
Melihat kedatangan Maxim, Lehder pun melepaskan cekkikkaannya pada Gwen. Pria itu tertawa kembali. "Hahaha, tak kusangka kita bertemu kembali Mayor Eginhard, atau sekarang bisa kupanggil Maxim."
Maxim menatap Gwen. Hatinya panas mendapati kondisi sang istri.
"Lehder, kau seharusnya ikut dieksekkussi!" Maxim membuka suaranya dingin.
"Ck, ck, ck, sayang sekali tidak Max. Seperti yang kau tahu, hukkum terkadang bisa dibeli," ucapnya lantang dan percaya diri.
Maxim terlihat marah. Tanpa bicara apa-apa lagi, dia segera berlari menuju Lehder. Namun, belasan anak buah Lehder dengan cepat mengepung Maxim.
Sekilas ingatan Maxim kembali pada kejadian lima tahun silam. Saat itu dia juga harus menghadapi belasan atau bahkan puluhan orang sendirian. Sementara jasaadd sang kakak tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Maxim menatap Gwen sekali lagi. Meski kondisinya memperihatinkan, setidaknya kali ini dia melihat kedua mata sang istri terbuka.
Gwen berteriak, saat seorang pria hendak menghajarnya dengan balok kayu. Beruntung Maxim bisa menghindar dan memukul pria itu menggunakan helmnya. Maxim dengan cepat melumpuhkan satu persatu anak buah Lehder. Dia bahkan tak segan menemmbbak mereka.
Gwen yang ketakutan hanya bisa memejamkan matanya.
Mengetahui anak buahnya tumbang, Lehder tidak tinggal diam. Dia pun mengambil piistoolnya dan menodongkan sennapan tersebut ke arah Maxim, begitu pula sebaliknya dengan Maxim.
"Menyerahlah, maka aku akan mengampunimu," ucap Maxim.
Lehder mendecih. "Kau lah yang seharusnya menyerah. Kau tahu, ada tiga nyawa penting yang telah kau habisi dulu, sementara aku hanya akan menambah satu orang saja sekarang. Mungkin akan impas jika kau juga ikut kubunnuuh!"
Maxim tidak menjawab. Dia tetap berdiam diri sembari bersiaga.
Gwen yang sempat mengintip, kembali memejamkan matanya begitu melihat mereka saling menodongkan sennjatta.
"Kau hanya kehilangan tiga nyawa terpenting, sementara orang-orang di sini bahkan harus kehilangan seluruh keluarganya akibat ulah pemimpinmu!"
Lehder menatap bengis Maxim. "Itulah bayaran atas apa yang mereka perbuat di sini. Ini adalah tanahku, jadi, aku berhak melakukan apa pun di sini!"
__ADS_1
Mendengar itu Maxim tertawa. "Jangan membuatku tertawa dengan lelucon sampahmu. Lebih baik kau susul mereka dan ucapkan salamku pada pemimpin bajjingaanmu itu!"
Lehder naik pitam. Pria itu berteriak lalu menemmbbakkan senjjataanya ke arah Maxim, begitu pula sebaliknya.
Gwen yang masih menutup mata sontak terkejut mendengar dua letusan. Tubuh Gwen nyaris terkulai, jika saja tangan seseorang tidak memegangi pundaknya.
"Max!" seru Gwen, tatkala mendapati sosok sang suami baik-baik saja. Gwen lantas menoleh ke arah Lehder yang sudah tergeletak tak bernyawwaa. Rupanya peluru pria itu hanya menggores lengan Maxim.
Begitu Maxim selesai melepaskan seluruh ikatan Gwen, gadis itu langsung memeluknya erat dan menangis sekeras yang dia bisa.
"Sshh, sekarang kau aman," ucap Maxim lembut.
Gwen menganggukkan kepala dengan mata terpejam. "Aku ingin pulang," pintanya pada Maxim.
Maxim mengangguk. Baru saja dia melepaskan pelukannya, suara tembbakkan tiba-tiba terdengar dari belakang Maxim.
Gwen terbelalak saat mendapati Maxim terdiam, lalu jatuh ke pelukannya. Tangan Gwen sontak dipenuhi darrah ketika memegang punggung pria itu. Ternyata, Jack lah yang menemmbaakknya.
"Pe—pergi ... pergilah!" ujar Maxim.
Gwrn menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu! Kita akan pergi dari sini bersama!"
Maxim mengangkat tangannya lalu menghapus air mata Gwen yang bercucuran. "Pergilah," pintanya sekali lagi.
Gwen enggan menjawab. Dia hanya menangis meraung-raung, meminta Maxim untuk bertahan dan jangan tertidur.
Tiba-tiba lima orang asing masuk ke dalam bangunan tersebut dan langsung menarik tubuh Maxim.
Gwen berteriak keras. Gadis itu berusaha mengejar mereka yang membawa Maxim pergi menggunakan mobil jeep hitam. Namun, kondisinya yang lemah membuat Gwen jatuh berkali-kali.
"MAX!" Itulah kata terakhir yang Gwen teriakan sebelum kesadarannya menghilang.
__ADS_1
...**********...
"Gwen!" seru Abraham ketika melihat mata putri satu-satunya terbuka.
Gwen menatap wajah Abraham dengan pandangan kosong. Gadis itu kemudian moleh ke sana kemari seolah sedang mencari sesuatu. Namun, dia hanya mendapati sosok sang ayah dan Ronny di sana.
Gwen rupanya sudah tidak sadar selama tiga hari. Dia kini mendapat perawatan intensif di sebuah rumah sakit, yang berada di kota besar.
"Max! Ayah, mana Max?" Itulah sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Gwen, sesaat setelah sadarkan diri.
Mendapat pertanyaan demikian, wajah Abraham berubah sendu. Dia sengaja mengalihkan perbincangan dengan menanyakan kondisi Gwen. Namun, Gwen bersikeras ingin mengetahui keberadaan Maxim.
"Tuan Maxim masih dalam pencarian." Alih-alih Abraham, Ronny lah yang memberikan jawaban padanya.
Gwen terkejut dan menangis. Abraham langsung memeluknya. "Tenang Sayang, Maxim pasti baik-baik saja. Kita hanya perlu percaya pada pihak kepolisian dan militer. Mereka berupaya sekuat tenaga mencari keberadaan Maxim."
Sejak saat itu Gwen seolah kehilangan dunianya.
Gwen berubah menjadi pribadi pendiam. Dia bahkan tidak menunjukkan reaksi apa pun saat Abraham memberitahu, bahwa Ronny adalah mantan bawahan (sementara) Maxim di militer dulu. Keduanya kemudian berpisah saat Ronny dipindahtugaskan ke tempat lain.
Bulan demi bulan berlalu, hingga tanpa terasa setahun telah terlewati. Namun, perubahan yak juga terjadi pada diri Gwen. Abraham bahkan sampai membawa psikiater ke rumah demi memulihkan mental Gwen yang masih terguncang.
Akan tetapi, hal tersebut tidak terlalu berdampak pada Gwen. Sebab, satu-satunya hal yang mampu memulihkan Gwen hanyalah Maxim.
Kejadian itu membuat Gwen sadar, bahwa perasaan asing telah tumbuh di dirinya untuk Maxim.
Sesekali Gwen menangis terisak-isak, ketika mengingat perlakuan dan perkataan kasarnya pada Maxim.
Abraham nyaris frustrasi. Sebagai ayah, dia turut merasakan kesedihan sang putri tercinta.
"Maafkan Ayah, Nak. Ini semua demi kebaikan kalian berdua."
__ADS_1