
Maxim menjatuhkan barang bawaannya ketika mendapati pintu rumah dalam keadaan terbuka dan Gwen tidak berada di mana pun.
Pria itu sempat menelepon ponsel Gwen, tetapi ponsel tersebut ternyata tergeletak di dalam kamar mereka.
Maxim mencoba memeriksan CCTV yang terpasang di rumah mereka, dan menemukan sebuah mobil tanpa plat nomor terparkir di depan rumah. Dari dalam mobil hitam tersebut keluar dua orang pria berpakaian seba hitam lengkap dengan topi dan masker. Pria pertama tampak berjaga di luar guna memastikan keadaan, sementara pria yang lain masuk ke dalam.
Tak butuh waktu lama, pria yang masuk tersebut akhirnya keluar dengan membawa Gwen yang sudah tidak sadarkan diri.
Jantung Maxim sontak berdetak keras. Wajahnya bahkan sudah merah padam menahan amarah.
Wajar saja, sebab salah seorang penculik tersebut tiba-tiba mengacungkan sebuah simbol yang sangat familiar di salah satu CCTV rumahnya.
Mereka rupanya sadar bahwa rumah tersebut dipasangi banyak CCTV. Bahkan, mereka berani menantang Maxim secara langsung.
Tangan Maxim bergetar hebat. Kemarahan dan ketakutannya jelas menjadi satu. Pasalnya, simbol tersebut merupakan simbol organisasi teroor yang telah membunnuuh Axel, dan membuat dirinya menjadi seperti ini.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah mereka semua telah ditangkap dan dieksekkussi? Lalu, mengapa tiba-tiba mereka muncul kembali? Dendam apa yang mereka bawa? Padahal jelas-jelas kemattiaan bos mereka berbanding lurus dengan Axel telah terbbunnuh.
"Gwen."
...**********...
"Kau gila! Aku yakin mereka hanya peniru Max, mereka tak akan berani berbuat macam-macam pada Gwen. Kita harus menyerahkan semua ini ke polisi dan aku berjanji akan membantu." John terus meyakinkan Maxim untuk tidak mengambil langkah sendirian.
Maxim tampak tidak peduli. Dia tetap bersiap-siap untuk pergi.
"Max, tenangkan pikiranmu! Kau tak boleh gegabah seperti dulu." John kembali bersuara.
"Kau tidak mengerti John." Maxim berbalik menghadap John sembari memakai sarung tangannya. "Mereka dulu mengambil nyawa kakakku, dan sekarang mereka ingin melakukannya lagi pada istriku. DIA ISTRIKU, JOHN!" teriak Maxim.
John tersentak. Kendati terlihat emosi, pria itu dapat mengetahui sorot keputusasaan yang hadir di mata Maxim. Itu adalah sorot yang sama, yang pernah dia lihat lima tahun silam.
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Maxim kemudian berjalan ke dapur sambil berkata, "aku memintamu datang bukan untuk berdebat, John."
Maxim lalu mengambil pisau di rak dan langsung berjongkok di lantai. Pria itu kemudian merobek salah satu bagian wallpaper lantai dan mengangkat lapisan lantainya yang terbuat dari kayu.
Terdapat sebuah koper berwarna hitam di sana. Maxim langsung membawanya ke ruang tamu.
John menghela napas, tatkala mendapati banyak senjjatta yang tersimpan di dalam koper berwarna hitam tersebut. Selain itu ada berbagai macam alat lain, seperti alat komunikasi jarak jauh.
Maxim melemparkan satu alat tersebut pada John. "Aku akan menjauhkan mereka dari Gwen. Jika dalam tiga puluh menit aku tak kembali, tolong bawa Gwen pergi dan pulangkan dia kembali ke orang tuanya!" titah pria itu, sembari sibuk menyembunyikan senjjattanya di dalam jaket kulit yang dia kenakan.
John meremas alat tersebut. Wajahnya masih tampak tidak setuju. Namun, akhirnya John mengalah. Dia menganggukkan kepala dan memasang alat tersebut di telinganya.
"Hati-hati, bro!" John mencengkeram erat pundak Maxim.
Maxim mengangguk mantap. Keduanya pun pergi ke luar rumah.
Mata Maxim sontak tertuju pada motor besar yang terparkir di halaman rumah.
Itu adalah motor kesayangan Maxim yang dititipkan pada John selama ini. Sejak kejadian lima tahun lalu, dia tak pernah bisa menyentuhnya lagi. Jangankan menyentuh, melihatnya saja Maxim tak mampu.
Maxim mengembuskan napasnya berulang kali, sebelum kemudian memakai helm full face yang John bawa. Demi Gwen, dia berusaha membuang jauh-jauh perasaan trauma yang selama ini membelenggunya.
Pria itu sempat gemetar saat menaiki motor tersebut. Namun, John membantu menenangkan Maxim.
Maxim menoleh ke arah John dan menganggukkan kepala. John lantas menepuk lengan Maxim. "Jangan lepas komunikasi. Suka atau tidak, bila aku mendengar sedikit saja suara kesakitanmu, maka aku akan menyusul!"
Maxim tidak menjawab. Pria itu menurunkan kaca helmnya dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
Berdasarkan rekaman CCTV yang John tunjukkan, mobil yang membawa Gwen bergerak menuju kawasan pantai tak berpenghuni.
Pantai tersebut memang sudah lama tidak dikunjungi karena dulu ditemukan banyak ranjau. Meski sudah dibersihkan, tetap saja warga takut untuk datang. Hal itu pasti dimanfaatkan mereka untuk membuat basecamp baru.
__ADS_1
Maxim terus melajukan motornya, membelah jalanan gelap ini.
"Gwen, bertahanlah!"
...**********...
Gwen tampak tidak peduli pada makanan yang terhidang di depannya. Gadis yang kini sedang terikat di dalam sebuah bangunan kayu tersebut lagi-lagi menolak untuk makan dan minum.
Penampilan Gwen kini tampak kacau. Pakaiannya terlihat sangat kotor dan dipenuhi pasir pantai. Terdapat lebam kebiruan juga di pipi dan lengan Gwen, karena gadis itu sempat dipukkulli.
Akan tetapi, bukannya menangis Gwen justru memberanikan diri menatap mereka semua dengan pandangan menantang. Hal itulah yang memancing kemarahan Lehder, sang pimpinan.
Jack dan Allan yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa melihat Gwen.
Mereka lah yang selama ini berperan sebagai peneror tempo hari. Entah bagaimana ceritanya, kedua pria itu mampu memanipulasi keberadaan mereka hingga tidak terlacak.
Tentu saja Jack dan Allan hanya orang terbawah yang dibayar dengan jaminan pembebasan akan tempat terkutuk ini.
Lehder menghampiri Gwen dan mencengkeram rahangnya. "Kau gadis yang tangguh," ucap pria itu. Sebab, meski kondisinya sudah seperti itu, Gwen sama sekali tidak menangis.
Gwen hanya terdiam. Matanya bahkan membalas tatapan Lehder. Tak ada yang tahu, di dalam hati Gwen sudah menangis meraung-raung dan ketakutan. Namun, dia tidak ingin memperlihatkannya pada mereka.
"Terima kasih pujiannya. Kau pasti berharap aku memohon belas kasihan, bukan? Cih, sayang sekali, aku tidak selemah itu, breenggseek!"
Mendengar perkataan Gwen, pria bertubuh tinggi itu tertawa keras dan menakutkan, sebelum kemudian kembali menammpar pipi Gwen keras.
Tak hanya itu saja, kali ini Lehder bahkan menjambak rambut Gwen dan menccekkik lehernya.
Gwen tentu saja terkejut. Gadis itu berusaha meronta guna melepaskan diri. Namun apa daya, kedua tangan dan kakinya dalam kondisi terikat, sementara Lehder semakin kuat mencceekkiknya.
Saat kesadaran Gwen mulai menipis, sorot lampu tiba-tiba menembus bangunan kayu tersebut, disusul dengan suara hantaman pada pintu bangunan.
__ADS_1
Jack dan Allan yang tengah berdiri di sana langsung terpental hingga beberapa meter.
"M—max," gumam Gwen dengan suara terbata, tatkala mendapati sesosok pria berpakaian hitam menerobos masuk dengan motor besarnya. Dia yakin itu adalah Maxim, suaminya.