
"Berhati-hatilah di sana. Jangan membantah perintah suamimu, jangan pula merepotkannya ... yang paling penting, jangan pernah mencoba kabur dari rumah lagi! Berlakulah seperti layaknya seorang istri!"
Gwen lagi-lagi mencibir. Bagaimana tidak, ini sudah ketiga belas kalinya sang ayah memberi nasihat yang sama sejak kemarin. Alih-alih mengkhawatirkan keadaan dirinya, pria itu justru mengkhawatirkan Maxim, sang menantu kesayangan yang selalu terlihat sempurna di mata beliau.
"Maaf, Ayah harus merepotkan dirimu, Max" ucap Abraham pada sang menantu.
"Sudah tugasku, Ayah," jawab Maxim kalem. Pembawaannya yang tenang malah membuat Gwen semakin kesal.
Cih! Dasar menantu tukang cari muka! Batinnya.
Mobil antik milik Maxim pun perlahan bergerak meninggalkan kediaman megah keluarga Holtzman.
Ronny datang begitu mobil Maxim dan Gwen sudah menghilang dari pandangannya.
"Kau terlambat, Ron," ujar Abraham.
"Kami sudah saling berpamitan kemarin."Jawab Ronny. Keduanya pun terdiam sesaat, sebelum Ronny kembali membuka suaranya. "Haruskah saya menyuruh seseorang untuk mengawasi rumah mereka juga, Tuan?" tanya pria itu dengan nada datar.
Abraham melipat kedua tangannya, lalu menghela napas. "Tidak perlu. Kita percayakan saja semua padanya. Kau juga percaya padanya bukan? Mengingat kalian pernah menjadi bekerja sama di masa lalu."
" ... Ya, aku percaya padanya."
...**********...
Mobil antik milik Maxim tiba di rumah sore harinya. Mereka terlambat pulang dua jam dari waktu yang seharusnya, karena Gwen meminta Maxim berbelanja peralatan kebersihan terlebih dahulu.
Atas persetujuan kedua belah pihak, Gwen akhirnya diperbolehkan untuk membeli beberapa peralatan canggih demi menunjang kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Seperti alat pel yang memiliki pemeras sendiri, vacuum cleaner, dan mesin cuci baru satu tabung.
Tadinya Gwen juga merengek ingin dibelikan mesin pencuci piring. Namun, Maxim menolak keras. Sebab, selain harganya yang sangat mahal, dia juga merasa pembelajarannya pada Gwen selama ini akan sia-sia.
Gwen pun mengalah. Belajar mencuci piring saja masih bisa dia lakukan, asal pekerjaan yang lain mudah. Sementara untuk menyetrika, Maxim masih mau berbagi tugas.
__ADS_1
"Hmm, akhirnya aku kembali ke rumah ini lagi," ucap Gwen lesu. Gadis itu meletakkan tasnya di dalam lemari dan mulai membersihkan diri.
Selagi menunggu Gwen mandi, Maxim menata barang-barang bawaan mereka, lalu mencoba peralatan kebersihan yang baru dibeli.
Setengah jam kemudian, Gwen keluar dari kamar mandi. Wajahnya tak lagi sekusut sebelumnya. Namun, langkah gadis itu terhenti, tatkala melihat Maxim dengan lihai menggunakan vacuum cleaner yang baru dia beli.
"Kau bisa menggunakannya? Bukankah kau bilang, kau tak pernah berkutat dengan barang-barang seperti itu?" ujar Gwen. Matanya memicing menatap Maxim.
Maxim mematikan alatnya. "Kau pikir, aku sebodoh itu! Buku panduan jelas-jelas ada di dalamnya." Seolah tidak terima, Maxim pun berkata ketus.
Hal tersebut malah membuat Gwen kesal. "Cih! Aku, kan, hanya bertanya. Sana cepat mandi dan buatkan aku makanan!" titah gadis itu tak sopan.
"Kau yang mencuci piring!" tegas Maxim.
"Ya, ya!"
Tak butuh waktu lama bagi Maxim untuk mandi. Kini, pria itu dengan cekatan memasak makan malam untuk mereka berdua. Kebetulan, Abraham membawakan banyak stok makanan beku berkualitas tinggi. Gwen lah yang merengek pada sang ayah. Dia berdalih tidak bisa mencerna semua makanan-makanan yang ada di sana.
Saat sedang menunggu di kamar, Gwen yang khawatir akhirnya memilih mengintip cara masak Maxim di dapur.
Terang saja, meski Gwen tidak bisa memasak, tetapi dia tahu bagaimana cara mengolah daging-daging mahal tersebut, agar kualitas rasanya tidak berubah. Namun, apa yang dilihatnya lagi-lagi membuat gadis itu terkejut.
Pasalnya, Maxim jelas-jelas mengetahui cara memotong daging dengan benar. Dia bahkan dengan lihai mengolah bumbu yang ada tanpa takaran, padahal pria itu pernah berkata, bahwa dia hanya pernah sekali memakan makanan mahal tersebut.
"Aku baru saja melihat video tutorial memasak di sosial media dan mencobanya. Kuharap, masakanku berhasil."
Gwen tersentak. Alih-alih memergoki pria itu, dia malah terpergok duluan.
Mendengar penjelasan Maxim, Gwen tentu saja tidak percaya. Sambil bertolak pinggang, Gwen berusaha mengintimidasi sang suami.
Maxim yang semula bersikap tidak peduli, lama merasa risih juga. "Oke, baiklah, kau menang!" kata pria itu tiba-tiba. "Aku memang berbohong soal yang satu ini. Sebenarnya, aku pernah bekerja di salah satu restoran mewah setelah lulus sekolah. Tidak lama, hanya dua tahun. Dari sana lah aku tahu sedikit soal makanan-makanan mewah dan cara pengolahannya."
__ADS_1
Gwen tertawa, seolah senang dapat memergoki satu hal buruk di diri Maxim. Dia mencatatnya baik-baik dalam hati untuk diceritakan pada sang ayah nanti.
"Untuk apa juga kau harus berbohong?" tanya Gwen kemudian.
Maxim mengangkat bahu. "Hal alami yang dilakukan manusia, dalam keadaan tertentu, bukan?" Hanya itu jawaban yang diberikan Maxim, sebelum pria itu menyuruh Gwen untuk duduk di meja ruang televisi dan menunggu di sana.
Mata Gwen sontak berbinar-binar, kala Maxim meletakkan daging-daging mahal yang sudah matang itu di atas meja. Inilah makan malam mewah pertama bagi Gwen di sana.
"Terima kasih, Tuhan, atas pemberianmu yang luar biasa. Selamat makan!" Tanpa menunggu lama, Gwen pun mulai sibuk berkutat dengan daging bagiannya.
Maxim diam-diam memerhatikan Gwen. Seulas senyum tipis terpatri di wajah pria itu.
...**********...
Gwen termangu di tempat. Wajahnya menatap tak yakin sosok sang suami. "Kau sudah pandai membohongi diriku. Jadi, kau pasti sudah berencana mengulangi hal tersebut, kan?" kata gadis itu curiga.
Maxim berdecak kesal. "Aku tidak bohong! Sudah, ayo, cepat! Kau membuang-buang waktuku!" serunya kesal.
Sejak bangun tidur tadi, pasangan suami istri itu memang sudah berdebat sengit. Gwen mempersoalkan ajakan Maxim untuk ikut dengannya ke toko hari ini. Itu berarti, Gwen harus rela menginjakkan kakinya di pasar tradisional.
Hal pertama yang Gwen bayangkan dari pasar tradisional adalah kotor. Belum lagi bau-bau amis dari ikan mau pun ayam. Namun, Maxim meyakinkan Gwen, bahwa tak ada hal yang seperti itu di sana. Sebab, pasar tradisional mereka memang terbagi menjadi dua.
"Pasar yang seperti itu hanya ada di dekat dermaga. Sementara tidak dengan di sini. Kami hanya menjual hasil perkebunan saja. Memangnya kau pernah melihat sepatu dan sandalku kotor?" ujar Maxim.
Benar juga! Batin Gwen.
Demi menghilangkan kebosanan di rumah, Gwen akhirnya menyetujui ajakan Maxim untuk ikut ke pasar. Hitung-hitung melihat seperti apa bentuk toko buah yang dimiliki Maxim di sana.
"Awas saja kalau kau berbohong!" ancam Gwen.
"Ck, cepat ganti pakaianmu!" titah Maxim.
__ADS_1
"Iya, iya! Cerewet sekali, sih, jadi laki-laki!" seru Gwen ketus, sembari berlalu menuju kamar.