Wedding Mission

Wedding Mission
29. Ingatan Maxim.


__ADS_3

Kalimat terakhir yang Gwen katakan benar-benar tak bisa dilupakan Maxim. Pria itu berusaha mengingat sesuatu, sebab mungkin saja itu bisa menjadi petunjuk. Namun, hasilnya nihil. Maxim malah dilanda sakit kepala hebat.


Maklum saja, dokter sudah memberi peringatan pada Maxim untuk tidak berusaha terlalu keras mengulik ingatannya.


Keesokan harinya Gwen kembali datang ke rumahnya. Paul meminta Maxim untuk mengajak Gwen jalan-jalan, karena sore ini Gwen harus kembali pulang ke Paris.


Maxim pilin memutuskan mengajak Gwen ke peternakan kuda milik keluarganya. Di sana Maxim agi-lagi terkejut, sebab mendapati Alcandor, kuda kesayangannya, tampak tenang-tenang saja saat dinaiki oleh Gwen.


"Al sepertinya sudah mengenalmu," ujar Maxim dengan raut penasaran.


"Kau memang pernah mengajakku ke sini dulu," jawab Gwen santai. Mereka berjalan mengelilingi peternakan seperti waktu itu.


"Oh, pantas saja," gumam Maxim. Kuda hitam itu memang memiliki ingatan yang baik. Meski baru sekali dinaiki, Al sudah bisa menghafal orang tersebut.


Setelah puas berkuda, Maxim mengajak Gwen makan siang di sebuah restoran mewah langganan keluarganya. Melihat para pelayan begitu menghormati Maxim, Gwen sudah tidak terkejut. Sebab di rumah mereka, Maxim juga mendapatkan perlakuan yang sama.


Kini Gwen memiliki kebanggaan tersendiri.


Saat keduanya tengah asyik makan siang, ternyata salah satu pengunjung restoran sedang mengadakan pesta kejutan ulang tahun. Terlihat dari seorang pria yang tiba-tiba memberikan surprise party pada istrinya yang sedang hamil. Para pelayan pun membawakan kue besar ke meja makan mereka.


Tepuk tangan sontak tak hanya terdengar dari tamu undangan mereka saja, melainkan dari para pelanggan yang hadir.


"Hah, bikin iri saja!" celetuk Gwen, sbil memandangi sepasang suami istri tersebut dengan tatapan memelas.


Maxim mendengkus. "Dasar wanita. Kalian memang senang diberikan hal-hal seperti itu ya?" ujar Maxim.

__ADS_1


"Siapa yang tidak senang? Apa lagi memiliki suami kaya." Tawa kecil keluar dari bibir Gwen, yang lagi-lagi membuat Maxim mengerutkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Gwen begitu melihat Maxim terdiam.


"Aku seperti pernah mendengar kata-kata barusan." Jawab Maxim jujur.


Hati Gwen bergetar. Namun, dia berusaha bersikap biasa. "Mungkin saja kau mendengarnya dari televisi atau semacamnya."


"Bisa jadi."


Keduanya pun kembali berkutat dengan makan masing-masing. Gwen bisa saja mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi dia takut Maxim tidak akan percaya.


Ya, siapa juga yang akan percaya begitu saja pada orang asing, yang tiba-tiba mengaku sebagai pasangan hidup mereka?


Setelah selesai makan siang, Maxim dan Gwen pun kembali ke rumah. Saat itulah Gwen berpamitan padanya.


"Apa ini?" tanya Maxim sambil membolak-balikan kotak tersebut.


"Hanya kado biasa. Buka saat malam saja." Pesan gadis itu.


"Terima kasih. Seharusnya kau tak perlu repot-repot memberikan ini, sebab aku tidak memiliki apa pun untuk diberikan padamu," ungkap Maxim tak enak hati.


"Kau sudah memberikan banyak hal Max." Tanpa diduga Gwen memeluk pria itu erat. "Terima kasih banyak. Kuharap, kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Entah kapan."


Maxim bisa mendengar sedikit getaran pada suara Gwen.

__ADS_1


Gwen pun melepas pelukannya duluan. "Kalau begitu, aku permisi dulu," pamitnya.


"Tunggu!" Maxim tiba-tiba melepas kalung yang dia kenakan, dan memasangkannya di leher Gwen.


"Untukmu." Maxim tersenyum simpul.


Gwen meraba kalung tersebut. "Terima kasih," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Tak ingin lebih lama berada di sana, dia pun bergegas turun untuk menemui Calia dan Paul.


Begitu masuk ke dalam taksi, tangis Gwen pun pecah seketika. Gwen yang semula berharap bisa kembali pada Maxim, memutuskan untuk mengurungkan niatnya.


Melihat hidup Maxim yang kini tanpa beban, membuat hati Gwen senang sekaligus sedih. Maxim sudah terlalu banyak menderita. Kini dia pantas mendapatkan kebahagiaan baru tanpa dirinya.


Tak ada lagi cincin pernikahan yang selalu Gwen pakai, sebab cincin itu telah kembali kepada pemiliknya.


...**********...


Sesuai permintaan Gwen, Maxim baru membuka kotak tersebut pada malam harinya.


Awalnya Maxim merasa aneh, ketika mendapati sebuah cincin emas putih berukuran kecil dari dalam kotak tersebut. Namun, jantungnya berdegup kencang, saat ingatannya tiba-tiba tertuju pada benda yang sama, yang dia simpan di dalam lemari pakaian selama ini.


Dari penjelasan yang didapat Calia, cincin itu merupakan cincin pemberian Paul yang diberikan saat Maxim pergi pertama kali meninggalkan rumah.


Maxim mengambil benda tersebut dan mencoba menyandingkannya dengan cincin pemberian Gwen.


Matanya seketika terbelalak. Sebab ukiran yang terdapat di cincin tersebut seratus persen sama.

__ADS_1


Maxim melangkah buru-buru ke lantai bawah demi menemui kedua orang tuanya. Dia hendak meminta penjelasan.


__ADS_2