
Jack dan Allan masih belum beranjak dari tempat mereka berdiri, meski mobil yang dikendarai Maxim telah pergi. Pandangan kedua preman kacangan itu menatap lurus ke depan dengan sikap sempurna, sementara tangan kanan mereka masih setia bertengger di pelipis masing-masing selama beberapa saat.
Barulah setelah mobil tersebut menghilang dari pandangan, Jack dan Allan langsung terduduk lunglai di atas aspal. Jantung mereka masih berdetak keras dengan keringat sebesar biji jagung yang membasahi wajah.
Jack lantas menatap Allan bengis. "Gara-gara kau, kita hampir maatti, siialan!" makin pria itu sembari menenddang kaki sahabat kentalnya.
"Mana aku tahu, kalau dia istri Maxim! Lagi pula, kau lah yang pertama kali mengusulkan untuk menghampirinya di halte kosong tadi!" seru Allan tak terima. Pria itu membalas teendangan Jack sama kerasnya.
Mereka dua sempat berdebat sengit sambil beradu fisik, sebelum akhirnya berhenti karena kelelahan.
"Pertengkaran ini tak akan ada habisnya!" pekik Allan dengan napas tersendat. "Sebenarnya yang patut disalahkan adalah gadis itu! Bisa-bisanya dia menipu kita dengan alasan palsu!" sambungnya kesal.
Jack menyetujui perkataan Allan. Keduanya pun kompak bersumpah serapah memaki-maki Gwen, yang jelas-jelas sudah tidak berada di sana.
...**********...
Sementara itu, suasana di dalam mobil jeep yang dikendarai Maxim sungguh sunyi senyap. Gwen sama sekali enggan bersuara. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa, guna memaksimalkan kemarahan yang terpendam sejak beberapa hari lalu.
"Kalau mau pulang, katakan saja padaku. Tak perlu repot-repot kabur sampai menggemparkan banyak orang!" Tak tahan dengan sikap diam sang istri, Maxim akhirnya membuka suara terlebih dulu.
"Siapa yang buat gempar? Jangan sembarangan bicara!" sahut Gwen ketus.
"Kau meninggalkan rumah dalam keadaan pintu terbuka. Tentu saja membuat para tetangga cemas. Setidaknya, pergilah dengan tenang tanpa membuat kegaduhan!" kata Maxim kesal.
Gwen bungkam, tampak enggan menimpali perkataan sang suami.
"Dan kau pikir, siapa dua orang pria yang baru saja memberimu tumpangi itu, hah?" sambung Maxim.
Gwen masih bungkam. Matanya sibuk menatap hamparan padang rumput di kanan kirinya, seraya bersidekap angkuh.
"Mereka preman sekaligus residivis kasus perampokan dan peeleccehan sekksual! Kendati diberi kesempatan kedua, pihak pengadilan memutuskan untuk mengasingkan mereka di wilayah itu dalam pengawasan ketat."
Gwen yang kini hendak menyandarkan diri sambil memejamkan mata, sontak saja terkejut.
Matanya terbelalak lebar dengan raut wajah yang terlihat sangat syok.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak memberitahuku!" teriak Gwen marah. Bayangan soal nasib buruk yang hampir saja terjadi, mulai berputar-putar memenuhi kepala gadis itu.
Maxim mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Memberitahu apa?" tanya pria itu kebingungan.
"Ya soal dua orang residivis yang tinggal di desa kecil ini! Kau baru saja membahayakan keselamatan diriku, siialan! Ayah pasti akan menghukummu, bila aku mengadukan hal ini padanya!"
Mendengar makian dan ancaman yang terlontar dari mulut Gwen, Maxim mendengkus kesal. "Untuk apa aku membicarakan hal itu padamu? Lagi pula, kau lah yang telah membahayakan diri sendiri dengan berlagak kabur dari rumah. Padahal, jelas-jelas kau tidak mengetahui seluk-beluk desa kecil ini, dasar bodoh!" Tak terima dituding sebagai penyebab kesialannya, Maxim pun membalas teriakan Gwen sama keras.
Sejak berkenalan sampai menikah, Gwen memang tidak pernah benar-benar menganggap Maxim sebagai pria baik-baik.
Ada saja hal yang membuat penilaian Gwen terhadap dirinya berkurang. Bahkan, seperti halnya saat ini, Gwen sama sekali tidak bisa melihat raut kecemasan di balik wajah dingin Maxim.
"Berhenti," bisik Gwen lirih.
"Untuk apa?" tanya Maxim tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Berhenti saja di sini." Gwen lagi-lagi mengeluarkan suaranya, yang kini terdengar sedikit lebih keras.
"Kau mau ap—" ucapan Maxim sontak terhenti, begitu melihat air mata sudah mengalir deras membasahi pipi istrinya tersebut.
Melihat Gwen hendak membuka pintu mobil, Maxim bergegas menginjak pedal remnya. Mobil pun berhenti di pinggi jalan raya yang cukup lengang.
Tanpa berkata apa-apa, Gwen segera turun dari mobil dan berlari meninggalkan Maxim. Dia bahkan membiarkan tasnya masih berada di atas jok mobil.
Maxim tentu saja tidak tinggal diam. Namun, alih-alih berlari menyusul sang istri, seperti kebanyakan drama picisan yang ditonton sang ibu, pria itu memilih tetap berada di dalam mobil sambil melaju secara perlahan.
"Gwen, berhenti bertingkah seperti anak kecil. Cepat naik!" titah Maxim dengan nada tegas.
Gwen mencibir. "Aku memang anak kecil. Lebih baik kau segera pergi dari sini, tidak perlu repot-repot mengurus anak kecil sepertiku!"
Maxim mengerrang frustrasi. Kepalanya pening bukan main. Rasanya, mengurus Gwen jauh lebih sulit dari pada berkutat dengan masa lalunya yang cukup rumit dan berbahaya.
"Gwen!" Maxim masih berusaha bersikap biasa.
"Gwen Stefani Eginhard!"
__ADS_1
"Jangan seenaknya mengganti namaku! Namaku sejak lahir adalah Gwen Stefani Holtzman!" pekik Gwen marah. Gadis itu mempercepat langkahnya guna menghindari Maxim. Namun, sang suami terus saja mengikutinya dari belakang.
Kesal dengan tingkah Maxim, Gwen pun tanpa sadar mengeluarkan kata-kata kejam. "Pergi kau, pria miskin siialan yang tak tahu diuntung!"
Maxim terdiam. Wajahnya berubah dingin dan tajam, persis seperti saat menghadapi kedua preman tersebut.
Sedetik kemudian, Maxim menginjak pedal gasnya dalam-dalam dan pergi begitu saja.
Gwen sempat terhenyak sesaat. Gadis itu masih terkejut dengan perkataan yang baru saja terlontar dari mulutnya. Tak lama tangisnya pun pecah.
Pria itu benar-benar telah pergi meninggalkan dirinya sendirian di jalan.
...**********...
Maxim mengulas senyum tipis, tatkala mendapati seorang gadis tengah berjongkok sembari memeluk kedua lututnya di pinggir jalan raya.
Jika dilihat dari jauh, sepertinya gadis itu sudah tidak memiliki sisa tenaga lagi.
Maklum saja, sebab dia sempat menempuh perjalanan cukup jauh dengan berjalan kaki, pagi tadi.
Maxim pun bergegas mempercepat langkah kakinya.
"Sudah selesai marah-marahnya? Ayo, kita pulang!"
Gwen yang sedang menangis sesenggukkan, sambil menyembunyikan kepalanya di sela-sela kedua lutut, tiba-tiba terdiam.
Saat Gwen mengangkat kepalanya, hal pertama yang dilihat gadis itu, adalah wajah tampan Maxim yang sedang tersenyum tipis.
Tak ada raut kemarahan atau pun dingin seperti tadi. Maxim benar-benar tersenyum. Tangannya bahkan terulur untuk membantu Gwen bangun.
"Sebentar lagi hujan akan turun. Kita harus cepat-cepat pulang. Aku sudah membeli daging dan ayam kesukaanmu, kita akan makan enak hari ini."
Mendengar Maxim berkata demikian, tangis Gwen pun kembali pecah. Dia memeluk Maxim erat, sambil terus memarahi pria itu karena telah meninggalkannya sendirian.
Maxim meringis. Sepertinya, dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merubah sifat Gwen.
__ADS_1