
Dua bulan kemudian.
Setelah pertemuannya dengan Maxim, hidup Gwen berubah. Dia tak lagi menjadi gadis pendiam, tetapi tak juga kembali seperti dulu. Gwen memantapkan diri meninggalkan kebiasaan buruknya.
Hidup Gwen kini jauh lebih baik dan lebih tertata. Dia bahkan menerima tawaran Abraham untuk memulai bekerja di kantor.
Abraham tentu saja senang akan keputusan Gwen. Dia tak perlu lagi mencemaskan nasib gadis itu, bila suatu saat harus pergi meninggalkannya.
Keseriusan Gwen semakin terlihat, saat dengan tekun belajar soal bisnis di bawah naungan Ronny, orang kepercayaan yang sudah dianggap keluarga.
Anggapan miring yang sempat tersemat di dirinya dari para pemegang saham, langsung terbantahkan dengan kinerja Gwen. Walau masih membutuhkan banyak bimbingan, tetapi Gwen mampu mengemban tugasnya dengan baik.
Tak hanya itu saja, Gwen bahkan sukses memimpin rapat kecil yang diadakan di kantor. Langkahnya patut diapresiasi.
"Selamat, Nona Gwen," ucap Ronny tulis. Sebagai guru sudah pasti dia bangga akan pencapaian Gwen selama satu bulan terakhir ini.
"Bagaimana menurutmu? Apa ada yang harus aku perbaiki?" tanya Gwen.
"Untuk saat ini tidak ada. Anda sempurna."
Mendengar pujian tersebut, Gwen tersenyum sumringah. "Kalau begitu, kau harus meneraktirku makan, Ron," ujar Gwen.
Ronny mengerutkan kening. "Bukankah, seharusnya Anda yang meneraktir saya, karena sudah mengajarkan Anda selama ini?" katanya.
"Ck, zaman sekarang tidak begitu cara kerjanya!" kelakar Gwen.
Ronny mengembuskan napas. "Oke. Namun, alih-alih makan di luar, bagaimana kalau kita makan di rumah saja. Biar saya yang memasak?" tawar pria itu.
"Dengan senang hati!" Bak gadis remaja, tanpa malu Gwen langsung menggandeng tangan Roony, yang kini terlihat canggung.
Keduanya pun bergegas pergi dari kantor untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
...**********...
"Jadi, apa yang akan kau masak untuk makan malam?" tanya Gwen, ketika mobil mereka hampir sampai di rumah.
"Yang mudah saja. Anda akan memakan apa pun masakan saya, meski itu hanya kentang rebus dengan taburan garam, kan?"
Mendengar itu, Gwen sontak tertawa. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa mobilnya kini telah sampai di halaman rumah.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya, aku ingin makanan mewah ala restoran bintang lima!" tegas Gwen, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.
Saat itulah matanya tiba-tiba menangkap benda yang tidak asing terparkir di depan pintu rumahnya, persis menghalangi jalan.
Jantung Gwen seketika berdegup keras. Pasalnya, benda tersebut adalah mobil antik milik Maxim.
Gwen refleks menoleh ke arah Ronny. "Ron, apa kau juga melihatnya?" tanya gadis itu, guna memastikan bahwa dia sedang tidak berhalusinasi.
Ronny tampak tersenyum tipis.
Tanpa menunggu lama, Gwen bergegas ke luar dari mobil dan langsung berlari tergopoh-gopoh ke dalam rumahnya.
Seperti dejavu, di sana, di sofa ruang tamu, dia bisa melihat dengan jelas sosok Maxim dengan pakaian biasa. Pria itu tampak asyik berbincang dengan sang ayah sambil menikmati secangkir teh.
"Sayang, kau sudah pulang?" Abraham lah yang pertama kali menyapa Gwen.
Gwen sama sekali tidak menjawab. Dia hanya menatap sosok Maxim yang kini berdiri menghadapnya.
Gwen menelisik Maxim dari atas sampai bawah dengan saksama, lalu terhenti pada dua buah cincin emas putih yang tersemat di jari manis dan kelingking pria itu.
Sekujur tubuh Gwen merinding. Alih-alih terkejut, dia malah mematung seolah sedang menatap hantu.
Melihat Gwen yang tak juga bergerak, Maxim pun memutuskan menghampiri gadis itu. Di saat yang bersamaan, Abraham diam-diam meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Kau ... datang?" tanya Gwen. Gadis itu berusaha menahan diri untuk tidak menerjang Maxim.
Dari penampilannya, Maxim mungkin sudah mendapatkan kembali sebagian besar ingatannya. Namun, bagaimana dengan ingatan mereka? Gwen tidak berani berspekulasi, walau dua cincin itu tersemat di jari-jari Maxim.
"Ya. Ada sesuatu yang harus kukembalikan," jawabnya.
"Apa?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Gwen, Maxim malah melepaskan satu cincin di jari kelingkingnya, lalu mengambil tangan Gwen.
"Maafkan aku, karena telah membuatmu menunggu terlalu lama." Sambil memasangkan cincin tersebut di jari manis Gwen, Maxim pun membuka suaranya kembali.
Gwen terkejut bukan kepalang. "Kau ... mengingatku?"
"Semuanya." Maxim tersenyum. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku membutuhkan waktu untuk mengingat semua. Namun, berkat cincin yang kau berikan, waktu yang kubutuhkan tidak selama itu."
Mendengar hal tersebut, tangis Gwen pecah. Buru-buru Maxim membawanya ke dalam pelukan. "Sshh." Dia mencoba menenangkan Gwen.
Setelah merasa tenang Maxim melepas pelukannya dan menatap Gwrn sungguh-sungguh.
"Menikahlah lagi denganku, dan kita jalani rumah tangga yang sebenar-benarnya. Kau mau?"
Gwen tidak mampu berkata apa-apa selain anggukan sebagai jawaban. Kali ini dia bahkan tak ragu memeluk tubuh Maxim.
"Aku mencintaimu, Gwen Stefani Eginhard," ucap Maxim lembut.
"Aku juga mencintaimu, Maxim Eginhard," balas Gwen.
Perlahan Maxim melepaskan pelukan Gwen, dan mmenepis jarak di antara mereka.
Ini lah ciuman pertama yang mereka lakukan dengan benar dan penuh kesadaran.
__ADS_1
...TAMAT...