
Maxim hanya bisa berdiri termangu di ambang pintu rumah, tatkala mendapati sosok sang ibu berada di sana. Wanita itu bahkan terlihat tengah asyik mengobrol dengan Gwen.
Melihat kedatangan Maxim, Calia buru menghapus jejak air matanya. Dia pun mengedipkan sebelah mata ke arah Gwen, seolah tengah memberikan isyarat.
Gwen pun bangkit dan pergi menuju kamar mandi.
Maxim mengerutkan kening sembari terus memandangi kepergian Gwen.
Pelukan hangat segera diberikan Calia untuk putra bungsunya itu. "Apa kabar, Sayang?" tanya Calia.
"Aku baik Ma. Mengapa Mama tak bilang padaku kalau akan akan berkunjung ke sini?" Tanpa basa-basi, Maxim balik bertanya.
"Memangnya kenapa?" Calia tiba-tiba memicing curiga pada Maxim. "Kau mau menyuruh Mama untuk tidak mengatakan apa-apa padanya, kan?"
Maxim melipat kedua bibirnya. "Bukan begitu Ma. Aku hanya ...."
Calia menepuk-nepuk lengan sang putra penuh sayang. "Jangan sembunyikan apa pun darinya. Jangan menuruti permintaan ayah mertuamu untuk tidak menceritakan apa pun. Merubah Gwen tak perlu dilandasi dengan kebohongan, Nak," ujar sang ibu.
Maxim menghela napasnya. "Aku tidak membohongi Gwen. Aku hanya tak ingin membahas apa pun. Tak penting membicarakan apa pun soal hidupku." Pria itu mencoba berkilah.
"Tentu saja penting, Bodoh! Kau suaminya. Kalian tak mungkin terus bersama seperti itu."
Mendengar perkataan sang ibu, Maxim refleks tertawa. Namun, sorot matanya berubah sendu.
Calia tentu saja keheranan mendapati raut aneh sang putra. "Kalian tidak berniat untuk ...."
Gwen tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat jauh lebih segar kali ini. Tak ada lagi jejak-jejak air mata di wajah cantiknya.
"Tak biasanya pulang cepat?" tanya Gwen ramah.
"Ya. Josh tadi datang ke toko dan memberitahuku soal kedatangan seseorang di rumah." Jawab Maxim. Interaksi keduanya terlihat sedikit canggung dan hal itu ternyata disadari oleh Calia.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Calia penasaran.
"Maksud Mama? Kami baik dan sehat. Benarkan?" Maxim mengalihkan pandangannya pada Gwen, meminta persetujuan.
__ADS_1
Gwen dengan cepat menganggukkan kepala. Gadis itu kemudian menawarkan Maxim untuk makan terlebih dahulu, demi menghilangkan kecurigaan sang ibu mertua.
...**********...
"Mama yakin tak ingin menginap di sini saja? Biar besok aku yang mengantar pulang." Lagi-lagi Maxim mengatakan hal demikian.
Calia kembali menggeleng. Awalnya wanita itu memang berniat menginap. Namun, setelah mendapati atmosfer di antara anak dan menantunya masih terasa sangat kaku, Calia lantas mengurungkan niat tersebut.
Wanita itu merasa waktunya kurang tepat.
"Nanti Mama akan datang lagi ke sini. Kalian jaga diri ya? Max, kau harus menjaga istrimu dengan baik!" pesan Calia.
Maxim menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian, sebuah mobil Jeep militer berhenti tepat di depan rumah. John turun dari mobil bersama satu orang bawahannya. Maxim memang meminta tolong padanya untuk mengantar sang ibu pulang.
"Ma'am!" John berdiri tegak dan memberi hormat pada Calia.
Calia memeluk singkat John. "Sudah lama tidak bertemu, John. Bagaimana kabarmu?" tanyanya ramah.
John membalas pelukan Calia. "Saya baik. Bagaimana dengan Anda?"
Calia tersenyum. "Sama baiknya denganmu. Maaf jadi merepotkanmu, padahal aku bisa pulang sendiri."
Gwen yang sedang berdiri di sebelah Maxim, tak lagi merasa heran mendapati seorang letnan kolonel mau-mau saja diperintah warga sipil seperti Maxim. Sebab, keduanya merupakan teman baik semasa Maxim aktif di militer.
Ya, daerah perbatasan yang dimaksud sang ibu adalah kota kecil ini. Maka tak heran Maxim begitu dihormati sekaligus ditakuti di sini. Sebab selain berjasa menjaga perdamaian beberapa tahun silam, pria itu juga turut membangun berbagai sarana dan prasarana dengan menggelontorkan dana pribadi demi memajukan kota kecil tersebut.
Tak hanya itu saja, sang ayah mertua juga ternyata merupakan seorang pensiunan Jenderal terbaik.
Andai saja sang ibu mertua tidak bercerita, mungkin dia tak akan pernah tahu fakta-fakta tersebut.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang Ma'am?" tanya John.
Calia mengangguk. Dia pun lantas memeluk Gwen dan memberikan gadis itu beberapa petuah singkat. Tak lupa, Calia juga meminta Gwen untuk menghubungi dirinya jika butuh sesuatu.
"Tak perlu khawatir Ma. Mama hati-hati di jalan," pesan Gwen.
__ADS_1
Calia kemudian beralih pada Maxim dan melakukan hal yang sama.
"Kami berangkat dulu," pamit John.
"Terima kasih banyak, bro," ucap Maxim.
"Tidak masalah."
Keduanya masih tetap berada di sana, walau mobil Jeep yang membawa Calia telah menghilang dari pandangan. Sampai akhirnya, Gwen lah yang lebih dulu bergerak masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, kecanggungan kembali terasa di antara mereka berdua. Tak ada satu pun yang berbicara, sampai akhirnya Maxim memberanikan diri membuka suaranya lebih dulu.
"Kuharap, kau tidak pernah berpikiran buruk tentangku. Aku hanya tak ingin membahas apa pun," kata Maxim.
Gwen terdiam sejenak. "Jadi, meski ibumu sudah menceritakannya, kau tetap tak akan membahas hal semua itu?" tanyanya.
"Beliau sudah menceritakan semuanya kan?" Maxim mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Tidak dengan satu hal." Jawab Gwen.
"Apa?" tanya pria itu.
Gwen terdiam sejenak, sebelum kemudian berjalan mendekati Maxim. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu tiba-tiba langsung memegang tangan kiri Maxim dan merrabbanya sebentar.
Klik!
Maxim sontak membelalakkan matanya, tatkala mendapati tangan kiri bionik yang digunakannya terlepas.
Tangan kiri Maxim saat ini merupakan tangan bionik. Yaitu alat prostetis yang memiliki kemampuan robotik. Sang pemilik hanya perlu menggerakkan otot-ototnya saja untuk memberi perintah. Sensor canggih yang terpasang di dalam tangan palsu tersebut otomatis akan membaca gerakan otot sang pemilik.
Maxim buru-buru menyembunyikan tangan kirinya. Namun, Gwen dengan cepat menarik tangan tersebut.
Bukannya merasa jijik, Gwen malah menatap tangan tersebut dengan pandangan nanar.
"Tak perlu mengasihaniku. Lebih baik kau menghinaku seperti biasanya. Aku tahu bagaimana kecewanya dirimu, karena telah menikahi seorang pria tuna daksa?" ujar Maxim dingin.
__ADS_1
Gwen mendengkus. Alih-alih membalas perkataan Maxim, Gwen malah memeluk dan merebahkan kepala sang suami di pundaknya.
"Aku memang mengasihani dirimu," bisiknya lirih.