Wanita Tuan Muda Ares

Wanita Tuan Muda Ares
Basah


__ADS_3

"Baiklah. Dengarkan penjelasan ku baik- baik karena setelah aku menjelaskan semua nya pada mu aku tidak akan membuka sesi tanya jawab. PAHAM?!" tegas nya.


"Hmm aku paham. Cepat jelaskan pada ku!"


"Coba kau perhatikan hutan ini. Pohon- pohon nya sangat rapat. Lalu ada banyak sekali tanaman rambat di sini sehingga akan mudah terbakar andaikan kau berhasil menghidupkan api. Tapi anggap lah kita abaikan semua tanaman rambat dan pohon yang saling berdekatan ini. Permasalahan yang lain nya adalah kau tidak akan bisa menghidupkan api disini. Dan kau tahu kenapa?"  Ares mengambil tangan Aphrodite lalu membawa Aphrodite berjalan mendekat ke salah satu pohon. Ares menempelkan tangan Aphrodite di batang pohon itu dan menekan tangan Aphrodite dengan tangan nya.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Ares pada Aphrodite.


"Basah." jawab Aphrodite sambil berusaha menutupi wajahnya yang memerah karena tangan nya di pengang sangat erat oleh Ares. Degup jantung nya pun sudah dia intruksi kan untuk tidak menabuh gendrang perang di dalam sana. Karena jujur, dengan jarak sedekat ini dimana Aphrodite saja bisa merasakan deru nafas nya Ares dan di tambah lagi tangan nya yang dipegang erat oleh Ares, kalau dia tidak meleyot maka diri nya lah yang tidak normal sebagai seorang wanita.


"Ayo Aphrodite!! sadar! sadar!! masa kau jatuh cinta pada seorang ho*mo?" teriak Aphrodite kecil pakai TOA di otak Aphrodite yang sedang terhipnotis oleh pesona seorang ARESTO.


"Aphrodite!! sadaaaar!" teriak Aphrodite kecil lebih kencang.


"Aphrodite!! Dia ho*mo!!" teriak Aphrodite kecil sekali lagi dan baru lah setelah itu Aphrodite tersadar kemudian langsung melepaskan tangan Ares.


"Aku paham sekarang. Hutan ini basah jadi tidak mungkin bagi kita menyala kan api disini." Jawab Aphrodite lalu ingin melepaskan tangan nya dari Ares.

__ADS_1


Tapi aneh nya Ares malah menahan tangan Aphrodite dan mendorong tubuh Aphrodite ke pohon besar tadi.


"Apa yang kau lakukan?" Seru Aphrodite kaget. Dan dia semakin kaget saat Ares semakin mendekat dan mendekat... lalu........


"Diam lah Noel! Diam." Sebut Ares pelan dan menatap lurus ke dalam mata  Aphrodite.


"Kau jangan gila Ares! Apa yang ingin kau lakukan!!!!" Teriak  Aphrodite pada Ares, tetap diam seperti yang Ares instruksi kan..


Tapi Ares tidak menjawabnya dan terus bergerak mendekat dan mendekat hingga wajah mereka berdua saat ini benar- benar sangat dekat.


Deg...


Deg...


Deg...


Deg...

__ADS_1


Jantung  Aphrodite rasa nya ingin melompat keluar saat wajah Ares benar- benar tanpa batasan dengan wajah nya. Dia tidak menghiraukan  Aphrodite kecil yang mewarning nya sedari tadi dari dalam sana. Dalam pikiran  Aphrodite terserah lah Ares ini mau ho*mo atau bukan, kalau Ares mencium nya maka pasti akan dia balas sepenuh hati nya. Kesadaran  Aphrodite benar benar sudah menguap karena pesona seorang Aresto.


Dengan mata yang terpejam  Aphrodite menunggu step paling best dari semua hal menegang kan tadi. Tapi setelah menunggu beberapa lama dia tidak merasakan apa pun selain jari Ares yang mengusap lembut ujung bawah mata nya.


"Oo.. daun. Aku kira ada lintah di sudut mata mu. " Ucap nya sambil mengusap lembut ujung bawah mata  Aphrodite yang sedang terpejam itu.


Setelah itu dia melepaskan pegangan nya dari pinggang mungil Aphrodite yang entah sejak kapan berada di sana.


Tenggorokan Aphrodite tercegat. Dia benar- benar merasa telah di bodohi oleh nafsu nya sendiri. Bisa- bisa nya dia memasrahkan diri untuk di cium oleh seorang laki- laki homosapien? "Aakhh!" teriak Aphrodite kesal dalam hati. Sedangkan Ares, dia tersenyum bahagia setelah melihat reaksi Aphrodite tadi. Ares semakin yakin diri nya normal. Yang tidak normal adalah pria yang bernama Noel itu. Yang entah benar- benar pria atau bukan. Namun dalam keyakinan Ares, sudah pasti Noel bukan lah seorang pria. Mana ada pria yang memiliki kulit sehalus wanita, lekuk tubuh yang sangat indah lalu lingkar pinggang yang sangat kecil. Terlebih lagi bibir yang sangat tipis menggoda. serta bulu mata yang lentik.


Hanya satu hal saja yang Ares sesali, mengapa dia tidak menyadari hal ini lebih awal. Padahal sudah banyak pertanda yang datang pada nya. Tapi ini juga tidak terlalu terlambat. Paling tidak kini dia tahu harus seperti apa dia memperlakukan pria jadi- jadian itu.


Kedua nya pun terus berjalan dan berjalan, hinggaa...


...........


Nah ! Apa lagi ini!! Can.. ayo can.. kita mendekat. Kak Sulit melihat kalau dari jarak segiii Can.... aaoooooooooooommm....

__ADS_1


__ADS_2