Wedding Mission

Wedding Mission
6. Hari Pertama Dimulai.


__ADS_3

Maxim sontak menggelengkan kepalanya begitu tiba di rumah. Pasalnya, Gwen sama sekali tidak mengerjakan perintahnya untuk mencuci piring. Dia membiarkan begitu saja tumpukan piring kotor bekas makan mereka tadi sore. Bahkan, tak hanya itu saja, di lantai dapur, tergeletak beberapa buah dan sayuran yang masih segar. Mungkin pemberian dari tetangga.


Maxim segera meletakkan sayuran-sayuran tersebut di dalam kulkas, sedangkan buah-buahan diletakkan pria itu pada keranjang susun yang terbuat dari anyaman bambu. Setelah selesai, dia mulai mencuci semua piring.


Maxim kembali dibuat heran dengan kondisi kamar tidur yang berantakan oleh barang-barang Gwen di lantai, sedangkan si pemilik malah asyik bergelung nyaman di atas ranjang.


Maxim menatap jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Untuk saat ini, aku akan membiarkanmu," gumam pria itu, sebelum kemudian menata pakaian-pakaian Gwen yang tersisa ke dalam lemari.


...**********...


Seperti hari-hari biasanya, Maxim selalu bangun dari tidur pukul lima pagi, karena harus membuka toko jam delapan nanti. Sebenarnya, pria itu bisa buka lebih siang, jika tidak ada stok buah yang datang.


Akan tetapi, karena Gwen baru pindah ke rumah ini kemarin sore, jadi Maxim memutuskan untuk membantu sang istri beradaptasi terlebih dahulu, sekaligus mengajarkannya bagaimana menjalani hidup sehari-hari di tempat ini.


Hal pertama yang Maxim lakukan adalah membangunkan Gwen di kamar. Semalam, pria itu memang tidur di sofa, karena Gwen menguasai hampir semua sudut ranjang.


"Gwen, bangun!" Tanpa ada kesan lemah lembut, Maxim mengguncang tubuh gadis itu agar terbangun. Namun, hal tersebut rupanya tidak mempan.


Maxim kemudian membuka jendela kamar mereka lebar-lebar, agar angin dingin masuk ke sana. Desa tempat tinggalnya memang terbilang masih asri, jadi rumah-rumah di sana tidak memerlukan pendingin ruangan.


Gwen mulai menggeliat meraba-raba setiap sisi tempat tidur. Tampaknya gadis itu tengah mencari selimut yang sudah disingkirkan Maxim terlebih dulu.


"Bangun, Gwen!" seru Maxim tegas.


Gwen membuka matanya dan langsung menatap jam dinding yang berada di sana. "Siaal, ini bahkan belum jam setengah enam pagi!" makinya.


Saat Gwen hendak menutup matanya kembali, Maxim tanpa pikir panjang memegang pundak Gwen dan mendudukkannya.


Gwen tentu saja berontak. Seumur-umur tak ada siapa pun yang berani mengatur kapan dia harus tidur apa lagi terbangun.


Dia mulai meneriaki Maxim dan berkata untuk tidak mengganggunya sampai jam sebelas nanti. Sebab, di jam itulah biasanya Gwen baru bangun. Terkecuali jika dia sedang ada janji dengan dua sahabatnya. Itu pun paling pagi pukul tujuh.

__ADS_1


Maxim tentu saja enggan menuruti kemauan sang istri. Menggunakan tubuh besarnya, dia mengangkat tubuh Gwen dan menurunkannya di kamar mandi.


"Hei, sialaaan!" maki Gwen.


"Teruslah berteriak, kalau kau mau membangunkan seisi desa. Aku tidak akan bertanggung jawab!" kata Maxim dingin.


Gwen terdiam sejenak. Matanya menatap bengis sosok Maxim, sebelum akhirnya terpaksa mencuci wajah dan menggosok gigi.


Selesai berurusan dengan kamar mandi, Maxim meminta Gwen untuk menyapu dan mengepel lantai. Bak seorang majikan kepada asisten rumah tangganya, Maxi menjelaskan secara rinci hal-hal apa saja yang harus Gwen lakukan setiap hari.


"Yang benar saja! Kau tahu tidak, sih, kedua orang tuaku saja tak pernah memintaku untuk melakukannya. Memangnya kau siapa berani-berani memerintahkanku ini dan itu!" Gwen menunjuk hidung Maxim tanpa merasa bersalah.


Maxim menghela napas. Perlahan dia menurunkan tangan Gwen dan berkata, "aku suamimu, dan sudah sepantasnya seorang istri melakukan tugas rumah tangga. Aku pun tidak akan tinggal diam. Rumah ini kalau bukan kita yang merawatnya demi kenyamanan, siapa lagi?"


Mendengar perkataan tersebut, Gwen lamgsung tertohok. Namun, ego dalam dirinya masih berkuasa.


Maxim tidak peduli. Dia mengambil sapu rumah dan menyerahkannya ke tangan Gwen.


"Sapu seisi rumah ini, mulai dari teras kayu, ruang televisi, kamar, dapur, hingga ke depan. SEKARANG!" titah pria itu.


Maxim mengernyit keheranan, tatkala mendapati cara Gwen memegang sapu dan menggunakannya. Gadis itu benar-benar tidak bisa menggunakan alat-alat tersebut.


Maxim lantas merebut sapu tersebut dari tangan Gwen. "Pakai tenagamu. Pegang sapu ini dengan benar!" serunya sambil mempraktikan cara memegang sapu, dan mengayunkan benda tersebut ke satu arah dengan sempurna.


Gwen terpaksa memerhatikan Maxim.


"Ini!"


Sambil memasang wajah ketus, Gwen merebut sapu tersebut dan mempraktikan apa yang dia lihat. Meski tidak sempurna seperti yang dilakukan Maxim, tetapi tampaknya pria itu cukup puas.


Dia terus memerhatikan Gwen sampai benar-benar selesai menyapu.


Selesai menyapu, Maxim menyodorkan seember air pel dan kain.

__ADS_1


"Aku harus mengepel rumah menggunakan kain ini!" kata Gwen terkejut.


"Rumah ini kecil, jadi lebih baik menggunakan kain biasa, alih-alih pel bergagang agar lebih bersih."


Gwen tentu saja menolak. Gadis itu bergegas lari ke kamarnya. Namun, dengan cepat Maxim menahan tangan sang istri.


Tak disangka, Gwen malah menangis. Dia memohon pada Maxim agar mengizinkan dirinya untuk menghubungi sang ayah.


"Untuk apa menghubungi beliau?" tanya Maxim.


"Aku akan meminta maaf, setelah itu aku akan memohon padanya untuk dijemput pulang!" jawab Gwen sesenggukkan.


Maxim mendengkus keras. "Kau pikir, sekarang berada di mana? Ini rumahmu, dan aku suamimu. Kau tak bisa seenaknya meminta hal seperti itu pada ayah!" tegas Maxim.


Bukannya menjawab, Gwen malah mengeraskan tangisannya. Maxim sontak jadi merasa risih sendiri. Dia pun akhirnya mengalah. "Baiklah, untuk hari ini saja, kau dibebas tugaskan mengepel lantai, tetapi tidak dengan besok!"


Gwen tersenyum lebar. Air mata yang tadi mengalir deras tiba-tiba berhenti begitu saja.


Akan tetapi, rupanya kesenangan Gwen hanya berhenti sampai di sana. Sebab, selanjutnya, Maxim malah menyuruh gadis itu untuk mencuci pakaian kotor.


Maxim memang sengaja membeli mesin cuci, agar memudahkan pekerjaan Gwen, tapi tetap saja hal itu sangat berat bagi gadis itu.


"Aku ingin pulang!" teriak Gwen dengan raut wajah memelas.


...**********...


"Aduh, pengantin baru ini romantis sekali, sih!" Helen, salah seorang tetangga yang kemarin datang ke rumah, tidak sengaja melihat kebersamaan Maxim dan Gwen di halaman rumah.


Pria itu ternyata sedang mengajari Gwen memotong-motong sayuran di atas kursi dipan.


Maxim mengangguk sopan dan menawarkan Helen untuk mampir. Tak lupa, dia mengucapkan terima kasih atas pemberian Helen semalam.


"Sama-sama, Max. Lanjutkan kegiatan kalian, aku hendak pergi ke ladang. Semoga kalian suka dengan sayuranku, ya!" seru Helen sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Maxim mengangguk. Dia pun kembali mengalihkan perhatiannya pada Gwen.


__ADS_2