
Sudah ada beberapa orang tetangga yang berkumpul di halaman rumah, saat Maxim tiba di sana. Mereka langsung menanyakan kabar Gwen yang tampak pergi dengan terburu-buru.
"Aku yakin, Gwen baik-baik saja. Mungkin dia sedang bermain di pelabuhan. Aku akan mencarinya ke sana," ujar Maxim, berusaha memberi penjelasan paling masuk akal yang terpikirkan olehnya.
Walau keraguan hinggap di wajah para tetangga, mengingat Gwen meninggalkan rumah dalam keadaan pintu terbuka, tapi mereka tetap berusaha memercayai keyakinan Maxim.
"Kalau begitu, cepat jemput dia, Max! Istrimu belum mengenal benar tempat ini dengan baik. Aku takut, dia akan tersasar nantinya." Hanna membuka suara. Wanita paruh baya itu tetap memberikan sekeranjang buah persik dan ikan, yang sejak tadi memang hendak dia berikan.
Maxim menerimanya dan berterima kasih. Pria itu masuk ke dalam rumah, setelah para tetangg berinisiatif membubarkan diri.
Hal pertama yang Maxim dapati begitu masuk ke dalam adalah kondisi rumah yang cukup berantakan. Pasalnya, Gwen sama sekali tidak membereskan bekas makan mereka.
Alhasil, Maxim menaruh semua piring kotor ke kitchen sink terlebih dahulu, sebelum kemudian pergi menuju kamar mereka.
Di sana, Maxim menemukan lemari bagian Gwen dalam keadaan terbuka. Namun, semua pakaian milik gadis itu masih tertata rapi di sana. Hanya satu yang hilang, yaitu tas kecil milik Gwen.
Satu-satunya tujuan Gwen yang terlintas di kepala Maxim saat ini adalah rumah orang tuanya sendiri.
Tak ingin membuang-buang waktu, pria bertubuh tinggi kekar itu langsung keluar menuju mobilnya. Dia tidak mempermasalahkan tujuan Gwen, dia hanya mengkhawatirkan keselamatan gadis itu.
...**********...
Gwen mengusap keringat yang mulai membanjiri tubuhnya. Gadis itu berhenti di sebuah halte tak terpakai untuk beristirahat.
Berbekal sebotol air mineral, Gwen nekat berjalan kaki mengikuti petunjuk jalan menuju terminal bus terdekat. Namun, bukannya terminal yang dia dapati, Gwen malah menemukan sebuah halte bus kosong di jalanan sepi ini.
"Haha ... dasar bodoh!" Gwen menertawakan dirinya yang kini tersasar entah di mana. Hendak kembali pun rasanya sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Satu-satunya harapan yang dia miliki adalah menunggu siapa pun yang lewat, untuk dimintai tumpangan menuju halte.
Akan tetapi, rupanya tidak mudah menemukan satu dua kendaraan di sana. Pasalnya, hingga lima belas menit berlalu belum ada satu pun kendaraan yang lewat.
Gwen mencoba membuka ponselnya untuk menghubungi Ronny. Barang kali dengan cerita tragisnya, pria itu akan sudi datang menjemput. Namun, malang tak dapat ditolak. Ponselnya kehabisan baterai.
"Arrghh! Maxim siaalaan!" maki Gwen keras. Dia benar-benar mengutuk pria yang telah menjadi suaminya tersebut. Kalau bukan karena menikahi Maxim, kehidupan Gwen tidak akan semenyedihkan ini.
Saat Gwen sibuk meratap, tiba-tiba sebuah mobil pick up berwarna kuning yang mundur dan berhenti persis di depannya. Gwen ternyata tidak sadar, bahwa mobil tersebut sempat bergerak melewati dirinya tadi.
__ADS_1
Melihat ada sesosok gadis cantik yang tengah berdiri sendirian di halte kosong, membuat Jack dan Allan, dua pria yang terkenal suka membuat onar tersebut, berseru kegirangan.
Mereka pun sepakat menghampiri gadis tersebut untuk diberikan tumpangan.
"Hai, gadis cantik, mengapa kau ada di tempat sepi ini sendirian?" tanya Jack dengan raut wajah seramah mungkin, sedangkan Allan fokus memerhatikan Gwen dari atas ke bawah. Dari penampilannya, dia yakin, Gwen bukan orang sini.
Gwen meringis. Wajahnya yang semula mendung, kini cerah seketika. "Aku tersasar. Bisakah kalian memberikan tumpangan ke terminal?" tanya gadis itu dengan wajah memelas.
Jack dan Allan saling bertukar pandang sejenak, sembari melempar senyum tipis nan mencurigakan.
"Baiklah, kebetulan tujuan kami berada tak jauh dari halte."
Mendengar jawaban tersebut, Gwen senang bukan kepalang. Tanpa memerdulikan identitas kedua orang asing itu, Gwen langsung masuk ke dalam mobil mereka.
"Omong-omong, kau ini dari mana, mau ke mana, Gwen?" tanya Jack, setelah mereka berkenalan.
"Hmm, aku sedang berkunjung ke rumah saudara di Wengberland, dan memutuskan untuk pulang sendiri." Gwen memilih untuk tidak mengatakan sejujurnya, sebab dia tak ingin kalau ternyata dua orang tersebut mengenali Maxim. Maklum saja, Wengberland bukanlah tempat yang besar, jadi siapa pun bisa saling mengenal satu sama lain.
"Oh, begitu rupanya," sahut Allan dengan wajah sumringah. Keduanya pun diam-diam saling bertukar pandang, seperti hendak merencanakan sesuatu.
Sementara di lain sisi, Maxim mempercepat mobil jeep yang dia kendarai. Kebetulan dia mendapat pinjaman dari kamp militer yang berada tak jauh dari sana.
"Kalau dia mengikuti petunjuk jalan ini, sudah pasti akan tersasar," gumam Maxim.
Pria itu pun memutuskan untuk pergi menuju jalan yang sesuai dengan papan petunjuk tersebut.
Tak ada satu pun kendaraan yang lalu lalang di sepanjang mata memandang. Dulu, jalanan tersebut sebenarnya sangat ramai. Terlebih, itu merupakan jalan satu-satunya menuju terminal. Namun, sejak pembangunan dua pabrik besar lima tahun lalu, jalanan akhirnya ditutup dan di alihkan ke tempat lain.
Itulah mengapa, jalanan ini sekarang jarang dilalui kendaraan umum.
Saat pria itu sibuk menoleh ke sana kemari, tanpa sengaja dia melihat sebuah mobil pick up berwarna kuning yang bergerak berlawanan arah.
Maxim sontak mengerutkan keningnya, tatkala mendapati sosok Gwen tengah duduk di antara kedua pria di dalam mobil tersebut.
Tanpa pikir panjang, Maxim segera memutar balik mobil yang dikendarainya untuk menyusul mereka.
"Awas!"
__ADS_1
Jack yang sedang bertukar pandang dengan Allan, di belakang punggung Gwen, tiba-tiba terkejut dengan suara teriakan gadis itu.
Saat menoleh ke depan, kedua pria tersebut terkejut, tatkala mendapati sebuah mobil jeep tiba-tiba berhenti menghadang. Beruntung, Jack dengan cepat masih bisa menginjak pedal rem tepat waktu.
"Jack, bukankah itu Jeep militer?" tanya Allan panik.
"Hei, kau baru saja berbuat sesuatu ya?" tuding Jack pada Allan.
Allan sontak terkesiap dan menggeleng keras. "Enak saja! Jangan-jangan kau!" seru pria itu tidak terima.
Saat keduanya sedang asyik berdebat, Gwen malah meringis nyaris menangis. Pasalnya, gadis itu mendapati sesosok pria yang sangat familiar, turun dari mobil jeep tersebut.
"Hancur sudah rencanaku!"
Mendengar perkataan Gwen, baik Jack mau pun Allan segera mengalihkan pandangan mereka ke depan.
Wajah mereka seketika pucat pasi, tatkala mendapati sosok Maxim di sana.
Pria itu kini berdiri tepat di depan pintu mobil. Hanya dengan satu jari telunjuknya saja, mereka tahu, bahwa Maxim meminta mereka untuk segera turun dari sana.
"E—eh, halo, Mr. Maxim Eginhard!" sapa Jack dan Allan bersemangat.
"Mau kalian bawa ke mana gadis itu?" tanya Maxim dingin, tanpa basa-basi.
Jack dan Allan menoleh sebentar ke arah Gwen yang masih saja duduk di dalam mobil dengan wajah tertunduk, sebelum kembali menatap Maxim.
"Anu, kami hanya memberi tumpangan pada gadis itu, Mr. Max. Anda tidak perlu khawatir. Benar, kan, bro!" Jack menyikut rusuk Allan keras, guna meminta persetujuan.
Allan refleks mengangguk sambil meringis. "Kami hanya ingin mengantar gadis itu ke terminal, Mr. Max!" serunya menegaskan.
Maxim memiringkan kepalanya, guna melihat Gwen lebih jelas. "Turun!" titah pria itu.
Mendapati suara dingin Maxim yang tidak pernah didengarnya, Gwen dengan gerakan takut-takut akhirnya keluar dari mobil.
"Anu, maaf, Mr. Max, kau menakuti gadis ini. Biarkan kami yang mengantarnya, Anda tidak perlu repot-repot menyampuri urusan kami," ujar Jack. Sebisa mungkin, dia tidak menampakkan raut kekesalan di wajahnya.
"Tentu aku harus menyampuri, jika itu menyangkut keselamatan istriku!" seru Maxim dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
Mendengar perkataan tersebut, Jack dan Allan terkejut bukan main. Wajah mereka sontak berubah sepucat kapas. Pasalnya, mereka baru saja akan berniat mengerjai istri, dari pria yang paling ditakuti di Wengberland tersebut.