
Maxim memarkirkan mobil pick up-nya di depan sebuag kamp Militer. Pria itu kemudian turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam salah satu bangunan semi permanen yang ada di sana.
Melihat kedatangan Maxim, dua orang prajurit yang sedang berjaga sontak menghalanginya.
"Maaf, Pak, warga sipil dilarang masuk ke tempat ini!" Salah seorang prajurit berpangkat kopral dua membuka suaranya.
Maxim menghela napas. "Kalian baru datang kemari?" tanyanya.
Kedua prajurit tersebut saling bertukar pandang, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Maxim. "Ya, kami baru datang tiga hari lalu."
"Aku ingin bertemu dengan atasan kalian, John August. Bilang saja, Max menunggu," pinta Maxim.
"Tidak bisa! Beliau sedang sibuk hari ini. Anda sebaiknya pergi dari sini, Tuan!" Tanpa basa-basi, salah seorang prajurit lain segera mengusir Maxim.
Maxim tak punya pilihan. Sebagai warga sipil, dia memang tidak diperkenankan keluar masuk kamp sembarangan.
Mau tidak mau, dia pun berbalik hendak pergi meninggalkan tempat. Namun, suara teriakan seseorang tiba-tiba terdengar.
Melihat kedatangan atasannya, kedua prajurit tersebut sontak berdiri tegak dan memberi hormat.
"Masuklah!" seru John tanpa memerdulikan kedua bawahannya.
Dua prajurit tersebut buru-buru menyingkir, guna memberi Maxim jalan.
"Sepertinya ada banyak anggota baru yang datang?" tanya Maxim, begitu keduanya berjalan beriringan menuju salah satu bangunan semi permanen terbesar di sana.
"Ya. Aku akan segera memberitahu mereka untuk tidak melarangmu ke sini," ujar John.
"Santai saja. Aku terdengar seperti warga sipil kurang ajar. Mereka menjalankan tugas dengan baik."
John tertawa kecil. "Omong-omong, ada apa pagi-pagi ke sini? Kau tidak membuka toko?" tanya pria itu kemudian.
"Aku butuh bantuan!" jawab Maxim tanpa basa-basi. Saat keduanya tiba di dalam, Maxim segera melempar sebuah benda berukuran besar ke atas meja, yang ternyata merupakan alat pemecah es batu berukuran sedang.
Sejak awal Maxim sebenarnya sudah tahu dengan apa ban mobilnya bocor. Dia bahkan sudah menemukan benda mencurigakan yang ternyata jatuh di sekitar halaman rumah.
"Apa ini?" tanya John.
__ADS_1
"Ada yang mengincarku dan istriku, John. Sudah dua kali ban mobilku bocor. Benda itulah yang kutemukan tak jauh dari TKP." Maxim bertolak pinggang. Matanya menatap benda tersebut dingin.
"Hmm, bukankah sudah kubilang untuk berhati-hati? Kau menolak semua tawaranku sebelumnya, kan? Ingat, Max, setenang apa pun hidupmu saat ini, pasti tetap saja akan ada orang-orang yang datang mengganggu. Bisa saja mereka adalah orang-orang yang menyimpan dendam padamu dulu, dan ini merupakan kesempatan emas mereka!"
Mendengar nasihat menyebalkan yang keluar dari kawannya tersebut, Maxim mendengkus kesal.
John lalu pergi meninggalkan Maxim ke suatu tempat selama beberapa saat, sebelum akhirnya kembali dengan membawa seperangkat alat kamera pengintai berteknologi tinggi, dan sebuah HT.
"Gunakan ini!" titah John.
Maxim mengambil kedua benda tersebut. Saat tangan kirinya terulur, John terkejut.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu?" tanya pria itu. Matanya tak lepas menatap tangan kiri Maxim yang tampak aneh.
"Ahh, aku terjatuh dua hari lalu," jawab Maxim singkat.
"Terjatuh? Tidak terdengar seperti Maxim. Terjatuh dari mana?" tanya John penasaran.
"Ck! Motor!" jawab Maxim sekenanya, sembari mulai mengutak-atik benda-benda yang diberikan John.
"Motor? Kau naik motor? Setelah sekian lama!" Seolah baru saja mendengar cerita paling mustahil di muka bumi, John memekik keras.
Mendengar hal tersebut, John tak bisa menahan tawanya. Meski perihatin, dia tak bisa menyampingkan rasa humor yang didapatkan dari cerita barusan. Membayangkan Maxim dibonceng oleh seorang gadis, yang tak lain adalah istri super duper manjanya, benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi pria itu.
Maxim menatap dingin John. Namun, John sama sekali tidak terpengaruh. Dia malah semakin mengeraskan tawanya.
"Tertawalah sesukamu!" seru pria itu sembari berlalu pergi.
John pun mengikutinya dari belakang. Saat tiba di depan, kedua prajurit tersebut langsung memberikan Maxim jalan. Tak lupa, mereka pun memberi hormat kembali pada John.
"Mobil ini aman?" tanya John seraya menelisik mobil pick up milik Maxim.
"Aman. Mobil ini kutitipkan di rumah Juan." Maxim masuk ke dalam mobil. "Aku pergi dulu," pamitnya.
John mengangguk. "Hubungi aku kalau ada apa-apa!" pesan John.
Maxim mengiyakan. Dia pun pergi meninggalkan kamp tersebut.
__ADS_1
Setelah mobil Maxim tak lagi terlihat dari pandangannya, John pun berbalik menghadap dua prajurit tersebut.
"Kalian kenal keluarga Eginhard?" tanya John pada mereka.
"Siap! Kenal, Letnan!" jawab kedua prajurit tersebut dengan tegas dan lantang.
John terdiam. Sambil bertolak pinggang, senyumnya mengembang misterius.
Tak butuh kata-kata, kedua prajurit tersebut langsung memahami arti dari senyuman atasan mereka itu.
John menepuk pundak mereka sambil berkata, "Jangan khawatir. Dia bukan pria yang senang mengandalkan memanfaatkan sesuatu. Dia bahkan memuji kalian yang sudah menjalankan tugas dengan benar."
Dua prajurit tersebut hanya bisa bertukar tatapan dengan raut wajah gugup.
...**********...
Gwen bersorak senang, ketika pakaian terakhirnya berhasil dijemur dengan sempurna. Butuh waktu lama bagi gadis itu untuk menjemur semua pakaian yang ada di sana dengan benar.
Maklum saja, di rumah dia tak pernah melihat bagaimana pakaian-pakaian tersebut dikeringkan. Gwen hanya tinggal mengambil di lemari, atau meneriaki asisten-asisten rumah tangganya.
Gwen sebenarnya tidak menyukai pekerjaan ini. Namun, untuk sekarang dia memilih tidak bertingkah terlebih dahulu, sembari menunggu momen yang pas untuk bertingkah.
"Jadilah istri yang baik selama beberapa hari, Gwen. Setelah itu, kau bisa berjalan-jalan ke mall dan salon!" Gwen terkikik.
Pasalnya, saat Gwen dan Maxim pergi ke mengunjungi rumah sang ayah tempo hari, pria itu tanpa sadar menunjukkan surga-surga dunia kecil yang menjadi kesenangan Gwen.
Demi menghindari kemacetan karena ada pelebaran jalan, Maxim mengajak Gwen melalui jalan alternatif yang merupakan sebuah kota kecil.
Di sana, Gwen bisa melihat berbagai macam aktivitas yang hampir sama persis seperti di Paris, meski dalam skala kecil. Ada beberapa mall, salon, dan kafe-kafe juga di tempat tersebut.
Gwen tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia bahkan sampai rela mencari petunjuk jalan melalui ponsel dan mencatatnya baik-baik.
"Cih, kau pikir, kau bisa mengurungku terus di tempat menyebalkan ini!" seru Gwen ketus. Suasana hatinya yang riang, membuat gadis itu bersenandung ceria.
Gwen kini tengah duduk di ruang televisi, untuk mengistirahatkan dirinya. Namun, sedetik kemudian, suara pecahan kaca tiba-tiba terdengar.
Gwen sontak mematung, tatkala mendapati kaca pintu geser yang ada di sampingnya pecah tak beraturan. Ketika gadis itu hendak berdiri, darrah segar tiba-tiba mengalir membasahi kening dan matanya.
__ADS_1
"Apa ya—" Gwen tak sempat menyelesaikan perkataannya, sebab gadis itu sudah terjerembab tak sadarkan diri.