidak dapat apa-apa. Sabar aja dulu jalani aja dulu. Terima takdirnya. Terima apa yang harus dilalui. Nanti, sadar dan tahu kok maksudnya apa Kenapa harus melalui jalan ini. Kalau pun sudah sabar tapi rasanya tetap berat, tidak apa-apa kita selalu tahu kapan harus berhenti dan putar arah mencari jalan yang lain.”
Kata-kata Maryati sepertinya nasehat bagi dirinya agar tetap bersabar sehingga rasa kekesalan yang tadi tiba-tiba menghilang seketika. setelah itu Nina berkata. “Nenek apa yang dikatakan nenek, benar. Semakin dewasa aku, aku semakin belajar bahwa merawat ego itu perlu dipupuk seperti: dengan sabar setiap hari, setiap waktu, tidak hanya satu kali dua kali saja.”