Wanita Indigo

Wanita Indigo
Pesugihan Air Liur Kuntilanak


__ADS_3

Bab 7 Pesugihan Air Liur Kuntilanak


karena ini mumpung masih siang hari, Nina dan Maryati pergi ke sungai untuk mengambil pasir yang sudah dikumpulkan untuk dijual ke Depo penerima toko bangunan.


Kebetulan toko bangunan tidak terlalu jauh sekitar 70 meteran dari rumahnya. karena tidak terlalu jauh akhirnya mereka berdua berjalan kaki untuk menuju ke toko bangunan.


Bahkan jumlah pasir itu tidak terlalu banyak hanya beberapa karung sehingga pemilik toko bangunan hanya memberikan rp200.000 kepada dirinya.


tentu saja Maryati meminta harga yang lebih tinggi tapi sayangnya keputusan pemilik toko bangunan mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. karena pasir yang dicari oleh Maryati berasal dari sungai dan sedikit kualitasnya tidak terlalu baik.


Maryati dan Nina akhirnya menyerah dia tidak akan protes lagi. meskipun begitu dia ingin sekali ada sisa uang hasil penjualan pasir itu sehingga kebutuhan sehari-hari sekitar 4 hari bisa dipenuhi.


Tapi dia hanya mendapatkan uang rp200.000 dan tidak ada yang lebih lagi sehingga ini hanya pas untuk diberikan kepada Marsinah.


Nina juga tidak bisa menawar lagi karena dia bukan ahlinya tapi ketika dia mendengar bahwa pasir itu dihargai 200.000, dia sungguh tidak berdaya diam-diam dia sangat membenci kepada nenek Marsinah.


Padahal nenek Maryati tidak pernah mencuri kepada orang lain tapi dia sungguh sangat licik menuduh keluarga dirinya bahwa mencuri uang 200.000.


Sekarang hanya memiliki uang 200.000 untuk membeli keperluan sehari-hari di masa hari yang mendatang bagaimana? Tentu saja Maryati bahkan dirinya akan pusing untuk mencari uang lagi.


Hanya membutuhkan kurang lebih berapa menit mobil pick up menghampiri rumahnya di sampingnya mobil itu mengangkut pasir dan dibawa ke tempat toko gudang.


Sekarang Maryati memandang ke arah Nina hanya berkata seperti ini: “Nak, tidak apa-apa walaupun uang ini hanya mendapatkan 200.000 tapi setidaknya yang hal yang pertama adalah memberikan uang ini kepada Marsinah itu setelah itu nenek tidak akan menumpang kamar mandi.”


“Lebih baik aku pergi ke sungai daripada kita dituduh lagi.”


Nina tersenyum pahit: “Jika aku mempunyai uang yang banyak aku yakin akan membuat kamar mandi yang lebih bagus bahkan merombak rumah ini lebih baik.”


“Humm nenek mendoakanmu semoga di masa depan kamu menjadi wanita yang sukses dan lebih baik daripada sekarang.” Kata Maryati sambil tersenyum setelah itu berkata lagi. “Nak, aku pergi terlebih dahulu untuk menemui Pok Marsinah mengembalikan uang yang 200.000.”


"Baik!"


Nina hanya menganggukan kepalanya. setelah itu karena dirinya hanya sendirian dan Maryati sudah meninggalkan dirinya dia akhirnya Pergi untuk mencari ranting kayu di hutan.

__ADS_1


Di jalan sangkanayu serang kabupaten Purbalingga kecamatan mrebet, setidaknya jalan ini cukup ramai untuk menuju ke arah hutan itu dia harus menyeberang jalan yang sangat ramai.


Tapi ketika dia hendak menyebrang sepertinya melihat ada pasangan suami istri yang sedang membangunkan anak sekitar umur 3 tahun yang sedang tidak sadarkan diri.


Nina otomatis ingin tahu dengan jiwa wanitanya dia akhirnya menyeberang jalan itu sangat hati-hati setelah itu Dia mendekati kedua orang itu.


Nina berkata ingin tahu kepada kedua suami istri: “Maaf Mbak ini kenapa kok anaknya kejang-kejang?”


Wanita itu yang masih dalam keadaan panik tiba-tiba ada suara yang berasal dari di sampingnya akhirnya menolehkan wajahnya dan melihat ada wanita berumur 15 tahun yang mengatakan kepada dirinya dengan ingin tahu.


“Mbak aku tidak tahu tiba-tiba langsung seperti ini matanya memutih ke atas dan kejang-kejang aku sungguh khawatir.” Wanita itu sangat panik dia ingin melanjutkan perjalanan lagi ke arah


puskesmas untuk penanganan kepada anaknya, tapi sepertinya ini bukan dari penyakit tertentu atau kejang-kejang.


Karena dia seperti bahwa anaknya sedang dalam kerasukan setan.


Otomatis Nina memandang anak kecil itu tiba-tiba ada sederet informasi di matanya.


[Nama Gibran Felix Saputra: Balita yang masih berumur 2 tahun lebih 7 bulan dan berkelamin laki-laki saat ini sedang diganggu oleh kuntilanak.]


[Solusi sementara: Anda harus menyiapkan pohon talas merah untuk menetralisir energi negatif yang dipancarkan oleh kuntilanak. Setelah anda mendapatkan pohon talas merah, sebaiknya anda kepah-kepahkan pohon talas merah itu kepada balita itu sekitar 7 kali]


[Cara menghilangkan permanen dari target tumbal kuntilanak: Anda harus menyiapkan garam sekitar setengah kilo, bunga Kunti dan bunga mawar secukupnya.]


[Setelah bahan-bahan sudah disiapkan maka anda harus mencampurkan garam dan bunga itu menjadi satu. Setelah sudah dicampurkan balita itu dibasuhkan menggunakan garam yang sudah dicampur dengan bunga Kunti dan bunga mawar selama 7 hari berturut-turut menjelang malam.]


Nina akhirnya tidak bertala tele dia langsung mengambil pohon talas merah yang liar di kebun-kebun milik tetangga.


Dia meraih sangat cepat langsung tiba di hadapan kedua pasangan suami istri. Bahkan, perilaku Nina membuat hati kedua suami istri itu sedikit curiga tapi selanjutnya dia terpana karena kedua orang itu, melihat Nina mengambil pohon talas merah langsung dipukul-pukul lembut kepada anaknya.


"Puk!"


"Puk!"

__ADS_1


"Puk!"


“Apa yang kamu lakukan!” tiba-tiba ayah dari anak itu berkata ingin tahu tapi selanjutnya dia tiba-tiba terpanak di tempat karena anaknya sendiri yang tadinya kejang-kejang seperti kesurupan tiba-tiba langsung tidak sadarkan diri dan terbujur lemas.


Ayah dari anak itu melihat kemampuan dari wanita yang masih berumur 15 tahunan akhirnya menatap ke arah Nina menjadi sangat luar biasa.


Wanita itu langsung memeluk Nina dengan semangat sambil dan berterima kasih.


“Ade terima kasih jika tidak ada kamu mungkin ceritanya menjadi tidak seperti ini.” ibu dari anak itu sangat berterima kasih dan memeluk sebentar tubuh Nina.


Kemudian Nina berkata yang sebenarnya. “Mbak Apakah kalian tadi sehabis makan di warung bakso?”


Ibu dari anak itu langsung terkejut dia langsung berkata. “Benar kenapa kamu tahu?”


Nina menghirup nafas yang segar langsung berkata kepada kedua suami istri itu dengan Tatapan yang sangat serius.


“Ibu, Om Jika kamu percaya tidak apa-apa dan jika kamu tidak mempercayainya aku tidak akan memaksa jadi begini Om, Bu, anak kalian akan ditargetkan menjadi tumbal pesugihan dari warung bakso itu.” kata-kata yang dilontarkan oleh Nina akhirnya membuat terkejut dari wanita dari anak itu.


Wanita itu langsung menangis tersedu-sedu langsung memeluk Nina dan berkata.


“Ya Tuhan bagaimana ini aku tidak ingin anakku Mati dia adalah anak satunya..” Bahkan ayah dari anak itu juga tidak bisa berbuat apa-apa dia sungguh panik takut kehilangan anaknya karena dijadikan tumbal.


Tapi Nina berkata dengan lembut. “Kalian tidak perlu khawatir aku mempunyai solusi.”


Setelah itu, Nina memberikan cara-cara yang tertulis dari tulisan misterius itu kepada pasangan suami istri.


Bahkan kedua pasangan suami istri itu berterima kasih sehingga tanpa pikir panjang wanita itu mengeluarkan dompetnya dan mengasih rp1.000.000 kepada Nina.


Awalnya Nina langsung terkejut bahkan matanya hampir copot keluar karena melihat uang sebanyak itu dia menolak. Tapi, kedua pasangan suami istri itu masih bersekukuh untuk menyodorkan uang itu kepada dirinya dengan alasan uang rp1.000.000, ini tidak ada berharganya dengan nyawa anaknya sendiri.


Akhirnya Nina dengan sungguh-sungguh langsung mengambil uang itu dengan tangan gemetar. tentu saja dirinya akan memberikan alamat rumahnya jika terjadi sesuatu kepada anak itu.


Setelah itu mereka semuanya bersalaman berterima kasih dan kedua pasangan suami istri itu pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Nina yang masih sendirian di pinggiran jalan raya dia menatap ke atas langit sedikit meneteskan air matanya dia melihat uang sebanyak itu dengan tangan gemetar.


Mengingat masalah demi masalah yang dia lalui bahkan sampai dituduh mencuri oleh Marsinah akhirnya dia berkata sangat serius tapi penuh Ke tabahan. “Tidak ada kehidupan satu manusia pun di muka bumi ini yang sempurna. Semua punya masalah masing-masing. Dan semua berjuang dengan caranya masing-masing.”


__ADS_2