Wanita Tuan Muda Ares

Wanita Tuan Muda Ares
Adelina Margaret


__ADS_3

"Kenapa kita jadi ikut-ikutan ke tempat ini sih??" Gerutu Joe yang tentu saja tidak senang karena diri nya harus ikut ke dalam hutan untuk berburu. Secara selama dua puluh tahun usia nya, dia selalu menghindari festival ini dengan berbagai cara. Tapi siapa sangka hari ini dia malah berakhir di sini.


"Sungguh sia*l!!" maki nya yang tidak ada henti nya sedari tadi.


"Berhenti lah menggerutu, Joe! Apa yang kau rasakan bahkan belum sampai 1 % dari apa yang aku rasakan dalam dua puluh empat jam terakhir ini. Jadi please, diam dan terus lah berjalan. Atau kau akan membuat perjalanan kita berdua akan semakin terasa berat." Omel Aphrodite yang jauh tidak ikhlas berada di dalam hutan ini di bandingkan Joe.


Dalam pikiran Aphrodite, masih mendingan JOe! Dia laki- laki tulen dan dia pun anak dari keluarga bangsawan. Sudah sewajar nya dia berada di sini untuk ikut festival ini. Lantas bagaimana dengan diri nya? Pertama dan yang paling utama, diri nya adalah wanita tulen. Dan yang kedua, dia itu rakyat jelata! So kenapa diri nya pun sampai harus bersusah payah seperti ini?? Aphrodite benar- benar merasa sial. Seharus nya dia tidak pernah datang ke losmen itu. Seandai nya saja dia tidak melangkahkan kaki ke tempat itu maka nasib nya tidak akan seperti hari ini. Tapi apa guna nya ia menyesal, toh tidak akan merubah apapun juga.


Aphrodite pun terus berjalan di samping Joe sedangkan Ares dan yang lain nya berkuda di depan. Tadi Aphrodite juga di suruh untuk berkuda, namun untung nya tidak ada kuda yang nganggur yang bisa Aphrodite naiki di tambah lagi Joe juga tidak pandai naik kuda, karena memang tuan muda satu ini tidak ada passion jadi pria bangsawan sejati.


Itu lah mengapa Aphrodite dan Joe saat ini berjalan kaki berdua.


Karena jarak mereka cukup jauh dari rombongan berkuda yang ada di depan, maka Joe pun mulai membuka obrolan yang bersifat rahasia dengan Aphrodite.


"Kau baik- baik saja Noel? Apa terjadi sesuatu antara mu dan Ares selama di rumah Ares semalam?" tingkat keingintahuan Joe yang tinggi membuat nya berani bertanya hal itu pada Aphrodite.


"Kau ini bicara apa, Joe! Sudah jangan bahas itu! Nanti kalau ada yang dengar bisa bahaya! Sandiwara ku dan Ares bisa terbongkar." Aphrodite berusaha memperingatkan Joe agar tidak bicara soal hal itu lagi. Tapi seperti nya Joe yang sudah kadung penasaran tidak bisa secepat itu menutup mulut nya. Dia pun kembali bertanya pada Aphrodite.


"Ayoo lah, Noel! Aku penasaran! Apa terjadi sesuatu pada mu dan Ares semalam? Secara kalian berdua saja kan di dalam kamar?" tanya lagi dengan suara yang lebih pelan.


"Tidak terjadi apa pun. Aku dan Ares kan sama- sama laki- laki! memang nya apa yang bisa terjadi!" Jawab Aphrodite berbohong. Mana mungkin dia menceritakan setiap detail yang terjadi antara diri nya dan Ares. Bisa heboh Joe.


Aphrodite menghela nafas nya pelan lalu melanjutkan kata- kata nya. " Semua nya berjalan baik- baik saja. Ekhm, kau jangan jauh- jauh dari ku ya Joe? Aku sama sekali tidak paham tentang festival ini. Aku takut aku nanti melakukan kesalahan." Bisik Aphrodite untuk mengalihkan Joe dari rasa ingin tahu Joe yang seperti nya sangat besar. Selain itu, dia pun memang tidak paham maka nya akan lebih baik jika dia bersama seseorang yang mungkin saja paham dengan jalan nya festival ini.


"Tenang saja. Secara teori aku sangat paham dengan festival ini namun secara praktik nya aku nol besar. Aku tidak pernah ikut bahkan satu kali pun. Kita tetap saja bersama. Saat Tim berburu pergi ke dalam hutan untuk berburu, kita pun akan ikut dari belakang. Lalu kita pura- pura berburu sambil mencari tempat untuk bersantai sampai waktu berburu selama enam jam berakhir. Dan disaat semua orang akan kembali, kita pun kembali bersama para mereka.. Bagaimana? rencana ku perfect bukan?" Ucap Joe dengan bangga.


Aphrodite pun manggut- manggut sebab kedengaran nya rencana Joe ini cukup layak untuk di coba.


"Baiklah kalau begitu aku akan ikut rencana mu. Biarkan saja yang lain berburu, kita akan mencari kesibukan kita sendiri di dalam hutan." Ujar Aphrodite.


"Deal!"

__ADS_1


Joe dan Aphrodite pun saling bersalaman dan tertawa kecil. Tapi mereka berdua sama sekali tidak menyadari kalai ada sepasang mata yang mengawasi mereka sedari tadi.


Rombongan keluarga tuan Figo pun terus berjalan menuju titik perkemahan semua keluarga kerajaan dan bangsawan.


"KITA SUDAH SAMPAI!!" terdengar teriakan seorang pria yang arah paling depan rombongan yang menandakan kalau mereka semua telah sampai di area perkemahan.


"Kau tidak bisa seenak mu di sini Ares! Jaga nama baik ku! aku tidak ingin ada gosip yang muncul di sini." Peringat Figo pada putra nya saat ia melintasi Ares yang sedang mengikatkan kuda nya di salah satu kayu.


"Tuan Figo tenang saja. Aku akan tidur satu tenda dengan ke lima teman ku. Jadi di dalam tenda itu tidak hanya akan ada aku dan Noel tapi juga lima teman ku yang lain nya. Apa itu cukup untuk menenangkan kekhawatiran mu?" Balas nya dengan wajah sedingin es pada ayah nya.


Tuan Figo tidak membalas perkataan putra nya, dia hanya melirik Ares sesaat lalu pergi meninggalkan Ares.


"Apa yang terjadi Ares? Kenapa tatapan ayah mu tidak sedap untuk di pandang?" Tanya Berlian sambil menepuk pelan pundak Ares.


"Kau seperti tidak tahu sifat para bangsa di atas awan ini saja Berlian." Jawab Ares yang malah tidak menseriusi pertanyaan Berlian.


Berlian pun akhir nya hanya bisa tersenyum.


"Ya, mari.."


Ares dan Berlian pun mengangkat semua barang- barang bawaan mereka dan teman- teman mereka yang mereka bawa tadi ke dalam tenda yang telah di persiapkan untuk Ares.






Setelah semua para pria dari keluarga kerajaan dan bangsawan tiba, semua pria pun di kumpulkan untuk pembagian wilayah berburu.

__ADS_1


Pembagian wilayah berburu ini di bagi berdasarkan kelas para bangsawan. Semakin tinggi kelas strata nya maka mereka akan mendapatkan wilayah yang banyak hewan buruan nya sehingga mereka tidak perlu bersusah payah untuk masuk sangat dalam ke dalam hutan belantara itu..


Sementara para wanita - wanita bangsawan akan duduk sambil berpesta menunggu para pria kembali.


Di antara para wanita bangsawan terlihat putri Adeline Margaret, putri bungsu sang Raja. Sang putri terlihat tidak bersemangat mengikuti festival berburu ini.


"Bibi?? Apa bibi baik - baik saja?" Tanya Monica pada Adelina Margaret yang merupakan sepupu ayah nya.


Ya, ayah Monica~ pangeran ke - tiga adalah sepupu putri Adelina. Ayah Putri Adelina yang merupakan raja saat ini adalah kakak tertua dari ayah pangeran ke tiga. Itu lah mengapa Monica yang merupakan putri pangeran ke tiga memanggil Adelina dengan sebutan bibi.


"Bibi tidak kenapa- kenapa sayang. Bibi hanya rindu dengan anak- anak bibi. Andaikan bibi bisa membawa anak- anak bibi ke istana, pasti hidup bibi akan kembali bahagia." Jawab nya dengan wajah sendu dan senyum yang di paksakan.


"Aku kan ada bi. Usia putri bibi juga hampir seumuran dengan ku kan?" Ujar Monica manja.


"Ya, dia hampir seumuran dengan mu Monica. Andaikan Ei ada di sini..." Pandangan Adelina pun melayang jauh. Entah karena dia terlalu rindu dengan putri nya atau apa, selayang dia seolah melihat putri nya di tengah- tengah para pria yang sedang berjalan memasuki hutan untuk memulai perburuan mereka.


"Ei~?" seru nya dalam hati, antara percaya dan tidak...


"Kenapa bi?? Bibi melihat apa??" Monica yang heran melihat cara bibi nya menatap ke arah rombongan para pria yang berjalan ke arah dalam hutan untuk berburu tentu saja jadi bertanya-tanya. Karena memang tidak biasa nya sang bibi seperti itu.


"Tidak.. Tidak kenapa- kenapa Monica. Aku hanya merasa~" Adelina tersenyum pahit dan menggelengkan kepala nya. Tidak mungkin putri nya ada di dalam rombongan para pria itu.


"Ayo kita ke sana.." Ajak nya pada Monica untuk mengalihkan perhatian diri nya dari halusinasi nya barusan. Adelina sadar apa yang di lihat nya itu pasti lah sebuah halusinasi. Halusinasi yang muncul karena rasa bersalah na telah meninggalkan suami dan anak - anak nya. Sebuah penyesalan yang sampai kini masih terus menghantuii nya meski dia telah berusaha untuk mencari keberadaan keluarga nya kembali yang bahkan sampai saat ini tidak ia temui.


Kala itu Adelina terpaksa meninggalkan keluarga kecil nya karena ia muak tiap hari selalu saja bertengkar dengan suami nya karena perbedaan status mereka yang mereka begitu jauh. Suami nya kerap mengungkit kehidupan Adelina sebagai seorang putri yang tidak akan terbiasa hidup miskin dan melarat bersama nya. Sedang kan Adelina yang setiap hari di pojokan oleh suami nya seperti itu padahal diri nya telah bersusah payah semampu nya untuk bertahan di samping suami dan anak- anak nya merasa pengorbanan dan perjuangan nya tidak dianggap. Hingga akhirnya Adelina memutuskan untuk kembali ke kehidupan nya semula sebagai putri raja. Namun tentu saja harus ada harga yang di bayar agar ia dapat kembali menapakkan kaki nya ke istana. Dan percaya lah harga itu sangat lah mahal, karena Adelina membayar nya dengan harus meninggalkan keluarga kecil nya.


Hari itu, hari ke lima belas bulan Desember tahun 1932, sebuah mobil Rolls Royce datang menjemput Adelina ke gubuk kecil nya, tepat beberapa hari setelah Adelina melahirkan putra bungsu nya.


Adelina sebenarnya berat meninggalkan anak- anak nya, namun sikap suami nya yang tidak juga mengerti akan diri nya dan semua pengorbanan nya membuat hati Adelina yang terus bersedih menjadi dingin membeku hingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga kecil nya.


Dan semenjak saat itu, hari- hari Adelina di istana pun tidak pernah berwarna. Semua nya terasa suram saat ia jauh dari anak - anak nya. Itu lah penyesalan terbesar dalam hidup Adelina. Andaikan dia mampu untuk terus bersabar dan berjuang dalam rumah tangga nya mungkin hari ini dia masih berkumpul dengan suami dan anak - anak nya.

__ADS_1


__ADS_2