
"Tidak apa-apa, aku mengerti ini demi kebaikan anak-anak kita. Terima kasih telah memikirkan Gwen, Paul," ucap Abraham melalui sambungan telepon.
Pria itu rupanya tengah menelepon Paul, besannya sekaligus teman lamanya. Setelah mengatakan demikian, Abraham pun menutup teleponnya.
Saat Abraham berbalik, dia dikejutkan oleh keberadaan Gwen yang kini menatap dirinya curiga.
"Apa yang Ayah maksud dengan 'kebaikan anak-anak kita'?" Tanpa basa-basi, Gwen langsung menanyakan sepenggal kalimat yang sempat didengarnya tadi.
Abraham bergerak gelisah. "Hanya pembicaraan dengan kolega Ayah, Nak," jawabnya berkilah.
"Aku jelas-jelas mendengar nama papa mertuaku, dari mulut Ayah! Katakan, apa yang sudah kalian sembunyikan dariku!" seru Gwen dingin.
Abraham terdiam. Dia hendak berkilah lagi, tetapi Gwen buru-buru membentaknya. Gadis itu bahkan sudah menangis meraung-raung sambil memohon untuk mengatakan yang sebenarnya.
Tak tega mendapati anak semata wayangnya seperti itu, Abraham pun buka suara.
...**********...
"Maxim ditemukan setelah satu bulan menghilang. Dia ternyata diselamatkan oleh seorang pemilik kapal sewaan saat terombang-ambing di laut selama hampir satu minggu."
"Kondisinya cukup buruk. Maxim sempat koma selama hampir tiga bulan sebelum akhirnya sadar. Namun, dia kehilangan ingatannya."
"Itulah mengapa, Ayah dan papa mertuamu memutuskan untuk memisahkan kalian berdua, Gwen. Ini semua kami lakukan untuk kebaikan bersama, terutama kebaikan dirimu."
Air mata Gwen kembali mengalir, setiap mengingat kata demi kata yang terlontar dari mulut sang ayah.
Perssetan dengan kebaikan. Tak ada kebaikan yang tercipta dari keputusan egois mereka. Setelah memaksa menjodohkannya dengan Maxim, kini kedua orang tua kolot itu juga mengambil keputusan seenaknya untuk memisahkan dirinya dengan Maxim.
Gwen tentu saja marah. Seorang diri dia pergi menuju Keysersberg untuk menemui Maxim. Tak peduli bila Maxim akan menolaknya, dia akan tetap menemui pria itu.
Jantung Gwen berdegup kencang, saat mobil taksi yang ditumpanginya memasuki pekarangan rumah keluarga Eginhard. Rupanya kdetangan Gwen sudah diketahui oleh Paul dan Calia.
Begitu turun dari taksi, Calia dan Paul langsung menyambut sang menantu dengan pelukan hangat. Mereka meminta maaf karena telah mengambil keputusan tersebut tanpa memikirkan perasaannya.
"Maafkan Papa dan Mama, Nak. Kami bahkan hanya sekali menjengukmu," ucap Calia penuh penyesalan. Paul pun turut meminta maaf pada Gwen.
Gwen membalas pelukan sang ibu mertua. "Tidak perlu meminta maaf, Ma, Pa. Aku lah yang menyebabkan Max seperti itu," isaknya.
__ADS_1
Calia menggelengkan kepala. Tanpa disadari ketiganya, seseorang tiba-tiba datang menginterupsi.
Gwen terkejut mendapati Maxim berdiri di sana. Selain kumis dan janggut tipis yang tumbuh, penampilannya terlihat sama seperti dulu.
"Max," panggil Gwen.
Maxim terdiam sambil menelisik wajah Gwen. "Apa Anda seseorang yang seharusnya saya kenal juga? Maaf, bila saya tidak bisa mengenali Anda," ucapnya kemudian.
Mendengar perkataan Maxim, Gwen refleks menoleh ke arah Calia.
"Maxim juga sempat melupakan kami," ujar Calia pelan.
"Lebih baik kita masuk dulu." Paul membuka suara. Pria tua itu mengajak ketiganya untuk masuk ke dalam rumah.
Ketika tiba di dalam, Gwen sama sekali tidak menemukan foto pernikahannya yang dulu teroajang di sebelah foto keluarga Eginhard. Ternyata, sang ayah lah yang meminta Paul untuk menurunkan foto tersebut.
Keempatnya sempat berbincang selama beberapa saat soal kondisi Maxim. Baik keluarga Eginhard, mau pun keluarganya sepakat mengatakan pada Maxim, bahwa dia jatuh ke laut saat sedang berlayar bersama Paul dan Calia.
Sementara itu, Gwen memperkenalkan dirinya sebagai anak dari kawan lama Paul.
"Uncle Abraham tidak pernah bercerita soal keluarganya, jadi aku sama sekali tidak mengenalimu. Maaf," ujar Maxim saat keduanya tiba di balkon lantai dua. Paul dan Calia memang sengaja meninggalkan mereka berdua.
"Omong-omong, sedekat apa kita dulu?" tanya Maxim.
Gwen terdiam sejenak, sebelum kemudian tersenyum simpul. "Aku tak tahu bagaimana menjabarkannya, yang jelas hubungan kita sangat dekat."
Maxim mengangkat alisnya. "Oh ya? Tak kusangka, aku memiliki teman lawan jenis. Setelah melihat wajahmu, mungkin nanti aku bisa mengingatnya."
Gwen mengangguk.
"Well, hanya saja membutuhkan waktu, tapi mungkin kau bisa memukulku. Siapa tahu dengan begitu, aku bisa langsung mengingatmu."
Gwen tertawa kecil. Mata tak lepas memandangi wajah Maxim yang kini tengah sibuk menatap halaman rumahnya.
"Max, selama kau hilang ingatan, adakah sesuatu yang mengganjal pikiranmu?" tanya Gwen kemudian.
"Soal apa?"
__ADS_1
"Apa pun. Bisa kenangan-kenangan akan sesuatu atau pun seseorang."
Max terlihat berpikir, lalu menggelengkan kepala. "Sepertinya tidak ada. Namun, aku memang sempat bermimpi aneh," katanya.
"Mimpi apa?" tanya Gwen penasaran.
"Entahlah. Dalam mimpi itu hanya ada sebuah rumah kecil yang ukurannya mungkin tak lebih besar dari rumah kaca milik ibuku."
Hati Gwen tergelitik. Mungkin saja itu adalah rumah kecil mereka. "Lalu, adakah hal lainnya?"
Maxim kembali menggeleng. "Tidak ada. Memangnya kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin bertanya saja." Tak ingin membebani pikiran Maxim, Gwen memutuskan untuk tidak mengorek lebih jauh. Sebab, biar bagaimana pun juga, mereka baru saja bertemu kembali.
Keduanya pun berbincang ringan soal kegiatan masing-masing, sampai tidak terasa makan malam pun tiba.
Setelah selesai makan malam, Gwen berniat pamit dan tidur di hotel. Dia tak ingin membuat Maxim berpikiran aneh, bila menginap di sana.
Paul dan Calia pun membebaskan keputusan Gwen.
Gwen pun meminta izin untuk menemui Maxim yang ternyata sedang sibuk membersihkan tangan bioniknya.
"Dari raut wajahmu, sepertinya kau mengetahui soal ini," kata Maxim merujuk pada tangan palsunya tersebut.
"Tentu saja." Jawab Gwen. "Sini kubantu," tawarnya.
Maxim membiarkan Gwen memasangkan tangan tersebut. Keningnya sempat mengerut, tatkala mengetahui Gwen tidak kesulitan memasangkan benda itu, padahal orang awam belum tentu bisa memasangnya.
"Apa kau sudah terbiasa membantuku?" tanya Maxim.
"Tidak juga." Jawab Gwen tanpa mengalihkan perhatiannya. Gadis itu lalu berseru senang setelah berhasil memasang tangan palsu Maxim.
Maxim tersenyum. "Seingatku, hanya kau satu-satunya orang luar yang tidak mengasihaniku setelah melihat ini. Mungkin karena ini bukan pertama kalinya bagimu, kan?"
Meski tersentil dengan sebutan 'orang luar', Gwen tetap tersenyum. "Jangan salah kaprah, aku memang mengasihanimu, kok!"
Maxim mematung seketika. Bukan karena sakit hati, melainkan seperti pernah mendengar perkataan serupa entah dimana.
__ADS_1
Gwen yang tidak menyadari raut wajah Maxim pun pergi setelah berpamitan padanya.
Maxim sama sekali tidak beranjak dari sana, dan hanya memandangi punggu gadis itu.