Wedding Mission

Wedding Mission
14. Orang Iseng?


__ADS_3

"Biarkan dia beristirahat dulu, Gwen. Suamimu pasti kelelahan," ucap Helen, tatkala Maxim berhasil diangkat menuju sofa ruang televisi.


Gwen mengangguk. Meski dia sama sekali mengerti, tetapi tampaknya kondisi Maxim memang cukup serius dan tidak bisa diremehkan.


Para tetangga pun bergegas meninggalkan rumah kecil itu untuk memberi ruang pada mereka. Namun, saat Helen hendak keluar dari, Gwen buru-buru menahannya.


"Ada apa Gwen?" tanya wanita paruh baya tersebut.


Gwen terdiam, seolah tengah berpikir. "Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Maxim. Kami berdua memang belum cukup saling mengenal satu sama lain, jadi aku tidak tahu apa-apa tentangnya," ujar gadis itu kemudian.


Helen tersenyum simpul. "Tak ada apa pun, Gwen. Maxim hanya pobia dengan kendaraan roda dua," jawabnya singkat.


Gwen tentu saja tidak percaya. Pobia memang sangat menakutkan bagi orang lain, tetapi sepertinya yang dialami Maxim, lebih dari itu. "Please, Helen! Katakan sesuatu, setidaknya agar aku bisa berhati-hati dikemudian hari."


Helen menghela napasnya. "Aku tidak berhak mengatakan apa-apa, Gwen. Namun, yang jelas, Maxim memang memiliki pengalaman buruk dengan kendaraan bermotor." Wanita itu lalu menepuk-nepuk pundak Gwen lembut. "Ya sudah, lebih baik kau temani dia. Buatkan juga teh hangat untuk suamimu."


Gwen mengangguk paham. Dia pun mempersilakan Helen untuk pergi meninggalkan kediaman kecil mereka.


Seperti yang dikatakan Helen, Gwen bergegas masuk ke dalam dapur untuk membuatkan teh. Namun, gadis itu sempat mematung sejenak. "Berapa sendok gula yang harus aku tuang ke dalam cangkir teh, agar rasanya seimbang?" gumam gadis itu.


Raut wajahnya yang semula ragu, tiba-tiba berubah ketus. "Cih, masa bodoh lah, yang penting aku sudah membuatkannya teh!"


Tepat ketika Gwen selesai membuatkan teh, Maxim tersadar. Pria itu terduduk dari posisinya sembari memegangi kepala.


"Masih pusing?" tanya Gwen.


Hanya anggukan singkat yang berikan Maxim sebagai jawaban.


"Minumlah! Aku sudah repot-repot membuatkanmu teh." Gwen meletakkan secangkir teh di hadapan Maxim.


"Terima kasih," ucap Maxim. Pria itu mengambil teh tersebut dan menyesapnya pelan. Namun, alih-alih merasa lebih baik, Maxim justru terlihat meringis. Keningnya bahkan berkerut dalam-dalam, sesaat setelah merasakan teh tersebut.


"Ada apa? Tehnya masih hambar?" tanya Gwen.


"Aku justru berharap rasa teh ini pahit sekalian!" seru Maxim.

__ADS_1


Gwen mendecih. Sambil melipat kedua tangannya, gadis itu berkata, "sudah, minum saja teh itu! Sudah bagus aku buatkan. Kau itu orang pertama yang bisa merasakan teh buatanku, tahu!"


"Wow, luar biasa sekali!" Maxim meletakkan kembali teh tersebut di atas meja, dan memandanginya dengan tatapan penuh ketakutan.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Mengapa kau tak bilang padaku, soal pobiamu?" tanya Gwen.


"Pobia?" Maxim menegaskan perkataan sang istri.


"Iya. Kata Helen, kau pobia mengendarai roda dua?"


"Oh." Maxim mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, saat aku kecil, aku mengalami sedikit kecelakaan parah. Hal tersebut membuatku koma selama hampir satu bulan."


Mendengar jawaban Maxim, Gwen tercengang. Raut wajahnya yang semula ketus, seketika berubah. "Kenapa tidak bilang sejak awal!" serunya tak enak hati.


"Ck, harga diri!" jawab Maxim sembari bangkit dari sofa. Pria itu hendak pergi menuju kamarnya untuk mengambil pakaian bersih.


"Aku mau mandi dulu. Kau sapu rumah ini sampai bersih, dan jangan lupa cuci gelas dan piring yang kotor." Seolah tak terjadi apa-apa, Maxim kembali bertingkah menyebalkan dengan menyuruhnya ini dan itu."


"Ck, biarkan aku istirahat terlebih dahulu!" sentak Gwen.


"Kau bisa bebas beristirahat setelahnya!" sahut Maxim.


"Terima kasih."


Seolah mendengar ocehan Gwen, Maxim tiba-tiba sudah berdiri di belakang gadis itu. Bibirnya yang begitu dekat dengan telinga Gwen, membuat debaran jantung gadis itu seketika meningkat.


"Ih, kau mengagetkanku, Bodoh!" Saat Gwen berbalik hendak memukul kepala pria itu, Maxim dengan cepat menahan tangannya.


Gwen tercengang. Namun, bukan pada jarak wajah mereka yang begitu dekat. Melainkan pada tubuh pria itu yang ternyata sedang berteelannjang dada.


Gwen sontak menelan salivanya, tatkala mendapati pemandangan indah dari tubuh atletis Maxim. Meski sempat terkejut dengan luka memanjang yang ada di pinggang kirinya, tetapi hal tersebut sama sekali tidak menganggu. Malah, luka memanjang itu membuat tubuh atletis sang suami semakin terlihat sekksi.


Gwen terkesiap. Apa yang aku pikirkan! Batinnya tiba-tiba.


Seolah sadar, gadis itu mendorong tubuh Maxim sekeras mungkin, hingga membuat Maxim nyaris terjungkal.

__ADS_1


"Hei!" seru Maxim.


"Jangan tiba-tiba mengagetkanku begitu, Bodoh! Sudah, sana, pergi dari hadapanku!" teriak Gwen, sembari mengangkat pot bunga.


Maxim hanya bisa mengangkat bahunya, sembari menyingkir dari hadapan Gwen. Diam-diam, pria itu tersenyum tipis.


...**********...


Ini adalah kali kedua Maxim mendapati ban mobilnya bocor. Bahkan, disaat mobil tersebut terparkir di rumah.


"Sepertinya ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini," kata Gwen yang turut berada di sana.


Maxim sebenarnya tahu, sebab, ban tersebut seperti sengaja ditusuk benda sebesar sebesar obeng. Namun, Maxim pikir hal tersebut dilakukan oleh anak-anak remaja iseng, yang memang senang sekali berbuat jahil.


Akan tetapi, spekulasi tersebut kontan terbantahkan dengan kejadian ini.


Maxim yakin ada seseorang yang sengaja menakut-nakuti dirinya, mau pun sang istri.


"Hari ini aku akan ke toko. Kau mau ikut, atau menunggu di rumah saja?" tanya Maxim.


"Aku di rumah saja. Tenagaku akan keluar tiga kali lipat bila ikut denganmu!" seru Gwen kesal. Gadis itu masih dendam tentang kejadian dua hari lalu.


Pasalnya, sesampai di rumah bukan mendapat istirahat, dia justru malah harus berbenah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah yang tertunda, di bawah pengawasan pria itu.


"Baiklah. Tolong, hubungi aku kalau ada apa-apa, oke? Bila ada seseorang yang tidak kau kenal datang bertamu, jangan dibukakan pintu!" pesan Maxim.


Gwen berdecak. "Kau ini berlebihan sekali. Memangnya apa yang harus dikhawatirkan? Ini hanya ul—"


"Gwen, iyakan pesanku!" sentak Maxim.


Gwen sontak terkejut. Baru kali ini, Maxim berlaku demikia padanya. Pria itu tampaknya tak hanya sekadar basa-basi dengan apa yang dia katakan, sebab wajahnya kini terlihat cukup menyeramkan.


"Oke, kau tak perlu khawatir," jawab Gwen sekenanya.


Maxim pun berjalan ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu, sebelum kemudian pergi.

__ADS_1


"Aku akan menutup toko lebih cepat. Jadi, jangan ke mana-mana. Setrika saja semua pakaian yang sudah kering," ujarnya sembari berlalu.


Gwen mencibir. "Cih, dia mengkhawatirkanku atau apa sebenarnya!" gumam gadis itu kesal.


__ADS_2